Perempuan hanya mendominasi di tiga sektor pekerjaan

Buruh perempuan melakukan pelintingan Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (31/8/2016).
Buruh perempuan melakukan pelintingan Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (31/8/2016). | Yusuf Nugroho /Antara Foto

Salah satu warisan stigma peradaban yang menyisakan persoalan bagi generasi modern adalah bias gender. Anggapan yang menilai laki-laki lebih unggul daripada perempuan--yang berlaku dalam banyak hal--mulai dalam kehidupan sosial hingga dalam dunia kerja dalam bentuk kesenjangan upah.

Protes atas warisan stigma terhadap perempuan ini kian kencang disuarakan banyak kalangan. Pada 2015, dalam ajang Oscar 2015, Aktris Pendukung Terbaik, Patricia Arquette, dalam pidatonya memprotes ketidaksetaraan upah terhadap perempuan di Amerika Serikat. Khususnya, kesenjangan upah terhadap aktris di Hollywood.

Seperti dikutip dari laman The Guardian, dalam setahun terakhir Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menggugat sejumlah perusahaan teknologi papan atas seperti Google, Palantir, hingga Oracle dengan tuduhan adanya praktik ketimpangan pengupahan atas gender hingga warna kulit karyawannya.

Lokadata Beritagar.id menelusuri status gender di dunia kerja dalam setahun terakhir di Indonesia. Baik dalam jumlah tenaga kerja di semua sektor pekerjaan, hingga besarnya upah. Ekstraksi data dicuplik dari Publikasi Statistik Upah 2016 yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus lalu.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2016, jumlah total buruh/karyawan/pegawai dari 17 sektor pekerjaan sebanyak 45,8 juta orang. Terdiri dari 29,3 juta laki-laki dan 16,4 juta perempuan. Dengan kata lain, tenaga kerja Indonesia tahun lalu rata-rata masih didominasi oleh pekerja laki-laki sebanyak 64 persen.

Pekerja laki-laki lebih banyak mengisi dalam 14 sektor pekerjaan, sedangkan perempuan mendominasi tiga sektor sisanya. Dari sisi besarnya upah rata-rata, dalam 12 sektor masih lebih tinggi upah bagi kaum laki-laki. Temuan menarik bila melihat selisih upah rata-rata pada sektor yang dikuasai pekerja laki-laki.

Patut dicatat, data ini tidak menghitung sebaran jenis pekerjaan untuk laki-laki atau perempuan di setiap sektor. Karenanya, jumlah rata-rata atau nilai upah rata-rata berikut ini tidak sepenuhnya menggambarkan semua jenis pekerjaan antargender di Indonesia.

Dari 17 sektor pekerjaan, pekerja perempuan hanya mendominasi tiga sektor dengan persentase lebih dari 60 persen. Ketiga sektor itu adalah jasa kesehatan dan tenaga sosial sebanyak 67,5 persen, sektor jasa lainnya 62,3 persen, dan di sektor jasa pendidikan sebesar 61,1 persen.

Untuk sektor jasa kemasyarakatan, sosial dan perorangan terdapat selisih yang tidak begitu jauh antara jumlah pekerja laki-laki dan perempuan. Terdapat 57,4 persen pekerja laki-laki dan 42,5 persen pekerja/pegawai perempuan.

Serapan tertinggi untuk tenaga kerja laki-laki ada di sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel, sebanyak 96,6 persen. Dominasi itu menjadi selisih terbesar antara jumlah pekerja laki-laki dengan tenaga kerja perempuan, sekaligus menjadi serapan terendah bagi tenaga kerja perempuan dari semua sektor.

Adapun dominasi tenaga kerja perempuan tertinggi ada di sektor jasa kesehatan dan tenaga sosial dengan 67,5 persen, merupakan angka tertinggi yang dicatat pekerja perempuan dibanding semua sektor.

Dari sisi upah, angka tertinggi untuk semua gender dari 17 sektor pekerjaan terdapat di sektor pertambangan dan penggalian, dengan rata-rata sekitar Rp4,62 juta per bulannya. Sektor dengan upah terendah ada di sektor pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan, rata-rata hanya sebesar Rp1,44 juta per bulan.

Sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel memang didominasi oleh pekerja laki-laki, namun menurut nilai upahnya, justru lebih tinggi bagi pekerja perempuan. Di sektor ini, rata-rata upah untuk pekerja perempuan sebesar Rp4,3 juta. Sedangkan pekerja laki-laki rata-rata dibayar Rp2,3 juta per bulan.

Hal serupa terjadi di sektor pertambangan dan galian. Rata-rata upah yang diterima pekerja perempuan sebanyak Rp5,09 juta, sedangkan pekerja laki-laki rata-ratanya Rp4,14 juta per bulan. Padahal, laki-laki yang bekerja di sektor ini mencapai 93,3 persen.

Dalam dua sektor lain yang didominasi pekerja laki-laki, keuangan, asuransi, dll. dan sektor listrik, gas, dan air; upah rata-rata pekerja perempuan masih lebih tinggi, meski selisihnya tipis; antara Rp10 ribu hingga Rp100 ribu per bulan.

Sayangnya, tidak diketahui berapa upah tertinggi dan terendah untuk setiap jenis pekerjaan di semua sektor dalam data BPS ini. Tingginya rata-rata upah bagi pekerja perempuan, bisa jadi karena sebaran jenis pekerjaannya lebih sedikit dibanding sebaran jenis pekerjaan untuk laki-laki di setiap sektor.

Adapun sektor perdagangan besar, eceran, rumah makan, dan hotel, tampak istimewa karena sektor ini selisih upah rata-ratanya terbesar dibanding sektor yang lain, mencapai Rp1,9 juta. Sedangkan sektor keuangan, asuransi, usaha persewaan bangunan, tanah, dan jasa perusahaan, menjadi sektor dengan selisih paling kecil, Rp6.891.

Upah rata-rata untuk pekerja laki-laki, unggul di 12 sektor pekerjaan. Bila dirata-rata, selisih besar upahnya mencapai Rp600 ribu dalam 12 sektor tersebut. Adapun selisih tertinggi ada di sektor lahan yasan atau real estate, mencapai Rp1,2 juta. Namun angka ini belum mengalahkan selisih tertinggi bagi rata-rata upah pekerja perempuan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR