Perkara pembubaran acara Lady Fast di Yogyakarta

Sejumah massa mendatangi Survive Garage, Jalan Bugisan, Yogyakarta, Sabtu malam (2/4). Mereka menuntut pembubaran Lady Fast, sebuah acara kesenian dan diskusi yang diinisiasi oleh Kolektif Betina.
Sejumah massa mendatangi Survive Garage, Jalan Bugisan, Yogyakarta, Sabtu malam (2/4). Mereka menuntut pembubaran Lady Fast, sebuah acara kesenian dan diskusi yang diinisiasi oleh Kolektif Betina. | Istimewa /Kolektif Betina

Polisi dan sejumlah ormas membubarkan acara Lady Fast yang diselenggarakan di ruang seni alternatif, Survive Garage, Jalan Bugisan, Yogyakarta, Sabtu (2/4/2016),

Lady Fast dinisiasi oleh Kolektif Betina, semula direncanakan berlangsung pada 2 - 3 April 2016. Ajang itu diramaikan dengan pameran seni, hiburan musik, lapak kerajinan, dan diskusi.

Kolektif Betina (via Facebook) turut membagikan kronologi pembubaran acara itu. Pembukaan Lady Fast sempat digelar pada siang hari. Pun beberapa mata acara, macam lokakarya dan diskusi sempat berlangsung antara pukul 13.00 - 19.00 WIB. Hiburan musik yang dijadwalkan pukul 19.30 - 22.00, juga sempat berjalan lancar.

Kericuhan terjadi, sekitar 30 menit sebelum acara musik rampung. Saat itu, lokasi acara didatangi lebih kurang 15 orang. Panitia mengaku tidak bisa mengidentifikasi asal kelompok itu.

Kelompok tersebut menuntut acara dibubarkan. Panitia beserta pemilik tempat acara, sempat beradu argumen dengan kelompok ini. Saat itulah, terdengar suara tembakan yang dilepaskan ke udara. Kolektif Betina menyebut bahwa tembakan itu berasal dari polisi berpakaian sipil.

Mereka pun mengaku mendapat tudingan sebagai "komunis." Kata-kata seperti "Perempuan enggak benar," "Merusak, menodai," dan "Sampah!", juga turut dilemparkan kelompok yang menuntut pembubaran.

Belakangan, saat penyelenggara sudah merapikan properti acara dan berdiam di dalam rumah, muncul pula teriakan "bakar-bakar."

Empat orang dari pihak penyelenggara acara sempat dibawa ke markas Polsek Kasihan, Bantul. Polisi meminta keterangan mereka, sebelum melepaskan pada Minggu dini hari (3/4).

Kapolsek Kasihan, Kompol Suwandi, mengaku bahwa acara Lady Fast dibubarkan karena tidak memiliki izin, dan mengganggu kenyamanan masyarakat.

"Tidak pernah izin, dia main musik, mengekspresikan seninya dan tidak pernah melakukan izin," kata Suwandi, dikutip BBC Indonesia.

Suwandi mengaku saat pembubaran acara itu, polisi datang bersama Forum Umat Islam (FUI) dan Front Jihad Islam (FJI). Sebagai catatan, organisasi yang disebut Suwandi itu, turut pula terlibat dalam pembubaran pesantren waria, Al-Fatah, Yogyakarta (Februari, 2016).

Pegiat Kolektif Betina, Andina Setia (31) menjelaskan bahwa acara mereka sekadar membahas hal-hal seputar masalah perempuan.

"Kami ini sekadar berbagi ilmu, melalui kesenian, diskusi, pemutaran film, dan lain-lain. Semua kegiatan menyoal masalah-masalah perempuan," kata Dina, saat dihubungi Beritagar.id melalui sambungan telepon, Senin (4/4).

"Kami heran dituduh komunis. Di mana dari mata acara kami yang berhubungan dengan komunis," kata Dina.

Lebih lanjut, Dina menjelaskan bahwa pihaknya telah berkonsultasi soal perizinan dengan Survive Garage, selaku pemilik tempat. "Selama enam tahun terakhir, mereka (Survive Garage) biasa bikin acara di sana. Bahkan sampai jam 12 malam juga ada. Tapi tidak pernah ada kejadian seperti ini," ujar Dina.

Dina juga mempertanyakan izin acara, yang diminta kepolisian. Ia merujuk pada Juklak Kapolri No. Pol/02/XII/95, yang menyebut izin keramaian berlaku bila sebuah acara mendatangkan massa 300 - 500 orang. Menurutnya, acara Lady Fast, tak sampai mendatangkan massa sebesar itu. Penyelenggara juga mengklaim telah mendapatkan izin lisan dari RT/RW setempat.

Pembubaran acara ini juga mengundang solidaritas di media sosial. Sejumlah akun berpengaruh turut angkat bicara soal peristiwa ini. Feminis muslim yang berbasis di Amerika Serikat, Mona Eltahawy termasuk yang turut mengecamnya.

Insiden pembubaran acara kelompok sipil

Sepekan silam, pembubaran acara tak hanya menimpa Lady Fast.

Di Pekanbaru, Riau, Front Pembela Islam (FPI) membubarkan diskusi yang digelar Kelompok Diskusi Batas Arus, Jaringan Filsafat Islam (Jakfi), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Diskusi itu berlangsung pada Jumat (1/4), di Pusat Kegiatan HMI, Jalan Melayu, Kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Adapun tema diskusi adalah "Perempuan sebagai Rumah Cinta, Air Mata dan Kebangkitan. Sebuah Upaya Mendekatkan Identitas Perempuan Indonesia yang Progresif, Historis dan Spiritual".

Namun, diskusi itu dituding FPI sedang membahas aliran Syiah. Saat dikusi tengah berlangsung, seorang pembicara dari Yogyakarta, AM Safwan, tiba-tiba dibawa paksa oleh sekitar 50 orang massa FPI.

Tempo.co mengutip pernyataan koordinator acara, Diman. Ia menyebut bahwa Safwan diamankan ke markas FPI dan dipaksa pulang ke Yogyakarta, pada Sabtu pagi (3/4).

Dua insiden di atas, menambah deretan acara masyarakat sipil yang mendapat tekanan kelompok garis keras, selama beberapa pekan terakhir.

27 Februari 2016, hajatan BelokKiri.Fest yang sedianya digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta didemo sejumlah ormas. Karena itu, pihak penyelenggara memindahkan acara dari TIM ke kantor LBH Jakarta.

16 Maret 2016, acara pemutaran perdana film Pulau Buru Tanah Air Beta juga bernasib sama. Semula acara akan diselenggarakan di Goethe Haus, Menteng, Jakarta Pusat. Namun harus dipindahkan ke kantor Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pasalnya, kepolisian menolak memberikan izin, setelah hadirnya tekanan dari FPI.

23 Maret 2016, pementasan monolog Tan Malaka di Bandung juga mendapat penolakan dari Forum Masyarakat Anti Komunis (FMAK) --FPI termasuk juga di dalamnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR