PERLINDUNGAN ANAK

Perbedaan live show pasutri di Tasikmalaya dan Yogyakarta

Jerat untuk live show di Tasik cuma UU Pornografi padahal pelaku menyasar anak-anak sebagai penonton, yang boleh bayar dengan rokok, kopi, dan mi.
Jerat untuk live show di Tasik cuma UU Pornografi padahal pelaku menyasar anak-anak sebagai penonton, yang boleh bayar dengan rokok, kopi, dan mi. | Antyo® /Beritagar.id

Terhadap pasangan suami istri, yang menjadi tersangka pelaku pertunjukan seks di depan enam anak tetangga, sejauh ini Polres Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, baru menjeratnya dengan Pasal 36 UU Pornografi.

Ancaman hukuman maksimum bagi pelaku kejahatan yang melanggar pasal tadi adalah kurungan sepuluh tahun dan atau denda Rp5 miliar.

Belum jelas kapan saja, dan berapa kali terjadi, E (25) dan L (25) melakukan adegan cabul di rumahnya dengan penonton orang di bawah 18 tahun.

Bayar pakai kopi, rokok, dan mi

Menurut polisi, anak-anak itu membayar Rp5.000 per kepala, atau bisa juga dengan rokok, kopi, dan mi instan. Bermula dari seorang anak lantas dia mengajak teman-temannya. Lantas salah satu anak berkisah kepada guru mengaji.

Polisi menangkap pasangan itu Senin (17/6/2019) lalu. Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti kemarin (18/6/2019) menyatakan prihatin dengan kasus tersebut.

"Perbuatan ini tentu tidak bisa dibiarkan dan harus ditindak tegas, mengingat dampak perbuatan tersebut bagi tumbuh kembang seorang anak," Retno berujar (→ detikcom).

Jerat di Yogya untuk bandar

Live show atau pertunjukan langsung aksi cabul, bukan melalui layar, juga terjadi akhir tahun lalu di Kecamatan Condongcatur, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pelakunya, menurut salah satu versi, juga pasutri. Adapun yang menonton adalah enam pasangan dewasa.

Jerat hukum bagi tersangka penyelenggara pertunjukan cabul itu adalah Pasal 12 UU Perdagangan Orang dan Pasal 296 dan Pasal 506 KUHP.

Dari UU yang pertama, ancaman hukuman maksimum adalah bui 15 tahun dan denda Rp600 juta. Pasal ini melarang eksploitasi seksual. Ancaman hukuman yang tersebutkan barusan berdasarkan Pasal 2.

Sedangkan dari Pasal 296 KUHP, ancaman hukuman maksimum adalah terungku satu tahun empat bulan ditambah denda Rp15.000. Jika Peraturan Mahkamah Agung No. 2/2012 diterapkan, nilai denda dikalikan seribu. Akan menjadi Rp15 juta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR