Penurunan tarif tol masih tunggu kajian insentif pajak

Foto udara jalan Tol Solo-Kertosono di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (20/5/2018).
Foto udara jalan Tol Solo-Kertosono di Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (20/5/2018). | Hafidz Mubarak A /ANTARAFOTO

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan rencana penurunan tarif tol yang sedang digodok pemerintah tidak akan mencederai kontrak yang diteken pemerintah dengan swasta.

Oleh karenanya saat ini pihaknya tengah membahas insentif perpajakan bagi para Badan Usaha Jalan Tol (BUJT). Insentif akan berupa fasilitas libur pajak (tax holiday) bagi investor di tiga ruas tol, yakni Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, dan Tol Kertosono-Mojokerto.

Mengutip detikcom, insentif ini diberikan apabila perpanjangan masa konsensi masih dinilai kurang bagi para badan usaha yang bersedia menurunkan tarif tol.

Usulan perpanjangan hak konsesi pengelolaan jalan tol kepada badan usaha sudah pernah diungkapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Opsinya, masa konsesi itu bisa diperpanjang dari 35-40 tahun menjadi 50 tahun.

"Kita akan lihat prinsip-prinsipnya, pertama untuk kepastian investor, privat sektor yang sudah menanamkan. Kita lihat bagaimana kontrak awalnya mereka dari sisi tingkat pengembaliannya," sebut Sri Mulyani.

Dengan begitu, kebijakan penurunan tarif jalan tol menguntungkan baik untuk masyarakat pengguna jalan tol, maupun investor yang berusaha di sektor jalan tol. Sri Mulyani menjanjikan kajian tersebut bisa rampung dalam satu atau dua minggu ke depan.

Rencana penurunan tarif tol merupakan permintaan Presiden Joko "Jokowi" Widodo usai mendengar keluhan langsung para pengusaha yang mengandalkan angkutan logistik untuk menjalankan bisnisnya, pada awal tahun.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu berharap permintaannya bisa terlaksana pada akhir Maret 2018.

Sejumlah jajaran kementerian kemudian menindaklanjuti permintaan ini dengan mengkaji penurunan tarif di 39 ruas tol yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono berujar, penurunan tarif bisa mencapai 38 persen, terutamanya untuk golongan IV dan V (truk empat gandar dan truk lima gandar), dengan perkiraan presentase kendaraan di dua golongan tersebut hanya berkisar 3 persen.

Sementara, sebanyak 83 persen kendaraan di jalan tol masuk kategori golongan I (mobil sedan, jip, pickup/truk kecil, dan bus). Sekitar 10 persen masuk golongan II (truk dua gandar), dan 4 persen golongan III (truk tiga gandar).

Selain penurunan tarif, Kementerian PUPR juga mengkaji opsi penyederhanaan golongan, yakni dengan menggabungkan golongan III, IV, dan V atau II dan III, atau IV dan V.

Namun, hingga kini kajian tersebut masih berlangsung dan belum ada sinyal akan diumumkan hasilnya.

Di sisi lain, sejumlah operator jalan tol juga mengaku belum mengetahui bentuk kebijakan pemerintah terkait penurunan tarif tol.

Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Desi Ariyani, hanya mengetahui bahwa pemerintah akan tetap menjaga kepastian pengembalian investasi meski ada penurunan tarif dan sejumlah kompensasinya.

"Pemerintah akan beri insentif dari defisit cashflow itu. Kami tunggu dari Menteri Keuangan soal insentif itu," sebut Desi dalam detikcom.

Sementara itu, pengamat ekonomi Indosterling Capital, William Hanley menilai, penurunan tarif tol tak akan berdampak signifikan terhadap turunnya ongkos logistik, sebab banyak faktor lain yang memengaruhi hal tersebut.

Salah satunya, sebut William dalam KOMPAS.com, adalah efektivitas jalan tol terhadap ongkos logistik semakin berkurang bukan hanya karena tarif mahal, melainkan juga tingkat kemacetan yang semakin parah.

"Ini patut disayangkan. Apalagi, jalan Tol Jakarta-Cikampek merupakan urat nadi utama perekonomian Indonesia," tutur William.

Kemacetan yang semakin parah membuat mobilitas angkutan semakin terbatas. Dalam kondisi lancar, sebuah kendaraan bisa melayani pengangkutan barang sebanyak tiga atau empat kali. Akan tetapi, kemacetan bisa membuat jumlah perjalanan berkurang hingga dua atau bahkan satu kali angkut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR