INDUSTRI PARIWISATA

Penurunan batas atas belum angkat pariwisata

Sejumlah pengunjung menikmati suasana pantai Tanjung Bias, Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (1/5/2019).
Sejumlah pengunjung menikmati suasana pantai Tanjung Bias, Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (1/5/2019). | Ahmad Subaidi /AntaraFoto

Kebijakan penurunan tarif batas atas tiket pesawat ekonomi belum memuaskan beberapa pihak, salah satunya Kementerian Pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan besaran penurunan tarif batas atas masih belum membawa pengaruh signifikan terhadap kinerja pariwisata yang merosot dalam beberapa bulan terakhir.

Kebijakan ini kemungkinannya hanya mampu mengangkat kinerja pariwisata pada kisaran 10 persen.

Sementara, merujuk data PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) dan ASITA (Asosiasi Travel Agen Indonesia), penurunan kinerja sektor pariwisata akibat lonjakan harga tiket selama semester I/2019 bisa mencapai 30 persen.

Dalam pandangannya, kebijakan penurunan tarif batas tiket pesawat ekonomi tidak secara langsung membuat ongkos penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) turun. Padahal, jenis penerbangan ini cukup populer di kalangan wisatawan baik dalam dan luar negeri ketimbang jenis layanan penuh (full service).

“Saya mengharapkan tarif batas penerbangan LCC (low cost carrier) bisa diturunkan lagi,” kata Arief di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Arief berharap besaran harga jual tiket LCC bisa berada pada kisaran maksimal 40 persen dari tarif batas atas yang dipatok saat ini.

“Jadi untuk tarif, dulu kan anggap batasnya 100 persen, prakteknya (LCC) menjual 50 persennya. Nah, kalau tarif batas atasnya diturunkan 15 persen, berarti dia tinggal 85 persen. Jumlah itu dibagi dengan yang dulu rata-rata hanya 50 persen, itu masih lebih mahal,” ucap Arief.

Pihaknya mengaku telah menyampaikan permintaan ini kepada Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berulang kali, namun solusi yang diharapkan belum juga terwujud. “Saya rasa bisa lah untuk yang LCC (diturunkan),” harapnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia per Maret 2019 turun 1,82 persen dibandingkan Maret 2018. Meski jika dibandingkan dengan Februari 2019, jumlah kunjungan wisman tercatat meningkat 5,9 persen.

Merujuk laporan PHRI dan ASITA yang dikutip Arief, beberapa destinasi wisata yang paling terpukul umumnya berada di luar Jawa seperti Sumba (Nusa Tenggara Timur), Lombok (Nusa Tenggara Barat), dan Medan (Sumatra Utara).

“Yang di dalam Jawa memang tidak begitu drastis karena mereka masih bisa menggunakan jalur darat,” tukas Arief.

Di sisi lain, penurunan jumlah penumpang angkutan udara untuk tujuan domestik sebenarnya telah terpantau sejak 2018.

Jumlah penumpang angkutan udara domestik per Januari 2018 terpantau turun 7,6 juta orang atau 8,65 persen dibanding bulan sebelumnya. Penurunan tertinggi terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dan disusul Bandara Internasional Juanda, Jawa Timur.

LCC mengikuti full service

Sejumlah pelaku pariwisata NTB berada dekat pesawat AirAsia dengan desain bertemakan Lombok usai peresmian hub baru AirAsia di Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (2/5/2019).
Sejumlah pelaku pariwisata NTB berada dekat pesawat AirAsia dengan desain bertemakan Lombok usai peresmian hub baru AirAsia di Lombok International Airport (LIA) di Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (2/5/2019). | Ahmad Subaidi /AntaraFoto

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pada dasarnya penurunan tarif batas atas tiket pesawat ekonomi untuk penerbangan full service pada akhirnya akan diikuti oleh LCC.

Di tempat yang sama dengan Arief Yahya, Budi mengatakan logika itu bisa terukur dari persaingan pasar penerbangan yang berlaku saat ini.

“Mekanisme yang terjadi, otomatis kalau full service dikurangi atau dia turun, LCC juga akan ikut turun,” kata Budi.

Dalam hitungannya, penurunan tarif LCC sebagai dampak dari penurunan batas atas tiket ekonomi bisa mencapai 50 persen. Penurunan itu diprediksi bakal mulai terasa pada pekan depan.

Sementara itu, sosialisasi untuk tarif batas atas full service yang diturunkan pada kisaran 12-16 persen sudah mulai dilakukan. Sehingga, Rabu (15/5/2019), saat kebijakan itu mulai berlaku, maskapai bisa langsung menyesuaikannya.

“Diputuskan bahwa tarif batas atas kita koreksi antara 12 hingga 16 persen, namun rata-rata pengurangannya 14 sampai 16 persen,” tukas Budi.

Kendati begitu, Budi mengakui bahwa tidak akan ada sanksi bagi maskapai yang tidak menurunkan tarifnya selama masih berada di batas yang ditentukan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR