KASUS E-KTP

Penyesalan dan permintaan maaf Andi Narogong

Terdakwa korupsi KTP elektronik Andi Agustinus alias Andi Narogong  dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (14/12/2017).
Terdakwa korupsi KTP elektronik Andi Agustinus alias Andi Narogong dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (14/12/2017). | Rosa Panggabean /Antara Foto

Penyesalan dan permintaan maaf mungkin sedikit lebih baik ketimbang mengaku sakit dalam kasus korupsi e-KTP yang berdampak pada jutaan orang di Indonesia.

Penyesalan dan permintaan maaf itu terlontar dari terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong dalam nota nota pembelaan atau pleidoi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Dalam pembelaan pribadi yang disampaikan secara lisan, Andi mengakui kesalahannya. Ia juga menyampaikan penyesalan kepada masyarakat yang dirugikan dalam proyek e-KTP.

"Saya menyesal telah melukai perasaan seluruh bangsa Indonesia, di mana tadinya bangsa ini mempunyai cita-cita sangat mulia untuk program ketunggalan identitas yang membuat bangsa ini besar," ujar Andi dalam pleidoinya dikutip Kompas.com.

Andi mengakui bahwa ia dan teman-temannya telah melakukan suatu perbuatan yang tercela. Andi berharap kasusnya ini menjadi pelajaran bagi dirinya dan orang lain. Ia berharap kejadian serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

"Saya tidak menyalahkan orang lain. Saya tidak membela diri saya lebih sedikit, atau lebih banyak. Saya mengaku salah, dan menyesal atas kesalahan saya. Apa yang terjadi adalah teguran Tuhan lewat tangan KPK, tangan yang mulia, semoga saya menjadi manusia yang lebih baik," ujar Andi.

Setelah pembacaan pleidoi Andi Narogong, jaksa penuntut umum pada KPK tidak akan mengajukan replik atau tanggapan atas pleidoi. Hakim akan membacakan vonis terhadap Andi Narogong pada Kamis, 21 Desember 2017.

Andi Narogong dituntut 8 tahun penjara dan denda Rp1 miliar subsider 6 bulan kurungan. Andi juga dituntut membayar uang pengganti $2.150.000 AS dan Rp1,1 miliar.

Dalam perkara ini Andi dinilai menguntungkan diri sendiri senilai 2,5 juta dolar AS dan Rp1,18 miliar dari total kerugian negara sebesar Rp2,314 triliun yang berasal dari jumlah anggaran sebesar Rp5,9 triliun.

Tuntutan jaksa itu telah mempertimbangkan Andi sebagai saksi yang bekerja sama atau justice collaborator. Andi dianggap kooperatif dan pengakuannya diharapkan dapat menyeret pelaku dalam penggarong duit proyek e-KTP.

Dalam kasus ini, dua pejabat Kementerian Dalam Negeri, Irman dan Sugiharto juga mengajukan diri sebagai justice collaborator. Keduanya telah divonis mengembalikan uang ke KPK.

Pada sidang Kamis (30/11/2017), Andi pernah menguak peran Setya Novanto yang meminta jatah melalui mantan Bos Gunung Agung, Made Oka Masagung. Menurut Andi, sudah ada duit $7 juta AS (Rp95 miliar) yang diserahkan ke Anggota DPR.

Sikap terbuka, penyesalan, dan permohonan maaf itu berbeda dengan terdakwa lainnya, Setya Novanto. Dalam sidang perdana, Rabu (13/12/2017) lalu, mantan Ketua DPR ini bahkan memainkan peran "drama bisu" dengan tak menjawab pertanyaan hakim. Novanto mengaku sakit meskipun dokter menyatakan sehat.

Drama bisu tak membuat hakim menunda sidang perdana. Hakim akhirnya membuat keputusan. Hakim mengutip KUHAP yang menyatakan kalau terdakwa tidak menjawab pertanyaan, hakim akan mengingatkannya dan melanjutkan pengadilan. Hakim mempersilakan jaksa membacakan surat dakwaannya.

Jaksa penuntut umum pun akhirnya membacakan surat dakwaannya. Novanto didakwa melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek pengadaan e-KTP. Novanto didakwa menerima duit total $7,3 juta AS.

Pembacaan surat dakwaan itu sekaligus menandai gugurnya sidang praperadilan yang diajukan Novanto. Pada Kamis (14/12/2017), Hakim tunggal Kusno memutuskan gugatan Novanto di praperadilan gugur karena pembacaan dakwaan pada sidang pokok perkara telah berlangsung.

Kasus e-KTP baru menjerat enam orang sebagai tersangka maupun sudah divonis hukuman. Meraka adalah Irman, Sugiharto, Andi Narogong, anggota DPR Markus Nari, Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sugihardjo, serta Setya Novanto.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR