KETENAGAKERJAAN

Peran perempuan bekerja penting, tapi jumlahnya minim

Sejumlah pencari kerja mendaftar lowongan kerja pada acara Job Fair 38 di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (14/2/2019).
Sejumlah pencari kerja mendaftar lowongan kerja pada acara Job Fair 38 di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (14/2/2019). | Aloysius Jarot Nugroho /ANTARA FOTO

Jumlah perempuan Indonesia dalam dunia kerja khususnya sebagai eksekutif dan pebisnis masih sangat sedikit. Padahal, kontribusi mereka bagi perusahaan tempatnya bekerja maupun masyarakat sangat nyata.

Hal itu terungkap lewat dua riset terbaru oleh perusahaan MarkPlus dalam Women & E-Commerce Survey 2019, dan laporan tahunan Grant Thornton—penyedia jasa audit, tax, dan advisory global—bertajuk Women in Business 2019.

Laporan survei Grant Thornton yang dilakukan di 37 negara menempatkan Indonesia di peringkat dua setelah India sebagai negara dengan posisi manajemen senior perempuan paling sedikit.

Berdasarkan survei, masih ada dua persen perusahaan Indonesia yang seluruh posisi manajemen seniornya dikuasai laki-laki, dengan 98 persen lain setidaknya memiliki satu perempuan pemegang posisi strategis kepemimpinan perusahaan.

Posisi tertinggi dengan populasi perempuan terbanyak sebesar 50,4 persen adalah Chief Financial Officer (CFO). Disusul Human Resources Director (Direktur Sumber Daya Manusia) berjumlah 26 persen dan CMO (Chief Marketing Officer) di kisaran 18,9 persen.

Sejak lama, kuantitas perempuan di tempat kerja lebih rendah dibanding laki-laki. Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2016 mengungkap dari 1.000 penduduk Indonesia usia produktif, jumlah laki-laki bekerja adalah 407, sedangkan perempuan 254.

Meski begitu, "Berbagai posisi yang ditempati di manajemen senior perusahaan menandakan peran para wanita di berbagai bidang semakin besar untuk membawa perusahaan memiliki kinerja lebih baik," ujar Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia.

Data survei untuk Indonesia yang disajikan menjelang Hari Kartini ini merupakan bagian dari laporan Grant Thornton International per Maret 2019.

Laporan menyimpulkan peran eksekutif perempuan di bisnis global makin besar, dan khususnya seluruh negara ASEAN termasuk Indonesia telah melakukan upaya perbaikan dalam mengentaskan kesenjangan gender di tempat kerja.

Menurut Survei, upaya yang paling banyak dilakukan perusahaan di Indonesia antara lain memungkinkan fleksibilitas dunia kerja, dan memastikan akses peluang kerja yang setara.

Hal ini salah satunya bisa terlihat dari nilai upah perempuan yang melebihi laki-laki di sejumlah bidang pekerjaan.

Menilik laporan 2016 oleh Jobplanet Indonesia dalam infografik Beritagar.id, rerata gaji staf perempuan di 3 bidang pekerjaan seperti keteknikan, hukum, serta penelitian dan pengembangan (litbang) sekitar 10 persen lebih tinggi dibanding laki-laki.

Pada aras manajer persentasenya bahkan lebih tinggi. Yakni keteknikan (+13,2 persen), keuangan dan akuntansi (+10,0 persen), dan litbang (+14,1 persen).

Perhitungan survei diperoleh dari gaji bersih tanpa tunjangan dan bonus, melibatkan 60.000 responden di 35 provinsi di Indonesia.

Lalu, walaupun perempuan hanya mendominasi tiga dari 17 sektor pekerjaan—jasa kesehatan dan tenaga sosial, jasa lainnya, serta jasa pendidikan—, nyatanya data Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkap sisi lebih menarik.

Dari sisi upah, BPS mencatat empat sektor pekerjaan yang didominasi laki-laki tapi memberi nilai upah lebih tinggi bagi perempuan. Dua paling kentara yaitu sektor pertambangan dan galian yang 93,3 persennya diisi laki-laki; pun sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel yang selisih upahnya hampir 2 juta.

Kendati data tersebut tidak menghitung sebaran jenis pekerjaan untuk laki-laki atau perempuan di setiap sektor, aktivis hak-hak perempuan, Tunggal Pawestri, menilai peran penting perempuan dalam dunia bisnis sudah ada dari sananya.

“Perempuan sudah secara insting berkontribusi untuk melakukan pemberdayaan, bukan hanya memikirkan kepentingan penghasilan untuk diri sendiri," ujarnya kepada Kompas, menanggapi hasil riset Markplus terhadap 1.200 responden perempuan Indonesia di berbagai usia.

Riset menunjukkan tingginya angka kesadaran perempuan untuk menjadi individu mandiri dengan memulai bisnis eCommerce bukan hanya demi memiliki penghasilan sendiri.

Sekitar 50 persen responden mengaku ingin memiliki kebebasan untuk berkarya, dan sebanyak 12,7 persen perempuan milenial, pun 18,7 persen jumlah populasi generasi X ternyata memilih menjadi penjual di lapak ecommerce lantaran ingin memberdayakan masyarakat.

Niatan para perempuan itu bisa dipahami. Menurut laporan Grant Thornton International, masih ada tradisi kuat di banyak budaya dunia bahwa tanggung jawab perempuan adalah merawat keluarga. Peneliti bahkan mengidentifikasi pengasuhan sebagai tantangan utama yang menghambat kemajuan karier perempuan.

Di kota besar macam Jakarta saja, proporsi penduduk perempuan berusia 15 tahun ke atas yang tergolong usia kerja dan memang bekerja, jumlahnya cuma sedikit lebih banyak dari perempuan di golongan sama yang mengurus rumah tangga.

Akibat budaya mengakar itu, sambung Tunggal, perempuan jadi terbatas geraknya buat mengeksplorasi diri, pun tidak percaya diri memasuki dunia kerja. Apalagi jika mereka terbatas akses finansial,informasi, dan pengetahuan. Akan semakin sedikit aksesnya memasuki dunia kerja, terlebih bisnis digital.

"Penetrasi internet ini kan baru ada di masyarakat urban, kalau di rural saya enggak yakin itu merata," tutupnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR