PEMILU 2019

Penjualan E-KTP dikhawatirkan disalahgunakan dalam Pemilu

Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai temuan penjualan blangko E-KTP di Jakarta, Kamis (6/12/2018).
Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai temuan penjualan blangko E-KTP di Jakarta, Kamis (6/12/2018). | Dhemas Reviyanto /Antara Foto

Penjualan blangko KTP Elektronik (E-KTP) di pasaran dikhawatirkan akan disalahgunkan dalam Pemilihan Umum 2019. Penjualan bebas ini ditemukan di pasar umum dan di toko online.

Menurut penelusuran Kompas, di Pasar Pramuka Pojok, Salemba, satu lembar blangko E-KTP dipasarkan seharga Rp150 ribu untuk blangko E-KTP bekas dan Rp200 ribu untuk blangko E-KTP baru.

Menurut salah satu penjual, AN ia mendapat blangko dari perusahaan percetakan. "Untuk lokasinya, tidak bisa saya sebutkan, karena ini ‘rahasia negara’,” kata AN, seperti dinukil dari Kompas.com, Kamis (6/12/2018).

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menemukan penjualan di toko online. Salah satu penjual diketahui adalah anak pejabat di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.

Dirjen Dukcapil Kemendagri, Zudan Arif Fakrulloh menjelaskan motif anak itu hanya iseng. "Katanya iseng (motifnya). Tapi ini keisengan yang fatal karena bikin gaduh, penurunan trust (kepercayaan) itu kan ada. Padahal nggak terjadi jebolnya sistem karena pencurian biasa gitu," kata Zudan di Jakarta, Kamis (6/12/2018) seperti dikutip dari detikcom. Zudan menyebut anak tersebut menjual 10 blangko E-KTP dan mendapat Rp500 ribu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menilai praktik jual beli blangko E-KTP elektronik ini berbahaya lantaran berpotensi untuk disalahgunakan, terutama dalam pelaksanaan pemilihan umum.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang pemilihan pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota serta Undang-Undang Pemilu nomor 7 Tahun 2017 mengatur tentang penggunaan e-KTP sebagai syarat sah memilih bagi setiap warga negara.

"Ini bahaya kalau sampai ada E-KTP yang beredar asli tapi palsu, dalam artian misalnya bukan dikeluarkan oleh instansi yang berkompeten untuk itu dan ini memang bagi kami sangat mengkhawatirkan," ujar Komisioner KPU Viryan Azis di Jakarta, Kamis (6/12/2018) seperti dipetik dari CNN Indonesia.

Dia meminta kepada semua pihak untuk mencegah hal ini terulang hingga pemungutan suara pada 17 April 2019.

Pemerintah tak yakin bahwa penjualan ini terkait Pemilu. Zudan menyatakan, tindakan ini adalah pencurian biasa dan tak ada sistem yang jebol. "Tidak ada sistem yang jebol, ini ada tindak pidana umum. Di mana ada seorang anak mengambil blangko yang dibawa oleh ayahnya yang kebetulan Kepala Dinas Dukcapil di Kabupaten Tulang Bawang Lampung. Ayahnya sekarang sudah pensiun. Ini blangko yang dicetak Februari dan dikirim ke daerah Maret," ujar Zudan.

Selain itu, menurut Zudan, blangko yang dijual anak itu jumlahnya tak banyak, hanya 10. "Kalau untuk pemenangan Pileg-Pilpres nggak ngefek hanya 10 dan membuat KTP-nya menjadi KTP palsu kan, terus nyoblosnya mau di mana? Gitu, jadi ini tidak ada kaitannya dengan Pilkada kok," ujarnya.

Namun dari dua kubu calon presiden mengantisipasi masalah ini.

Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, Ferry Juliantono, meminta pemerintah segera menyelesaikan perkara ini. "Jangan sampai nanti ada DPT siluman di pemilu akibat pemerintah tidak becus membereskan persoalan E-KTP," kata Ferry dalam keterangannya, Kamis (6/12/2018).

Wakil Direktur Bidang Saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Lukman Edy, meminta Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyediakan alat pendeteksi keaslian e-KTP di hari pencoblosan.

Ia mengharapkan alat itu disiapkan pada di hari pencoblosan pada pukul 12.00-13.00 yang diperuntukan bagi pemilih tambahan. "Kalau Bawaslu sanggup dan siap menyiapkan aplikasi (pendeteksi) untuk menguji apakah E-KTP itu asli atau palsu ketika jam 12.00 - jam 13.00 itu, itu semua clear," kata Lukman di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

BACA JUGA