TRANSPORTASI MASSAL

Penumpang MRT gratis lewati target, 1 April mulai komersial

Penumpang keluar dari gerbong kereta MRT di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/3/2019).
Penumpang keluar dari gerbong kereta MRT di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/3/2019). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Mulai Senin (1/4/2019), Moda Raya Terpadu (MRT) akan memulai operasi komersial pada jalur tahap I. Artinya, masa perkenalan gratis telah selesai dan penumpang mulai membayar. Melihat antusiasme masyarakat DKI Jakarta selama masa percobaan, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta melihat masa depan menjanjikan.

PT MRT Jakarta memaparkan bahwa dalam empat hari awal pengoperasian (25-28/3), jumlah penumpang Ratangga--nama resmi kereta ini--telah mencapai total 332.184 orang, atau rata-rata 83.046 penumpang per hari. Jumlah tersebut melebihi target sebanyak 65.000 penumpang/hari selama periode gratis.

Rinciannya, pada Senin (25/3), penumpang yang naik tercatat 44.407 orang, lalu melonjak menjadi 95.466 orang sehari berikutnya. Pada Rabu (27/3), jumlah itu sedikit turun menjadi 92.711 orang, kemudian Kamis (28/3) naik lagi menjadi 99.600 orang.

PT MRT Jakarta memperkirakan jumlah tersebut naik menjadi 130.000 penumpang/hari pada dua hari terakhir pengoperasian gratis (30-31/3).

Dari sisi distribusi penumpang pada tiap stasiun--ada 13 stasiun dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia (HI)--Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P. Sabandar, memaparkan, 25,5 persen penumpang naik-turun di Stasiun Bundaran HI. Stasiun teraktif berikutnya adalah Lebak Bulus (11,9 persen) dan Dukuh Atas (10,7 persen). Sementara yang paling sedikit adalah Stasiun ASEAN (1,9 persen).

"Saya sangat optimistis bahwa ini adalah gambaran saat operasi," kata Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P. Sabandar.

Angka-angka menjanjikan tersebut memang terjadi pada masa operasi gratis, akan tetapi William menyatakan bahwa tarif yang telah diumumkan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Rp10.000 per 10 kilometer, mendapat tanggapan baik dari masyarakat.

Berdasarkan tarif tersebut, harga termurah yang dibayar penumpang adalah Rp3.000 sementara yang termahal pada jalur tahap I ini adalah Rp14.000.

"Dalam survei yang telah kita lakukan, tarif bukan tujuan utama orang naik MRT. Sebanyak 51 persen orang mengatakan naik MRT karena tepat waktu. Kemudian sekitar 20 persen naik MRT karena kenyamanan dan 10 persen karena integrasi. Hanya delapan persen yang berbicara soal tarif," terang William.

Soal tarif ini masih menjadi perdebatan antara beberapa anggota DPRD Jakarta dengan pemerintah provinsi. Walau Ketua DPRD Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi, dan Anies telah sepakat dengan angka tersebut, Wakil Ketua DPRD M Taufik memprotesnya karena tidak sesuai dengan hasil rapat pimpinan yang menetapkan Rp8.500 per 10 km.

Taufik bahkan meminta rapat pimpinan gabungan DPRD diulang untuk menganulir keputusan tarif tersebut.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mendukung tarif yang telah ditetapkan Anies karena masih dalam jangkauan yang diperkirakan dan sesuai dengan daya beli masyarakat.

Hingga Minggu (31/3) pagi, Peraturan Gubernur (Pergub) soal tarif MRT belum dirilis meski pada Sabtu (30/3), Anies menyatakan sudah selesai sejak Jumat (29/3) sore.

William menjelaskan bahwa pihaknya masih menunggu Pergub sebelum mengeluarkan prosedur terkait sistem tiket, meski persiapan operasional sudah mencapai tahap akhir.

Rencana operasi komersial

Direktur Operasi dan Perawatan PT MRT Jakarta, Muhammad Effendi, menjelaskan rencana operasi komersial yang akan dimulai pada 1 April.

"Kita akan operasikan tujuh rangkaian kereta dan satu cadangan dengan selang waktu keberangkatan antar-rangkaian kereta 10 menit dan waktu operasi dimulai pada 05.30 WIB hingga 22.30 WIB," tuturnya.

Pada 1 Mei 2019, MRT akan ditambah menjadi 14 rangkaian kereta dengan waktu operasi yang lebih panjang, mulai pukul 05.00 hingga 24.00. Pada jam sibuk (07.00-09.00 WIB) jarak keberangkatan antar-rangkaian adalah 5 menit, sementara di luar jam itu menjadi 10 menit.

Jumlah kereta yang beroperasi pada akhir pekan bakal dikurangi hingga hanya tujuh rangkaian dengan selang keberangkatan 10 menit.

Soal tiket, saat ini baru tersedia tiket harian satu tujuan (single trip) atau satu tap masuk dan keluar. Untuk tiket ini penumpang harus membayar deposit Rp15.000, yang bisa diuangkan lagi (refund) jika tiket dikembalikan di stasiun tujuan. Tiket tersebut juga bisa dipergunakan kembali setelah diisi ulang.

"Tiket berupa kartu uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank juga bisa dipergunakan. Tiket multi-trip sedang dalam proses perizinan oleh Bank Indonesia,” ujar Effendi.

PT MRT Jakarta juga telah merilis aplikasi MRT-J yang bisa di-install pada sistem operasi Android maupun iOS. Pengguna aplikasi dapat mengetahui waktu tempuh antarstasiun dan gerai-gerai yang terdapat di setiap stasiun. Selain itu, pengguna juga bisa mengetahui transportasi lain yang terkoneksi dengan stasiun MRT tertentu.

Pada aplikasi tersebut juga terdapat fitur saldo yang belum aktif dan kode QR. Keberadaan dua fitur tersebut mengindikasikan PT MRT Jakarta juga mempersiapkan sistem pembayaran elektronik (e-payment) untuk para penumpang.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR