KINERJA PLN

Penyebab listrik padam di barat Jawa masih misterius

Personel Tim Labfor Mabes Polri Cabang Semarang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) peristiwa ledakan yang diduga akibat loncatan arus jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV interkoneksi Jawa-Bali yang melintang di Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/4/2019).
Personel Tim Labfor Mabes Polri Cabang Semarang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) peristiwa ledakan yang diduga akibat loncatan arus jaringan transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV interkoneksi Jawa-Bali yang melintang di Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/4/2019). | Aji Styawan /Antara Foto

Penyebab padamnya aliran listrik di bagian barat Pulau Jawa pada Minggu-Senin (4-5/8/2019) belum jelas. Bahkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai penguasa strum di Indonesia pun simpang siur soal pohon (sengon) sebagai penyebabnya.

Pada awalnya, PLN sempat menyebut bahwa penyebab padamnya listrik adalah gangguan pada gas turbin 1 sampai 6 di PLTUdi Suralaya dan PLTG di Cilegon, Banten. PLN meralat dengan menyatakan penyebabnya adalah gangguan pada transmisi Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV Ungaran dan Pemalang di Jawa Tengah.

Kemudian pada Senin (5/8), Executive Vice President Corporate Communication & CSR PLN I Made Suprateka membantah padamnya listrik secara massal itu akibat sabotase. Suprateka kemudian menunjuk sebuah pohon setinggi 9 meter di Ungaran sebagai pangkal masalah.

“Faktanya adalah terjadi di Ungaran (Jawa Tengah), itu SUTET 500 kilovolt (kV) itu ada berdekatan dengan pohon. Nah pohon ini mencapai ketinggian 9 meter. Ini menyebabkan adanya hubungan singkat kebakaran di sana namun tidak besar, kecil namun membuat jaringan rusak fatal," katanya kepada Kumparan.

Akan tetapi Manajer Komunikasi PLN UID Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Haris, menegaskan kabar soal pohon sebagai penyebab blackout adalah hoaks.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Intan Cahyani pun membantah penyebabnya adalah pohon (sengon). Sampai sekarang, ujar Sripeni, PLN masih mencari tahu apa penyebab persis insiden yang membuat masyarakat serta Presiden Joko Widodo marah dan dunia usaha mengalami kerugian miliaran rupiah.

Sripeni bahkan menegaskan bahwa penyebabnya tidak tunggal dan kompleks sehingga PLN butuh waktu untuk memastikannya. "...mohon izin berikan kami waktu untuk melakukan investigasi untuk melakukan assesment menyeluruh," katanya dipetik Liputan6.com, Selasa (6/8).

Di sisi lain, rujukan pohon sebagai biang keladi pemadaman listrik lalu menjadi fokus utama. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerjunkan inspektur ketenagalistrikan untuk mengecek langsung apakah benar pohon sengon penyebabnya.

Sedangkan Mabes Polri melakukan penyelidikan terhadap lokasi pohon termaksud berada. Polri juga meminta keterangan dari empat orang petugas PLN dan diperoleh informasi bahwa penyebabnya adalah faktor alam.

Diberitakan Tribunnews, Rabu (7/8), Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo bahkan tidak menutup kemungkinan faktor human error. Semua kemungkinan sedang didalami dan prosesnya butuh waktu.

"Artinya tim butuh proses yang cukup panjang. Bukan hanya dari mabes, tapi juga pakar dan ahli sesuai kompetensi masing-masing. Dari investigasi itu, baru dibuat kesimpulan," kata Dedi.

Namun pada Senin (5/8), Dedi sempat mengatakan bahwa dugaan penyebab adalah faktor alam dan teknis tanpa ada faktor human error atau sabotase. Informasi ini diperoleh Dedi setelah tim dari Polda Jateng melakukan pengecekan ke lokasi menara transmisi di Ungaran.

Padam karena pohon

Blackout karena pohon sebenarnya pernah terjadi di negara bagian New York, Amerika Serikat (AS), pada 14 Agustus 2003. Pemadaman listrik membuat kota New York dan delapan negara bagian AS serta kawasan tenggara Kanada gelap gulita.

Sebanyak 8,2 juta jiwa warga New York dan lebih dari 50 juta orang lainnya terdampak. Lampu lalu lintas dan kereta bawah tanah pun tak bisa beroperasi.

Menurut penyelidikan petugas gabungan AS dan Kanada, pemadaman itu disebabkan oleh multi-sebab --termasuk human error. Persoalan diawali oleh gardu listrik di utara Ohio kelebihan beban sehingga harus dimatikan.

Namun, alarm yang seharusnya berbunyi justru gagal bekerja karena ada kekacauan sistem. Sementara di sisi lain, menurut NASA, jaringan kabel mengalami peningkatan suhu (overheat) lantaran ada pohon yang menyebabkan arus pendek.

Pemadaman listrik massal di AS bukan cuma sekali itu. Bahkan pada Juli 2019, New York kembali mengalaminya yang antara lain menyebabkan konser musik Jennifer Lopez harus mengalami penjadwalan ulang.

Dua hari setelah New York, ibu kota AS Washington, DC, pun mengalami blackout pada 27 Juli. Sedangkan sebulan sebelumnya, pemadaman listrik terjadi di separuh Amerika Selatan meliputi Argentina, Uruguay, Paraguay, dan sebagian Cile. Total sekitar 44 juta orang terdampak insiden itu.

Penyebabnya pun cukup misterius. Kementerian Energi Argentina menyalahkan pasokan dari pembangkit listrik hidro di Sungai Parana. Namun, hal itu juga belum bisa dipastikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR