GEMPA DONGGALA

Peringatan dini bisa tiba beberapa detik sebelum gempa

Korban gempa di Sendai, Jepang. Foto diambil dua hari setelah peristiwa, 13 Maret 2011.
Korban gempa di Sendai, Jepang. Foto diambil dua hari setelah peristiwa, 13 Maret 2011. | STR /EPA

Gempa bumi datang sonder permisi, seperti tetangga karib menyelonong lewat pintu dapur dan mengagetkan tuan rumah yang lagi asyik bergoler.

Butuh ikhtiar keras kepala untuk menemu solusi paling efektif dalam memperingatkan warga akan kedatangannya. Demi beroleh hasil memuaskan, mau tak mau sains mesti jadi pegangan. Sebab, darinya manusia acap beroleh faedah besar.

Dus, untuk urusan teknologi kegempaan sulit buat tak meneladani Jepang, negeri nan--sebagaimana Indonesia--terbiasa dengan keganasan Sabuk Pasifik atau Cincin Api. Kalau bicara letusan gunung berapi atau gempa, istilah disebut barusan kudu disinggung. Sebab, ia merujuk kawasan sesak gunung api dan aktivitas tinggi gelombang seismik.

Kensuke Watanabe kasih kesaksian mengenai kecekatan Jepang menerapkan kecanggihan teknologinya. Manfaat yang dia rasakan belum lama berselang. 2011 tepatnya, tahun ketika gempa dengan Magnitudo 9,0-9,1 terjadi di 130 kilometer lepas pantai Kota Sendai, Prefektur Miyagi, Jepang.

Goyangan kuat itu berujung tsunami berketinggian hingga lebih dari 10 meter. Menerjang beberapa kawasan yang berhadapan dengan Lautan Teduh. Fukushima, Ibaraki, Chiba. Bahkan Hawaii, California, dan Oregon di Amerika Serikat.

Korban tewas dan hilang kurang dari 20 ribu. Jauh lebih sedikit dari gempa dengan daya setara, serta tsunami di lepas pantai Sumatra pada 2004 yang menelan korban tewas dan hilang sekitar 230 ribu di beberapa negara, dengan Aceh sebagai yang terbanyak.

"Mengerikan," kata Kensuke, dosen sebuah universitas di Sendai, kepada Time. "Tapi, peringatan (melalui) telepon seluler sangat membantu".

Peringatan tersebut dikirim pemerintah Jepang beberapa detik sebelum gempa tiba. Prosedur itu bertujuan memberi waktu bagi penerima pesan untuk berlindung.

Teknologinya sudah resmi diamalkan sejak 2007. Ia pengembangan lebih lanjut mekanisme mitigasi gempa di Jepang sejak setelah metropolitan Osaka-Kobe hancur digoyang Magnitudo 6,9 pada 1995.

Telepon genggam penduduk Sendai seperti Kensuke mulai menerima pesan 10 detik sebelum guncangan terasa pada siang 11 Maret itu. Beberapa detik lepas dari pukul 14.46.

Dia dan para mahasiswanya pun meringkuk di bawah meja. Tak lama berselang, bangunan mulai bergoyang keras. Benda-benda dari langit berjatuhan. Tapi, struktur kokoh meja melindungi mereka.

Seorang pengusaha asing bernama Basil Tonks membagikan pengalaman sama.

Sesaat sebelum gempa terjadi, dia sedang terlibat rapat di lantai dua sebuah perkantoran dekat Stasiun Sendai.

"Tiba-tiba, di tengah diskusi, telepon seluler kami membunyikan alarm gempa," ujarnya.

Tangkapan layar skema pengiriman peringatan dini kegempaan kepada masyarakat di Jepang. Kolaborasi dalam prosesnya melibatkan badan meteorologi (JMA) serta Institut Riset Nasional untuk Ilmu Alam dan Ketahanan terhadap Bencana (NIED).
Tangkapan layar skema pengiriman peringatan dini kegempaan kepada masyarakat di Jepang. Kolaborasi dalam prosesnya melibatkan badan meteorologi (JMA) serta Institut Riset Nasional untuk Ilmu Alam dan Ketahanan terhadap Bencana (NIED). | /NIED

Mereka bergegas merunduk di dekat pintu berbahan baja tahan karat. Gempa yang datang beberapa detik kemudian "begitu kuat sehingga membuat (mereka) susah berdiri". Plafon lalu rontok. Meski bangunan itu tergolong baru, tetap saja dindingnya retak besar.

Memanfaatkan gelombang-P

Berbarengan dengan woro-woro seluler, peringatan juga dilayangkan ke pabrik-pabrik, rumah sakit, sekolah, stasiun TV, radio, kereta.

Bil khusus ihwal kereta, pada saat gempa 24 kereta berkecepatan tinggi sedang melaju di jalur Tohoku Shinkansen. Lantas, sembilan sensor di pesisir dan 44 sensor di sepanjang jalur kereta langsung mengirim sinyal.

Listrik, seketika juga, mati dan rem darurat aktif. Dua lusin kereta itu berhenti tanpa tergelincir.

Bagaimana bisa peringatan tiba sebelum gempa datang? Kuncinya ada pada pemanfaatan gelombang-P.

Ada dua macam tipe pokok gelombang seismik: badan (body wave) dan permukaan (surface wave).

Gelombang badan merambat pada lapisan dalam bumi, sementara gelombang permukaan hanya menjalari permukaan bumi. Serupa riak air. P tiba lebih dulu. Frekuensinya lebih tinggi dari gelombang permukaan.

Gelombang-P, atau primer, tergolong gelombang badan. Di antara gelombang seismik lain, ia tercepat. Karenanya, P dapat tiba awal di pos pengamat dan pencatat kegempaan.

Hewan-hewan tertentu kadang dapat menangkap gelombang P. Anjing, contohnya. Binatang itu lazim mengeluarkan gonggongan sebelum gempa terjadi (lebih spesifik lagi, sebelum gelombang permukaan menjalar).

Menyusul P adalah gelombang-S atau sekunder. Jalannya lebih lambat dari P, dan hanya dapat lolos lewat batuan padat. Ini gelombang yang dapat dirasakan manusia ketika gempa. Ia lebih panjang dari P dan sanggup melumat bangunan dan menciptakan longsor.

Gempa 2011 itu pertama kali terdeteksi di pesisir timur laut Jepang pukul 14.46.40 waktu setempat. Butuh beberapa detik bagi alat pengukur gempa di daratan--terdekat ke episentrum--mendeteksi ada cukup sinyal untuk menentukan apakah peringatan diperlukan atau tidak.

Pada pukul 14.46.48, peringatan ditembakkan secara otomatis ke banyak kanal. Salah satunya yang masuk ke telepon seluler Kensuke beberapa detik kemudian.

Gelombang-S yang meluluhlantakkan itu bergerak 4 kilometer per detik. Ia akan mengertak kelas tempat dia mengajar sekitar 32 detik pada pukul 14.47.17 waktu setempat.

Kota berpenduduk sejuta itu terletak 130 kilometer ke arah barat dari pusat gempa. Gelombang-S mencapai Tokyo yang jaraknya 370 kilometer ke arah selatan dalam waktu 90 detik.

Adapun peringatan dini tsunami, ia beda perkara. Datangnya lebih lama. Sebab, butuh lebih banyak perhitungan. Tepatnya, sembilan menit setelah gempa terekam. Di kawasan yang paling parah terpapar tsunami, warga mungkin hanya punya waktu peringatan 15 menit.

Di luar peringatan cepat pemerintah, Jepang kadung menikmati perbaikan struktural terukur setelah Gempa Kobe pada 1995. Lebih banyak bangunan sudah menanamkan alat pelesap energi yang mampu meredam guncangan.

"Jepang belajar dari (gempa) Kobe, dan merasa dipermalukan oleh tingkat kerusakannya. Mereka telah berupaya memperbaiki berbagai cacat pada tahun-tahun berikut. Namun, apa pun usahanya, kerusakan bakal ada," ujar ahli teknik kegempaan dari MIT, Eduardo Kausel, dikutip The Christian Science Monitor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR