Perkuat distribusi, Pertamina gandeng NU

Petugas melintas samping Kereta Api (KA) pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tegal, Jawa Tengah, Rabu (14/12).
Petugas melintas samping Kereta Api (KA) pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Tegal, Jawa Tengah, Rabu (14/12). | Oky Lukmansyah /ANTARA FOTO

Pemerintah telah memutuskan menetapkan satu harga penjualan bahan bakar premium dan solar di seluruh Indonesia. Untuk premium ditetapkan harga Rp6.450 per liter dan Rp5.150 per liter untuk solar.

PT Pertamina yang ditunjuk melaksanakan program itu menargetkan kebijakan satu harga BBM ini bisa dilaksanakan tahun ini.

Saat ini Pertamina tengah menyediakan sejumlah investasi seperti penyediaan pesawat khusus pengangkut BBM ke wilayah pegunungan, dan penyediaan Agen Penyalur Minyak dan Subsidi (APMS) ke beberapa wilayah-wilayah terpencil.

Karenanya, agar target ini bisa terlaksana, Pertamina menggandeng swasta agar mau menjadi agen di daerah-daerah terpencil. Salah satu pihak swasta yang digandeng adalah organisasi massa Islam terbesar yakni Nahdlatul Ulama (NU).

Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, saat ini beberapa wilayah terpencil baru ada satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang letaknya berada di Kabupaten. Kondisi itu yang membuat harga BBM mahal.

"Ada satu agen di satu kabupaten, itu sangat besar. Untuk sampai ke masyarakat ada pengecer, itu yang membuat harga mahal," kata Dwi, saat menghadiri nota kesepahaman kerja sama dengan NU, di kantor PBNU, Jakarta, Rabu (4/1/2017) seperti dilansir Liputan6.com.

Menurut data Pertamina sejak 2014, ada 12 kabupaten yang belum memiliki stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Kebanyakan kabupaten tersebut memang terletak di Indonesia Timur, khususnya Papua. Inilah yang digarap Pertamina, membangun delapan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) di Papua. APMS mirip SPBU, tetapi lebih kecil.

Alasan kerjasama dilakukan dengan NU karena warga nahdliyin ada di mana-mana. Dengan ketersebaran warga nahdliyin ini, Dwi berharap, Pertamina dan NU bisa membangun kekuatan baru dalam membangun jaringan distribusi BBM ini. "Warga NU bisa berperan dengan membuka jaringan penyaluran BBM resmi."

Sebab, kata Dwi, untuk mewujudkan BBM satu harga ini diperlukan jaringan distribusi yang sangat kuat. "Kecepatan buka agen jadi kunci. Kalau nunggu Pertamina pasti lama, kalau swasta terlibat bisa lebih cepat lagi, " ujarnya.

Pilihan Pertamina menggandeng NU bisa jadi tidak salah. Berdasarkan data, pada 2010 warga nahdliyin tercatat mencapai 70 juta orang. Survei IndoBarometer misalnya menemukan dari sekitar 191,4 juta penduduk Indonesia adalah muslim (mengadopsi data sensus tahun 2000), sekitar 75 persen dari jumlah tersebut mengaku warga nahdliyin.

Sekretaris Jenderal PBNU Hilmi Faisal mengungkapkan exit poll 2013 yang dilakukan survei Lembaga Survei Indonesia menyebut dari 249 juta penduduk Indonesia yang mempunyai hak pilih, sekitar 36 persen atau 91,2 juta di antaranya mengaku sebagai warga NU.

"Sudah sangat benar Pertamina bekerja sama dengan NU," kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Menurut Said, saat ini jumlah warga NU berdasarkan sebuah lembaga survei, sekitar 91, 4 juta. Dengan demikian, jika warga NU sejahtera, maka sebagian urusan Indonesia akan selesai.

Said menambahkan, NU saat ini memiliki sekitar 22 ribu pesantren, tapi sampai saat ini tidak pernah mendapat anggaran resmi dari negara secara berkelanjutan. "Entah apa dosanya NU," katanya berseloroh.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR