TUJUAN WISATA

Penutupan Taman Komodo di antara wacana dan kejelasan

Sejumlah wisatawan mengabadikan seekor komodo di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Jum'at (7/12/2018).
Sejumlah wisatawan mengabadikan seekor komodo di Pulau Rinca, Kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, Jum'at (7/12/2018). | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) berencana menutup Taman Nasional Komodo (TNK) dari kunjungan wisatawan selama satu tahun. Namun, rencana itu tidak ketahuan kapan akan dilakukan.

"Pemerintah NTT akan melakukan penataan terhadap kawasan Taman Nasional Komodo agar menjadi lebih baik, sehingga habitat komodo menjadi lebih berkembang," kata Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, dilansir Antaranews, Jumat (18/1/2019).

Viktor menyebutkan bahwa penutupan adalah upaya untuk meningkatkan populasi komodo dan rusa sebagai rantai mangsanya. Hingga Desember 2018, jumlah komodo di Pulau Rinca -- bagian dari TNK -- mencapai 1.500 ekor. Sedangkan di Pulau Komodo, populasinya mencapai 1.300 ekor.

Selain untuk meningkatkan populasi komodo di Kabupaten Manggarai Barat, ujung barat Pulau Flores, penutupan TNK juga untuk meningkatkan ukuran tubuh Komodo yang dinilai semakin kecil.

Viktor menduga tubuh komodo yang mengecil adalah dampak dari populasi rusa yang berkurang karena perburuan ilegal. Padahal rusa adalah rantai makan utama Komodo.

Untuk membenahi TNK, Pemprov NTT sudah menyiapkan anggaran Rp100 miliar. "Kalau dikelola oleh Pemerintah Pusat, tentu akan sedikit bermasalah karena rentang kendalinya jauh. Kalau diserahkan ke provinsi, maka tahun 2019 kita langsung anggarkan Rp 100 miliar," kata Viktor dikutip Kompas.com, Rabu (16/1).

Kendati demikian, Viktor tak pernah mengungkapkan waktu persis penutupan TNK. Bahkan bukan kali ini saja Viktor menyatakan rencana penutupan sementara TNK.

Pos Kupang, 22 November 2018, pernah mengabarkan rencana Viktor untuk menutup TNK. Ketika itu, Viktor mengajukan sejumlah alasan.

Pertama, TNK adalah lokasi unik dan satu-satunya di dunia sehingga pengunjung seharusnya disaring dan bukan dibuka sembarangan. Kedua, Viktor ingin pengunjung harus membayar minimal $500 AS atau sekitar Rp7,1 juta untuk akses masuk ke TNK.

Kepala Dinas Pariwisata NTT, Marius Jelamu, menjelaskan bahwa $500 adalah harga bagi wisatawan asing. Sementara tarif untuk wisatawan domestik adalah S100 atau sekitar Rp1,4 juta.

"Ini tempat langka, sehingga hanya khusus bagi mereka yang cukup uang saja (yang boleh datang)," kata Viktor.

Selain itu, Viktor akan menyerahkan TNK ke Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) agar Pendapatan Asli Daerah (PAD) kabupaten itu bisa mencapai Rp1 triliun.

"Masa PAD di Mabar hanya Rp100 miliar. Saya mau Rp1 triliun. Manggarai Barat bupatinya orang top, wakil bupatinya hebat," tukas Viktor.

Jadi, ini memang rencana lama yang tak kunjung terwujud. Bahkan Kepala Balai TNK, Budhy Kurniawan, menyatakan tak ada rencana penutupan kawasan wisata konservasi Kepulauan Komodo dalam waktu dekat.

"Saat ini pengelolaan Taman Nasional Komodo berjalan seperti biasa," ujar Budhy kepada Tempo melalui pesan pendek, Minggu (20/1).

Budhy mengaku belum pernah memperoleh kabar resmi dari Pemprov NTT soal rencana penutupan TNK. Untuk sementara pihaknya sedang melakukan kajian carrying capacity untuk menghitung daya muat komodo di TNK.

Di sisi lain, rencana penutupan TNK yang belum jelas kapan akan dilakukan ini sudah ditentang oleh sejumlah pengusaha jasa wisata di Labuan Bajo, NTT. Bahkan seorang pengusaha bernama Hasdin menilai rencana Viktor masih absurd alias tidak jelas.

Menurut Hasdin, dalam lansiran detikcom, seharusnya Pemprov NTT memperketat pengamanan agar rusa tidak diburu secara ilegal. Penutupan TNK, menurutnya, tidak berpengaruh terhadap populasi rusa.

"Kalau demi meningkatkan populasi rusa yang katanya dicuri, bukan harus ditutup. Tapi harus diperketat pengamanannya. Aneh saja kalau ditutup," tutur Hasdin.

Protes juga diucapkan Guri Ridola, pengusaha wisata di Labuan Bajo. Ia menilai wacana Viktor ngawur.

"Kalau sumber masalahnya rusa berarti itu masalah perburuan liar. Ya pengamanan ditingkatkan! Apa hubungannya dengan wisata sampai ditutup segala?" keluh Guri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR