Penjara Filipina diserang, 158 napi melarikan diri

Sejumlah narapidana di Penjara Distrik Cotabato Utara, Filipina
Sejumlah narapidana di Penjara Distrik Cotabato Utara, Filipina | AP Photo

Dalam waktu kurang dari sepekan, dua insiden besar terjadi di penjara yang digerogoti masalah serupa: pesakitan berlebih.

Kedua peristiwa yang hanya terpaut tiga hari itu melibatkan ratusan pelarian dan puluhan korban tewas.

Pada kejadian pertama, Minggu (1/1), kompleks hotel prodeo Anisio Jobim, Brasil, menjadi saksi bagi aksi berdarah yang berlangsung 17 jam. Aksi itu melibatkan para orang hukuman yang terhubung dengan geng berpengaruh di negeri itu, Familia do Norte dan Primeiro Comando da Capital, atau PCC.

Sekitar 60 narapidana terbunuh, dan beberapa di antaranya mati terpenggal.

Kemudian, terpisah jarak hampir 20 ribu kilometer dari Amazonas, lebih dari 150 napi melarikan diri dari Penjara Distrik Cotabato Utara di Kidapawan City, Filipina. Katalis utama aksi pelarian itu dicurigai menempel pada kelompok pemberontak Islam yang melancarkan serangan ke penjara di sekitar waktu dini hari.

Dilaporkan media Inggris, The Guardian, sekitar 100 orang bersenjata menyerbu bui butut di kawasan Filipina selatan itu, yang selama ini dikenal sebagai daerah kekuasaan para pemberontak berpandangan Islamis.

Kontak senjata selama dua jam dengan para sipir pun tak kuasa dielakkan dan berujung pada tewasnya seorang penjaga penjara.

"(Serangan itu) bertujuan membebaskan teman-teman seperjuangan mereka yang berada dalam pengawasan kami. Itu operasi pembebasan," ujar sang kepala penjara, Peter John Bongngat, dikutip laman The Guardian.

Menurut Bongngat, para penyerbu ditengarai sebagai faksi sempalan Front Pembebasan Islam Moro (MILF), gerombolan pemberontak Islam terbesar di Filipina.

Juru bicara MILF, Von al-Haq, menyatakan bahwa kelompok itu tidak mengetahui identitas para penyerang dan memastikan akan menghubungi para anggotanya untuk mendulang informasi.

Angka persis pelarian, 158 orang. Namun, seturut Bongngat, jumlah pasti yang terafiliasi dengan kawanan penyerang masih samar-samar.

"(Para pesakitan) mengambil kesempatan menyusul kuatnya bunyi salak senjata...mereka memanfaatkan kasur yang ditumpuk untuk melarikan diri," kata Bongngat.

Dilansir The Wall Street Journal, enam di antara pelarian tewas dan delapan lainnya kembali diringkus dan diempaskan ke balik terali besi.

Pembobolan penjara ini sudah kali ketiga dan menjadi yang terbesar dalam sepuluh tahun terakhir di Penjara Distrik Cotabato Utara.

Lebih dari 40 pesakitan angkat kaki pada 2007 setelah tiga perakit bom dilarikan oleh para gerilyawan. Empat tahun kemudian, kelompok perakit bom lain juga turut kabur.

Sementara, secara umum, daerah Filipina selatan memang punya sejarah pembobolan penjara.

Pada Agustus 2015, kelompok ekstremis yang mendukung ISIS membantu pelarian delapan tahanan dan 15 narapidana di Marawi, sebuah kota provinsi Mindanao.

Sementara itu, MILF, yang disebut-sebut dalam aksi pelarian kali ini, tengah menjalani proses pembicaraan damai dengan pemerintah Filipina. Namun demikian, terbentuknya sejumlah faksi sempalan menjadi ganjalan atas upaya diplomatis dimaksud.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR