LION AIR JT610

Peringatan sensor posisi 737 Max dan pukulan bisnis Lion Air

Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11/2018).
Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu (3/11/2018). | Aprillio Akbar /ANTARAFOTO

Boeing Company kembali merilis buletin panduan operasional pesawat, Rabu waktu Washington DC, Amerika Serikat (AS), atau Kamis (8/11/2018) waktu Indonesia.

Buletin teranyar ini lebih spesifik. Boeing mengirim peringatan kepada semua maskapai yang menggunakan pesawat jenis 737 Max untuk memperhatikan kecakapan sensor penunjuk posisi angle of attack (AOA) yang menjadi bagian dari indikator kecepatan udara (airspeed indicator).

Dalam buletin itu Boeing memperingatkan, sensor AOA bisa saja merekam data yang keliru pada beberapa kejadian. Ketika sistem autopilot pesawat dimatikan, kesalahan data ini bisa membuat sistem secara otomatis menurunkan posisi hidung pesawat secara otomatis untuk menghindari stall.

“Kesalahan sensor AOA bisa mengelabui posisi hidung pesawat sehingga pilot terkadang menambahkan kecepatannya agar bisa tetap terbang,” sambung buletin itu.

Kendati mengakui ada potensi kesalahan pada komponen sensor AOA, Boeing dalam pernyataannya tidak meminta para operator pesawat untuk melakukan inspeksi intensif, atau melarang pengoperasian pesawat jenis Max yang sudah beredar.

Boeing hanya meminta pilot, kopilot, maupun teknisi pesawat, untuk mengikuti buku panduan operasional penerbangan yang diperbarui melalui penerbitan buletin tersebut. Di antaranya, mematikan sistem otomatis yang bisa membuat pesawat menurunkan posisi hidung pesawat saat menerima indikasi stall.

“Mengikuti semua protokol penerbangan adalah hal yang harus selalu dilakukan pilot, meski dalam kondisi terdesak seperti saat mesin tak berfungsi dan alarm berbunyi,” sambung Boeing.

Tak lama berselang, otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS), Federal Aviation Administration (FAA), juga merilis perintah kelaikan udara (Airworthiness Directives/AD) yang menekankan isi peringatan yang dikeluarkan Boeing.

Dalam rilisnya FAA menegaskan, masalah ketakakuratan sensor AOA bisa menyebabkan kru pesawat sulit untuk mengontrol pesawat dan membuat sikap hidung pesawat berubah, kehilangan kontrol terhadap ketinggian dengan signifikan, dan memungkinkan terjadinya benturan ke permukaan bumi (terrain).

Laporan The Washington Post menyebut, para penyelidik mencurigai kesalahan data pada komputer ini yang membuat pilot pesawat JT610 salah menginterpretasikan perintah dan menyebabkan kecelakaan terjadi.

Bloomberg melaporkan, FAA kemungkinan besar akan meminta Boeing untuk mendesain ulang komponen maupun perangkat lunaknya setelah hasil investigasi atas jatuhnya JT610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018, selesai dilakukan.

“Langkah lebih tegas akan diambil setelah investigasi selesai dilakukan,” tulis FAA.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berencana membawa komponen sensor AOA pada pesawat Lion Air dengan nomor registrasi PK-LQP ke pabrik Boeing di Chicago, AS, untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Hingga artikel diturunkan, pihak manajemen Lion Air belum menjawab pertanyaan Beritagar.id terkait potensi kerusakan pada komponen sensor AOA pesawat berikut langkah selanjutnya yang akan diambil maskapai.

Untuk diketahui, Lion Air adalah salah satu pelanggan terbesar Boeing, khususnya untuk tipe 737 Max. Pada 2017, Lion Air Group diketahui memesan tipe yang diklaim “pesawat masa depan” ini sebanyak 219 unit. Total, Boeing sudah mengirimkan 4.500 unit pesawat tipe 737 Max ke berbagai maskapai di dunia.

Boeing 737 Max 8 lain yang dimiliki Lion Air
Boeing 737 Max 8 lain yang dimiliki Lion Air | Lion Air Group

Bisnis mulai terdampak

Insiden jatuhnya pesawat yang membawa 189 orang ini memberi pukulan tersendiri bagi maskapai Lion Air. Lansiran VIVA menyebut, beberapa calon penumpang banyak yang melakukan perubahan jadwal (reschedule) hingga pembatalan terbang (refund).

“Kami sedang dalam posisi yang memang secara bisnis penerbangan di posisi terendah,” ucap Managing Director Lion Air Group Kapten Daniel Putut Kuncoro Adi, Kamis (8/11/2018).

Salah satu cara yang kini dikejar perusahaan adalah berupaya mengembalikan kepercayaan publik kepada maskapai berbiaya rendah ini. Selain itu, sambung Daniel, manajemen terus berusaha membangun motivasi kepada seluruh karyawan agar tetap semangat membangun perusahaan.

“Kami juga akan mengevaluasi seluruh pelatihan kami, baik itu pelatihan awak pesawat, kabin, ground staff, dan lainnya,” sambung Daniel.

Desakan untuk menindak tegas Lion Air akibat kecelakaan ini juga menguat. Begitu pula suara-suara yang meminta maskapai berlambang singa ini untuk ditutup.

Namun, desakan penutupan Lion Air tidak bisa begitu saja dilakukan. Presiden Direktur Aviatory Indonesia Ziva Narendra menilai, salah satu dampak terbesar dari penutupan Lion Air adalah perubahan pangsa pasar penerbangan di Indonesia.

Hal ini dikarenakan Lion Air adalah salah satu maskapai berbiaya rendah di Indonesia dengan layanan destinasi terbanyak, yakni hingga 200 penerbangan setiap harinya. Market share Lion Air terhadap penerbangan Indonesia juga tidak main-main, yakni kisaran 20 hingga 30 persen.

Sementara, maskapai Indonesia lainnya belum tentu siap menampung ledakan penumpang akibat penutupan itu.

“Ketika ditutup kita mesti siap-siap, air travel tidak akan seperti dulu lagi, pangsa pasar berubah,” tutur Ziva, dikutip dari tempo.co.

Ziva berpendapat, penutupan bukan solusi dari masalah ini. Jika dibandingkan dengan kasus Adam Air—maskapai lepas tanggung jawab, Lion Air lebih menunjukkan usahanya untuk bertanggung jawab terhadap proses penyelidikan juga kepada keluarga korban JT610.

“Yang paling penting proses recovery korban dan investigasi data,” tukasnya.

BACA JUGA