INTERNASIONAL

Percakapan putra mahkota dan sorotan G20 untuk Khashoggi

Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bertatap muka dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan G20 di  Costa Salguero convention center,  Buenos Aires, Argentina, 30 November 2018.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) bertatap muka dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan G20 di Costa Salguero convention center, Buenos Aires, Argentina, 30 November 2018. | Ballesteros /EPA-EFE

Nama Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS) kembali muncul dalam penyelidikan kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Dokumen rahasia milik badan intelijen Amerika Serikat (Central Intelligence Agency/CIA) yang disingkap The Wall Street Journal menyebut sedikitnya 11 pesan dikirimkan oleh MbS kepada Saud al-Qahtani beberapa jam dan sebelum kematian Khashoggi, di Istanbul, Turki, awal Oktober 2018.

Saud al-Qahtani adalah penasihat terdekat MbS yang juga pengawas 15 tersangka pembunuh Khashoggi. Al-Qahtani telah dicopot dari jabatannya, namun tidak diketahui apakah dirinya termasuk dari 11 tersangka yang proses hukumnya sudah berjalan.

Tidak diketahui apa isi pesan tersebut. Namun, CIA meyakini MbS sejak lama telah mengincar Khashoggi hingga besar kemungkinan mengeluarkan perintah untuk mengeksekusi mati kolumnis The Washington Post ini.

"Pembunuhan tak mungkin terjadi tanpa sepengetahuan dia (MbS)," ucap seorang pejabat tinggi AS kepada The Washington Post, Minggu (2/12/2018).

Sejak awal, CIA memang sudah mengarahkan kecurigaannya kepada MbS sebagai sosok petinggi yang memerintahkan pembunuhan. Keyakinan CIA berseberangan dengan Presiden AS Donald Trump yang menyatakan tidak ada indikasi kuat bahwa MbS berada di balik kejahatan ini.

Bukti lain yang mengarahkan adanya perintah pembunuhan juga muncul dalam rekaman kejadian di dalam Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul yang dimiliki oleh Turki. Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan, pekan pertama November 2018, telah membagikan salinan rekaman kepada Arab Saudi, Amerika Serikat—termasuk CIA, Prancis, Jerman, dan Inggris.

Dalam rekaman yang berhasil “dikorek” The New York Times dari CIA, terdengar sebuah suara yang menyatakan sebuah perintah “bilang ke bosmu”. Tak lama setelah itu, terdengar lagi suara yang kurang lebih menyatakan “tugas telah selesai dikerjakan”.

Direktur CIA Gina Haspel meyakini kalimat tersebut diucapkan dalam sebuah percakapan telepon Maher Abdulaziz Mutreb, salah satu pengawal MbS, dengan seorang “pejabat tinggi” di Riyadh.

Selain dokumen rahasia CIA, Kerajaan Arab Saudi juga dituding melakukan penyadapan ponsel untuk mempelajari gerak-gerik serta keberadaan Khashoggi. Aplikasi pengintai (spyware) yang digunakan diketahui bernama “Pegasus”, dibuat oleh NSO Group, perusahaan teknologi asal Herzliya, Israel.

Dugaan penyadapan itu terungkap melalui gugutan hukum yang diajukan seorang pembelot Arab Saudi, Omar Abdulaziz, kepada NSO Group. Mengutip The New York Times, Minggu (2/12/2018), pihak kerajaan diduga menyadap ponsel milik Abdulaziz demi mendapatkan info tentang Khashoggi.

Pengunjuk rasa menaikkan poster bergambar Jamal Khashoggi dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Mbs) dalam sebuah aksi di Istanbul, Turki, 16 November 2018.
Pengunjuk rasa menaikkan poster bergambar Jamal Khashoggi dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Mbs) dalam sebuah aksi di Istanbul, Turki, 16 November 2018. | Tolga Bozoglu /EPA-EFE

Abdulaziz dan Khashoggi kerap melakukan komunikasi. Keduanya memiliki pandangan yang sama tentang “kecacatan” pemerintahan Arab Saudi. Sejak gelombang revolusi Arab Spring mengemuka, 2011, Abdulaziz menjadi populer lantaran kerap mengkritisi kerajaan melalui YouTube dan media sosial lainnya.

Firma McKinsey & Company bahkan menyebut Abdulaziz sebagai penggerak yang berhasil membentuk opini baru di media sosial. Posisinya tentu menjadi tak aman. Abdulaziz kemudian mencari suaka ke Kanada dan saat ini sudah menetap di Montreal.

Laporan Forbes menyebut NSO Group adalah salah satu perusahaan pembuat aplikasi pengintai “tercanggih” di Israel. Pegasus bahkan bisa meretas ponsel iPhone hanya dengan satu kata saja.

Dalam klaimnya, produk-produk pengintai yang dibuat perusahaan ini bisa digunakan pemerintah dan penegak hukum sebuah negara untuk kepentingan penindakan terorisme dan kejahatan lainnya.

Setiap kontrak kerja sama yang dibuat perusahaan dan kliennya turut melalui persetujuan pemerintah Israel. Hal ini bertujuan untuk menghindari penyalahgunaan produk yang dibuat perusahaan.

Dengan kata lain, jika Arab Saudi benar menggunakan spyware ini, maka telah terjadi sebuah “kerja sama” antara kerajaan dengan pemerintah Israel. Kerja sama itu yang kemudian membuka tabir hubungan terselubung antara Israel dan Arab Saudi.

Konflik perebutan lahan antara Palestina-Israel membuat Arab Saudi dan beberapa negara Arab lainnya tidak pernah mengakui negara Yahudi. Akan tetapi, sikap itu kerap diragukan lantaran sejumlah hubungan diplomatik yang dijalin keduanya.

Sorotan di G20

Teka-teki pembunuhan Jamal Khashoggi yang “disembunyikan” Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (Mbs) membuatnya menghadapi banyak sorotan ketika hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Buenos Aires, Argentina, akhir pekan lalu.

Reuters melaporkan, meski beberapa kepala negara terlihat menghindar dari posisi yang berdekatan dengan MbS ketika foto bersama, namun banyak di antara mereka yang melakukan pertemuan tertutup dengan MbS.

Tiga dari sekian kepala negara yang cukup lantang mendesak MbS menggelar penyelidikan independen atas pembunuhan Jamal Khashoggi adalah Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Perdana Menteri Inggris Theresa May, dan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Dalam sebuah acara makan malam, Trudeau meminta MbS untuk memberi jawaban yang sebenarnya terkait kejahatan ini. Macron meminta MbS mengizinkan penyidik internasional untuk turut menyelidiki kasus ini.

Mengutip The Guardian, Macron bahkan terdengar mengatakan, "aku khawatir" dan "kau tak pernah mendengarkanku", kepada MbS.

Sementara, Presiden AS Donald Trump menghadapi posisi yang canggung ketika berhadapan dengan MbS.

Namun, salah satu yang menjadi viral dalam pertemuan itu adalah ketika MbS melakukan jabatan tangan “tak biasa” dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Jabatan tangan yang dibumbui dengan serangkaian senyum merekah itu menimbulkan tanya, seberapa “dekat” MbS dengan Putin?

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR