NERACA PERDAGANGAN

Penurunan impor sumbang neraca perdagangan surplus

Kapal melintas saat berlangsung bongkar muat peti kemas di pelabuhan peti kemas Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (10/11/2015). Badan Pusat Statistik menyebutkan kinerja ekspor Indonesia pada kuartal III 2015 minus 0,69 persen dan impor minus 6,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kapal melintas saat berlangsung bongkar muat peti kemas di pelabuhan peti kemas Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (10/11/2015). Badan Pusat Statistik menyebutkan kinerja ekspor Indonesia pada kuartal III 2015 minus 0,69 persen dan impor minus 6,11 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. | Sigid Kurniawan /ANTARAFOTO

Surplus neraca peradagangan turun tipis pada Oktober 2015 di saat sebagian besar ekonom memperkirakan terjadinya penyusutan signifikan. Badan Pusat Statistik melaporkan aktivitas perdagangan internasional Indonesia sepanjang Oktober surplus devisa senilai USD1,01 miliar, turun dari surplus USD1,02 miliar pada September.

Surplus devisa itu terdiri dari nilai ekspor USD12,08 miliar atau turun 4 persen dan nilai impor USD11,07 miliar atau turun 4,27 persen. Nilai ekspor Indonesia sepanjang Oktober turun 20,98 persen dibandingkan tahun lalu, sedangkan nilai impor turun 27,81 persen.

Dilansir Kompas.com, Kepala BPS Suryamin mengatakan, surplus neraca bulan Oktober 2015 adalah yang tertinggi kedua setelah Oktober 2011 yang mencapai USD1,24 miliar.

"Secara kumulatif, Januari-Oktober 2015 neraca perdagangan RI mengalami surplus USD8,16 miliar," kata Suryamin.

Surplus neraca perdagangan RI selama sepuluh bulan pertama tahun ini didapat dari kumulatif ekspor sebesar USD127,22 miliar, sedangkan impornya USD119,05 miliar.

Meski begitu, sajian data neraca perdagangan Oktober ini belum mampu mengangkat nilai tukar rupiah ke level yang lebih baik. Pada perdagangan Selasa, Rupiah hanya bergerak tipis dari pembukaan di level 13,683 per dolar AS dari penutupan di hari sebelumnya, yakni 13,749.

"Namun ini memang karena penurunan impor kita lebih dalam dan bukan karena ekspor yang membaik," kata ekonom Bank Permata, Josua Pardede kepada Kontan.co.id.

Karena itu, lanjut Josua, efek yang ditimbulkan tidak akan sekuat dari eksternalnya.

Suryamin menyebutkan, penurunan ekspor pada Oktober 2015 ini disebabkan menurunnya ekspor migas sebesar 5,09 persen dari USD1,45 miliar di Oktober 2014 menjadi USD1,38 miliar. Demikian juga untuk nonmigas, BPS mencatat ekspor non migas turun 3,86 persen yaitu dari USD11,13 miliar di Oktober 2014 menjadi USD10,7 miliar.

"Penurunan ekspor migas itu disebabkan oleh menurunnya minyak mentah 32,15 persen, kemudian hasil minyak 11,21 persen. Tapi ada yang bagus, ekspor gas naik 16,92 persen," sebut dia.

Sementara untuk, penurunan impor pada bulan Oktober 2015 ini, Suryamin mengatakan, hal itu lantaran penurunan impor nonmigas dan migas sekitar USD337,7 juta dan USD155,3 juta. "Penurunan impor migas dipicu oleh menurunya nilai impor minyak mentah USD142,2 juta dan hasil minyak USD90,3 juta. Sebaliknya nilai impor gas meningkat USD77,2 juta," ujar dia.

Tabel neraca perdagangan Indonesia (dalam USD juta)

Bulan

Nilai

Oktober

+1.010

September

+1.017,20

Agustus

+433,8

Juli

+1.383,90

Juni

+528

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR