INDUSTRI PENERBANGAN

Penumpang gugat Lion Air Rp100 M karena tidak dapat kursi

Sejumlah calon penumpang antre naik ke pesawat maskapai Lion Air di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (5/7/2019).
Sejumlah calon penumpang antre naik ke pesawat maskapai Lion Air di Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (5/7/2019). | Jessica Helena Wuysang /Antara Foto

Seorang penumpang pesawat, Muhammad Chozin Amirullah, menggugat maskapai Lion Air senilai lRp100 miliar karena gagal terbang, setelah ditolak check-in (daftar ulang) oleh petugas di Bandara Soekarno-Hatta pada Juni lalu.

Chozin secara resmi mendaftarkan gugatan kepada PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) secara perdata ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) pada Rabu (9/10). Dalam gugatan dengan nomor perkara 612/Pdt.G/2019/PN Jkt.Pst, Chozin menilai Lion Air telah melakukan perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad).

Tak tanggung-tanggung, Chozin menggugat Lion Air untuk membayar ganti rugi senilai Rp 100.106.145.200. Jika Lion Air lalai mengganti kerugian negara itu, Chozin meminta agar aset milik maskapai berlogo singa itu disita.

"Dengan perincian kerugian material sebesar Rp 106.145.200 dan kerugian immateriil sebesar Rp 100.000.000.000 secara tunai, sekaligus, dan seketika paling lama 10 hari terhitung (saat) putusan ini diucapkan," bunyi gugatan Chozin seperti ada di laman SIPP PN Jakpus, Rabu (6/11/2019).

Selain Lion Air, Chozin juga menggugat perusahaan penjual tiket online Traveloka, PT Angkasa Pura II (Persero) dan Presiden RI Joko Widodo. Ia meminta Traveloka untuk tak menjual lagi tiket Lion Air di aplikasinya.

Kasus ini telah disidang pada 30 Oktober, namun ditunda karena pihak Traveloka tidak hadir. Sehingga sidang selanjutnya digelar pada Rabu (20/11) mendatang.

Kronologi kasus

Kasus ini bermula pada saat Chozin hendak mudik ke Pangkalpinang, Bangka Belitung sebelum Lebaran menggunakan pesawat Lion Air JT 616 rute Cengkareng- Pangkalpinang.

Dia memesan tiket penerbangan pukul 10.00 WIB dari terminal 1B Bandara Soekarno Hatta seharga Rp1.145.200. Namun ia ditolak masuk karena dianggap telat melakukan check-in dan tidak check-in online sehingga kursi sudah terisi penuh.

Padahal, dia sudah datang lebih awal untuk persiapan check-in dan tidak ada aturan untuk check-in online.

Petugas Lion berdalih penumpang sudah penuh. Padahal menurut Chozin keterangan dalam tiket elekronik menyebutkan jadwal terbang pukul 10.05 WIB pada 2 Juni dan tiba di tujuan pukul 11.30 WIB.

Akibatnya, tiket Lion Air yang dibelinya seharga Rp1.145.200 itu pun lenyap. Chozin kemudian membeli tiket maskapai lain di hari yang sama dengan harga fantastis. Sontak, Chozin mengaku rugi berkali-kali lipat.

"Kerugiannya berkali-kali. Seandainya hari biasa mungkin tiket pesawat Rp700.000. Ini libur lebaran jadi Rp 1 juta. Tapi akhirnya saya keluarkan lagi Rp5 juta. Jadi berkali-kali lipat ruginya," katanya dilansir dari Kompas.com.

Saat kasus ini mencuat, Lion Air telah memberikan jawabannya. Public Relations Lion Group, Ramaditya Handoko, membantah maskapainya menjual tiket tanpa kursi. Menurut dia, penerbangan JT 616 yang tiketnya sudah dibeli Chozin tersebut membawa 181 penumpang dewasa.

Namun dari data yang ada di Lion Air, menurut Ramaditya ada satu penumpang yang tidak ada di penerbangan tersebut.

"Data aktual kami menunjukkan bahwa penerbangan JT-616 terdapat satu penumpang terlambat dan tidak melakukan check-in. Petugas layanan darat sudah menginformasikan dan menjelaskan pelayanan sesuai SOP kepada penumpang tersebut," katanya melalui keterangan tertulis, Senin (3/6).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR