INDUSTRI PERKEBUNAN

Perkebunan kelapa sawit di antara keuntungan dan kerusakan lingkungan

Sebuah gambar dari udara menunjukkan perkebunan kelapa sawit baru di tepi Taman Nasional Leuser di Aceh, 21 Maret 2017.
Sebuah gambar dari udara menunjukkan perkebunan kelapa sawit baru di tepi Taman Nasional Leuser di Aceh, 21 Maret 2017. | Hotli Simanjuntak /EPA

Perkebunan kelapa sawit dituding sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan. Limbah cair dan gas buang crude palm oil (CPO) turut dikaitkan dengan pemanasan global.

"Tudingan miring terus ditujukan kepada perkebunan kelapa sawit," keluh Manager Bio Gas PT Rea Kaltim Plantations, Takbir, Rabu (14/11/2018).

Pegiat lingkungan memang bergantian mengkritik industri perkebunan kelapa sawit yang dianggap tidak ramah lingkungan. Mereka menyoroti pengelolaan limbah sawit yang didefinisikan sebagai palm oil mills effluent (POME) dan gas buang metana.

"Kalau air sungai berwarna hitam, tuduhan langsung ditujukan kepada kami. Padahal belum tentu juga kami penyebabnya. Banyak faktor menyebabkan air sungai menjadi hitam," papar Takbir.

Maraknya tekanan dalam dan luar negeri mendorong Rea Kaltim berupaya keras dalam pengelolaan limbah. Perusahaan kelapa sawit di Kutai Kartanegara (Kukar) ini membangun dua unit instalasi bio gas plant senilai Rp100 miliar.

"Kami bertahap membangun dua instalasi dinamakan Cakra Bio gas Plant dan Perdana Bio gas Plant mulai 2012," ujar Takbir.

Hasilnya kini sudah bisa dinikmati. Dengan mengolah 2.800 ton limbah POME per bulan, instalasi bio gas Rea Kaltim memisahkan gas metana dari ampas POME menjadi kompos.

"Instalasi ini merupakan proses fermentasi POME menghasilkan gas metana dan ampas POME. Gas ini yang menjadi bahan bakar penggerak turbin pembangkit listrik dengan daya 7 MW listrik," ungkapnya.

Daya listrik ini menjadi energi mandiri area perkebunan seluas 32 ribu hektare. Secara otomatis perusahaan berhemat secara maksimal hingga mendongkrak pendapatan Rp25 miliar per tahun.

Bukan hanya itu, warga di sekitar perkebunan pun bisa menikmati aliran listrik secara tidak langsung. Rea Kaltim pun menjual pasokan listrik ke PLN untuk kawasan di Desa Tebagan, Kembang Janggut, dan Kenongan di Kukar.

“Daya listrik ini sebagian dijual ke PLN 900 kwh dengan harga Rp1.050 per kwh. Pendapatan perusahaan mencapai Rp900 juta per bulan," paparnya.

Sebenarnya, Rea Kaltim berpeluang meraup untung lebih besar bila mengacu Peraturan Menteri ESDM Tahun 2017. Salah satu klausul aturan menetapkan harga listrik remote area yang dipatok Rp2.100 per kwh.

"Wilayah kami termasuk remote area sehingga layak memperoleh harga Rp2.100. Namun, akhirnya kami cukup puas dengan harga Rp1.050," ujar Takbir.

Takbir mengatakan, Rea Kaltim membangun instalasi bio gas plant untuk meminimalkan dampak negatif perkebunan kelapa sawit. Pendapatan penjualan listrik bio gas plant adalah bonus komitmen perusahaan dalam penyelamatan lingkungan.

"Pendapatan ekstra dalam pengelolaan limbah," ujarnya.

Manager Bio Gas PT Rea Kaltim Plantations, Takbir, berbicara kepada awak media di Kutai Kartanegara, Rabu (14/11/2018).
Manager Bio Gas PT Rea Kaltim Plantations, Takbir, berbicara kepada awak media di Kutai Kartanegara, Rabu (14/11/2018). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Bahkan ke depannya, Rea Kaltim berniat mengonversi 700 mobil kebun agar bisa mengonsumsi bahan bakar gas metana. Setidaknya butuh investasi Rp60 miliar untuk penggantian tabung BBG, converter kit, dan peralatan penunjang gas.

Pemanfaatan limbah POME sedang menjadi tren di industri perkebunan kelapa sawit Kaltim. Kepala Bidang Perkebunan Berkelanjutan Dinas Perkebunan Kaltim, Henny Herdiyanto, mencatat ada lima perusahaan yang sudah serius dalam pengolahan limbah kelapa sawit menjadi energi listrik.

Perusahaan perkebunan tersebut adalah; PT Multi Makmur Mitra Alam (Paser), PT Indonesia Plantation Synergi (Kutai Timur), PT Hutan Hijau Mas Group (Berau), PT Prima Mitrajaya Mandiri (Kukar) dan terakhir PT Rea Kaltim Plantations.

Henny mengapresiasi komitmen perusahaan perkebunan Kaltim ini. Maklum, menurutnya limbah produksi CPO memang memiliki dampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan.

"Dampaknya lebih kuat 24 kali dibandingkan karbondioksida (CO2) bagi pemanasan global," ungkapnya.

Dan Provinsi Kaltim yang sedang melepaskan ketergantungan pada eksploitasi industri mineral batu bara dan minyak gas memang sedang mengupayakan potensi ekonomi dari limbah CPO.

"Salah satunya lewat industri perkebunan kelapa sawit ini," sebutnya.

Henny mengatakan, terdapat 78 perkebunan kelapa sawit Kaltim yang mengantongi izin pengelolaan lahan seluas 1,1 juta hektare. Sektor ini mampu menyumbang 4,2 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim tahun 2017.

"Sektor pertanian menyumbang 3,8 persen dan perkebunan 4,2 persen. Pelan-pelan akan dikurangi ketergantungan eksploitasi sumber daya alam (SDA) tidak terbarukan," tegasnya.

LSM Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kaltim menyatakan tindakan pemilik perkebunan dalam mengelola limbah adalah kewajiban. Adapun pembangunan instalasi bio gas hanyalah pengembangan bisnis perusahaan dalam meraup keuntungan.

"Itu kan hanya business as usual (bisnis biasa) perusahaan dari pengembangan sawit," kata Direktur Eksekutif Walhi Kaltim, Fathur Roziqin Fen.

Namun tetap, menurut Fathur, persoalan utama perkebunan sawit adalah merampas keanekaragaman hayati Kaltim. Perkebunan sawit terbukti merusak kekayaan flora fauna dan ekosistem.

"Primata orangutan Kalimantan kian terdesak oleh sawit," sesalnya.

Contoh terbaru adalah matinya Sungai Nangka di Kukar yang terhubung langsung dengan Sungai Mahakam. Penyebabnya adalah daerah aliran sungai (DAS) rusak akibat pengupasan lahan PT Perkebunan Kaltim Utama 1.

"Dulunya adalah anak sungai yang kerap dilalui perahu. Sekarang hanya seperti selokan saja," keluhnya.

Fathur pun mengkritik anggapan perkebunan sawit berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Selama ini, perkebunan sawit hanya memberikan keuntungan bagi segelintir kelompok pemodalnya.

"Pekerjanya juga tetap menjadi buruh. Keuntungan sawit tidak sebanding dengan risiko ditanggung masyarakat pada masa depan," ujarnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR