Penyebab terbaliknya kapal pengangkut TKI di Malaysia

Ilustrasi pencarian korban kapal.
Ilustrasi pencarian korban kapal. | Wallace Woon /EPA

Keduataan Besar RI di Malaysia memastikan 13 orang WNI tewas dalam musibah terbaliknya kapal di perairan laut pantai Kalise, Sungai Tengah, Bandar Penawar Kota Tinggi, Johor, Malaysia. "Mereka terdiri 9 perempuan dan 4 laki-laki," kata Dubes Indonesia untuk Malaysia Herman Prayitno seperti ditulis Sindonews.

Kapal yang diperkirakan mengangkut 35 orang TKI ilegal itu tenggelam karena dihantam ombak setinggi 3 meter.

Tempo menulis, kronologi penemuan 13 jenazah itu setelah KJRI menerima informasi dari kepolisian pada Selasa (26/1/2016) sekitar pukul 10.00. Setelah menerima informasi itu, KJRI Johor Bahru mengirim dua anggota satgas perlindungan. "Saat ini mereka sudah berada di tempat untuk menyaksikan proses evakuasi jenazah yang dibawa ke RS Sultan Ismail, Pandan," kata Marsianda, Pelaksana Fungsi Konsuler 1 KJRI Johor Bahru.

Herman menduga, kapal itu berasal dari perairan Indonesia dan masuk ke perairan Malaysia secara ilegal.

Peristiwa tenggelamnya kapal yang mengangkut WNI ini juga pernah terjadi September 2015. Saat itu sebanyak 14 orang tewas karena kapal yang ditumpanginya tenggelam di perairan Selat Malaka.

Anggota Malaysian Maritime Enforcement Agency (MMEA) Aliyas Hamdan menyebut kapal yang diperkirakan membawa 70 penumpang tersebut ditemukan di pesisir wilayah Selangor, sebelah barat Malaysia.

Kapal yang seluruh penumpangnya adalah warga negara Indonesia ini bertolak dari Sabak Bernam di Selangor, Malaysia, menuju ke Sumatera.

BBC Indonesia menulis, sejumlah peristiwa ini mengingatkan akan "jalur gelap" yang menghubungkan daratan Malaysia dan Indonesia. Aparat keamanan Malaysia sepertinya tak mampu menyentuh pelabuhan-pelabuhan kecil yang ada di sepanjang jalur yang dipakai TKI untuk pintu keluar-masuk.

Menurut Khairuddin Harahap, WNI yang telah menetap di Malaysia lebih dari 30 tahun, jalur perdagangan Malaysia-Sumatera melalui pelabuhan-pelabuhan kecil ini sudah berlangsung lama. "Ini jalur tradisional," ungkapnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR