OTT KPK

Perayaan warga atas tertangkapnya Bupati Cianjur

Warga Cianjur melakukan aksi massa sebagai bentuk apresiasi terhadap KPK yang telah melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) kepada Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar atas dugaan korupsi dana pendidikan, Jumat (14/12/2018).
Warga Cianjur melakukan aksi massa sebagai bentuk apresiasi terhadap KPK yang telah melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) kepada Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar atas dugaan korupsi dana pendidikan, Jumat (14/12/2018). | Nurul Ramadhan /Antara Foto

Bupati Cianjur Irvan Rivano Muchtar menghadapi dua kenyataan pahit. Irvan terjerat operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan warga Cianjur mensyukurinya.

Irvan terjerat operasi tangkap tangan pada Rabu (12/12/2018) dan KPK telah menetapkannya sebagai tersangka. Dalam operasi tangkap tangan kasus itu, KPK menyita uang Rp1.556.700.000 dalam mata uang rupiah pecahan 100 ribu, 50 ribu dan 20 ribu.

Uang itu diduga berasal dari 140 SMP di Cianjur yang mendapat Dana Alokasi Khusus (DAK). Irvan diduga mematok fee 7 persen dari alokasi DAK tersebut.

Selain Irvan, KPK juga menetapkan tiga orang sebagai tersangka, yaitu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur Cecep Sobandi; Kepala Bidang SMP di Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur, Rosidin; dan Tubagus Cepy Sethiady, kakak ipar Irvan.

Irvan membantah telah menerima suap, tetapi masyarakat sepertinya sudah mengetahui sepak terjang anak mantan Bupati Cianjur, Tjetjep Muchtar Soleh itu. Ribuan orang turun ke jalan untuk mengapreasiasi KPK. "Hidup KPK!" teriak massa di alun-alun Cianjur.

Dodi Suryadi, tokoh masyarakat Cianjur, mengatakan aksi massa itu merupakan klimaks masyarakat yang marah dengan kebijakan bupati yang menurutnya bagian dinasti.

"Ini klimaks kemarahan masyarakat yang menganggap rezim ini adalah rezim dinasti, dari mulai ayahnya Tjetjep Muchtar Saleh kemudian diteruskan oleh putranya IRM," ujar Dodi dilansir Detikcom. "Mereka banyak melakukan kebijakan yang terindikasi korupsi, pemungutan-pemungutan uang masyarakat untuk kepentingan mereka."

Tak hanya di alun-alun, beragam kegiatan juga ditunjukkan warga Cianjur yang merayakan tertangkapnya Bupati. Bahkan, ada kendaraan umum (angkot) yang menggratiskan ongkos sebagai syukur atas operasi tangkat tangan itu.

Wakil Ketua KPK, La Ode M Syarif mengunggah foto angkot itu lewat akun twitter-nya. "Apresiasi sopir kendaraan umum Cianjur seperti ini yang membuat KPK selalu bekerja keras memburu koruptor karena rakyat sudah sangat tertindas oleh perilaku politisi/pejabat korup," kata Syarif.

KPK menyatakan banyak masyarakat di daerah lain yang ingin menggelar perayaan seperti yang dilakukan warga Cianjur. "Sebenarnya kondisi di mana rakyatnya ingin gelar 'pesta' itu ada di beberapa tempat atau daerah," kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang melalui CNNIndonesia.

Saut mengatakan pihaknya belum bisa membuat masyarakat di daerah lain menggelar syukuran seperti di Cianjur karena keterbatasan penyidik. Menurutnya, penambahan jumlah personel memungkinkan pihaknya menjerat kepala daerah lain yang terbukti melakukan korupsi.

KPK sedianya telah melakukan banyak operasi tangkap tangan yang melibatkan kepala daerah. Ada sekitar 100 kepala daerah yang terjerat korupsi di berbagai wilayah Indonesia sejak KPK berdiri pada 2002. Irvan pun menyusul sejumlah kepala daerah lainnya dari Jawa Barat yang terjerat kasus korupsi.

Selama 2018 ini, kepala daerah asal Jawa Barat yang terjerat kasus korupsi adalah Bupati Subang Imas Aryumningsih; Bupati Bandung Barat, Abu Bakar, Bupati Bekas, Neneng Hassanah Yasin; serta Bupati Cirebon, Sunjaya Purwadisastra.

Sebelumnya, kepala daerah yang terjerat kasus korupsi dari Jawa Barat yaitu Bupati Subang, Ojang Sohandi; Wali Kota Cimahi, Atty Suharti Tohija; Bupati Karawang, Ade Swara; Bupati Bogor, Rachmat Yasin; Wali Kota Bandung, Dada Rosada, Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad; Bupati Garut, Agus Supriadi dan Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan.

Direktur Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM, Zainal Arifin Mochtar melihat, warga Cianjur seperti sudah tahu kelakuan Bupati Cianjur. Perayaan tertangkapnya Bupati, kata dia, menunjukkan posisi yang tidak terlalu baik di hadapan publik.

"Orang tahu, orang semacam tahu. Penangkapan ini mengafirmasi perilakunya. Kita bisa bayangkan kalau kemudian kepala daerah, tapi kemudian sama sekali tidak mengakar ke publiknya dan tidak dicintai publiknya," kata Zainal melalui detikcom.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR