Perceraian di antara makna dan kepuasan hidup

Foto ilustrasi pasangan pengantin mengikuti nilkah massal di Thamrin Park ride, Jakarta, Minggu (31/12/2017). Sebanyak lebih dari 400 pasangan pengantin mengikuti nikah massal yang digagas Pemprov DKI Jakarta dalam rangka malam pergantian tahun 2017 ke 2018.
Foto ilustrasi pasangan pengantin mengikuti nilkah massal di Thamrin Park ride, Jakarta, Minggu (31/12/2017). Sebanyak lebih dari 400 pasangan pengantin mengikuti nikah massal yang digagas Pemprov DKI Jakarta dalam rangka malam pergantian tahun 2017 ke 2018.
© Hafidz Mubarak /Antara Foto

Di tengah hiruk pikuk persiapan pemilihan kepala daerah serentak 2018, sosok mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali muncul.

Ahok yang mendekam di rumah tahanan markas Brigade Mobil di Depok, Jawa Barat sejak 9 Mei 2017 dikabarkan mengajukan gugatan cerai terhadap istrinya Veronica Tan.

Kabar tentang gugatan cerai Ahok terhadap istrinya ramai menjadi bahan pemberitaan, meskipun masih sumir dan masuk ranah privasi. Kabar perceraian itu terus muncul bergelombang sampai muncul petisi agar Ahok membatalkan gugatan cerai.

Perceraian --apa pun penyebabnya-- selalu memunculkan luka bagi siapa saja yang mengalaminya. Meski selalu memunculkan perih dan luka, angka perceraian di Indonesia tetap tinggi.

Berdasarkan data dari Dirjen Badan Peradilan Agama, Mahkamah Agung periode 2014-2016, perceraian di Indonesia trennya meningkat. Dari 344.237 perceraian pada 2014, naik menjadi 365.633 perceraian pada 2016. Artinya, dalam satu jam terdapat sekitar 40 sidang perceraian.

Banyak beban yang harus ditanggung setelah perceraian di antaranya kebahagiaan yang bisa saja terenggut. Hasil survei tingkat kebahagiaan Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Lokadata Beritagar, mencatat bahwa indeks kebahagiaan orang yang telah bercerai berada di bawah pasangan menikah dan lajang.

"Indeks dimensi makna hidup penduduk yang belum menikah merupakan tertinggi dibanding penduduk dengan status perkawinan yang lain. Sementara pada dimensi kepuasan hidup dan dimensi perasaan, indeks yang paling tinggi terdapat pada penduduk dengan status menikah," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Indeks kebahagiaan berdasarkan status pernikahan
© Lokadata /BPS

Indeks Kebahagiaan Indonesia 2017 diukur berdasarkan data hasil Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan di 487 kabupaten/kota terpilih sebagai lokasi sampel yang tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia.

Tingkat kebahagiaan merupakan gambaran umum tingkat kepuasan penduduk terhadap keseluruhan domain kehidupan manusia yang dianggap esensial dengan memperhitungkan perasaan dan makna hidup seseorang.

Untuk itu, kebahagiaan dalam survei BPS diukur berdasarkan tiga dimensi, yaitu kepuasan hidup, makna hidup, dan perasaan.

Kepuasan hidup indikatornya adalah hubungan sosial di lingkungan, keadaan lingkungan, keharmonisan keluarga, kesehatan, ketersediaan waktu luang, kondisi keamanan, pekerjaan, pendapatan, pendidikan dan keterampilan, serta rumah.

Dimensi makna hidup terdiri dari hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penerimaan diri, pengembangan diri, penguasaan lingkungan, serta tujuan hidup. Adapun perasaan indikatornya adalah perasaan senang, tidak khawatir, perasaan tidak tertekan.

Secara umum, Indeks Kebahagiaan Indonesia 2017 mencapai 70,69 pada skala 0-100. Indeks kebahagiaan penduduk yang tinggal di wilayah perkotaan cenderung lebih tinggi dibanding penduduk yang tinggal di perdesaan, yaitu 71,64 dibanding 69,57.

Dilihat dari status perkawinan, BPS membagi kelompok responden menjadi empat, yaitu belum kawin, kawin, cerai hidup, dan cerai mati.

Berdasarkan hasil survei itu, orang yang mengalami perceraian indeks kebahagiannya paling rendah, bahkan dibandingkan dengan orang yang ditinggal mati pasangannya.

Kecenderungan orang yang ditinggal mati pasangannya lebih bahagia ketimbang orang yang bercerai sebenarnya tak berlaku di seluruh provinsi di Indonesia.

Hasil data BPS yang diolah Lokadata Beritagar memperlihatkan bahwa ada 12 provinsi di mana orang yang bercerai lebih bahagia daripada orang yang ditinggal mati pasangannya.

Provinsi itu adalah Sumatra Utara, Banten, Jawa Barat, Bali, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, dan Maluku Utara.

Perbandingan indeks kebahagiaan cerai hidup dan mati berdasarkan provinsi.
© Lokadata /BPS

Berpisah karena perceraian maupun karena pasangannya meninggal sama-sama memperlihatkan indeks kebahagiaan lebih rendah dari status lainnya. Di antara keduanya, orang cerai mati lebih bahagia ketimbang cerai hidup.

Rendahnya indeks kebahagiaan orang yang cerai hidup itu dipengaruhi rendahnya dimensi perasaan, yaitu perasaan senang, tidak khawatir serta tidak tertekan dibandingkan penduduk berstatus lajang, menikah, dan cerai mati.

Secara lebih terperinci, hasil survei BPS memperlihatkan bahwa orang yang ditinggal mati pasangannya indeks kepuasan hidupnya lebih tinggi ketimbang orang yang bercerai.

Orang yang hidup sendiri karena pasangannya meninggal pun indikator perasaan senang, tidak khawatir, serta tidak tertekan lebih tinggi ketimbang orang yang bercerai.

Meski perasaan dan kepuasan rendah, orang yang bercerai ternyata indikator makna hidupnya semua lebih tinggi dari orang yang pasangannya meninggal.

"Tampaknya penduduk berstatus cerai hidup dituntut oleh keadaan untuk lebih mandiri bekerja tanpa mengandalkan mantan pasangan," demikian laporan BPS.

Tuntutan untuk bekerja mandiri itu selanjutnya berdampak kepada pengembangan dirinya maupun meningkatkan pemahamannya terhadap makna kehidupan secara keseluruhan.

Indeks kebahagiaan orang cerai dan ditinggal mati pasangannya.
© Lokadata /BPS
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.