Perlukah pembatasan kecepatan kendaraan di tengah kemacetan?

Sejumlah kendaraan terjebak macet di jalan tol dalam kota, kawasan Cawang, Jakarta, Januari 2014.
Sejumlah kendaraan terjebak macet di jalan tol dalam kota, kawasan Cawang, Jakarta, Januari 2014. | Dian Triyuli Handoko /Tempo

Polisi akan menggunakan Speed Gun guna memantau kecepatan kendaraan di jalanan dan menjaga keselamatan. Program keselamatan ini berawal sejak 2013. Saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan instruksi Nomor 4 Tahun 2013 Tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan 2011-2020.

Pemantauan kecepatan kendaraan ini guna melaksanakan resolusi PBB terkait keselamatan di jalan secara global. Adapun isi instruksi tersebut sudah ada aturan yang menaunginya. Misalnya, masalah batas kecepatan kendaraan. Dalam Undang-Undang No. 22/2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan. Kecepatan maksimum yang diizinkan untuk kendaraan bermotor dibedakan oleh kelas jalan.

Pemerintah mendetailkan instruksi Presiden dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan No. 111/2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan. Dalam Pasal 3 disebut batas kecepatan di jalan tol, 60-100 km per jam. Di jalan antarkota 80 km per jam. Sedangkan di jalan pada kawasan perkotaan 50 km per jam. Di kawasan pemukiman maksimal hanya 30 km per jam.

Sebagai perwujudan aturan ini, Kepolisian Daerah Metro Jaya akan menggunakan Speed Gun, untuk memantau kecepatan kendaraan di jalanan. Menurut Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto, penggunaan Speed Gun diharapkan dapat menekan angka kecelakaan lalu lintas. Tujuannya, guna menekan pelanggaran lalu lintas yang berpotensi luka berat dan meninggal dunia.

Sebelum menerapkan alat tersebut, kata Budiyanto, polisi akan mensosialisasikan kepada masyarakat. "Kami melakukan sosialisasi, penindakan dengan teguran tertulis dan penindakan dengan tilang," ujarnya,Minggu (6/3) seperti dikutip Kompas.com.

Pelanggaran batas kecepatan akan dijerat pasal 287 juncto pasal 106 ayat (4) huruf a Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sanksinya, kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu. Di atas kertas, aturan ini memang laik didukung. Di lapangan, lain cerita. Tanpa aturan dari pemerintah, kondisi jalan dan melimpahnya kendaraan di jalanan sudah membatasi kecepatan kendaraan.

Aplikasi navigasi sosial Waze, setahun kemarin menghitung laju kendaraan di Jakarta pada 2014. DAlam rilis yang dilansir Antaranews, diperoleh kecepatan rata-rata kendaraan mencapai 18 km per jam. Pada akhir pekan, saat lebih longgar, laju kendaraan menjadi 22 km per jam.

Kementerian Perhubungan memperkirakan, enam tahun lagi, pada 2020 perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi di Jabodetabek sebesar 40 persen, sebaliknya peran angkutan umum akan turun sebesar 18,5 persen. Hasilnya, laju kendaraan makin pelan. "Sampai 8,4 kilometer per jam selama 2010-2020," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kementerian Perhubungan, Elly Adriani Sinaga, November 2015, seperti dikutip dari Viva.co.id.

Kemacetan ini juga akan tersalurkan ke daerah di luar Jabodetabek, jika libur panjang. Pada libur Natal akhir tahun 2015, macet mengular di beberapa wilayah. Salah satu pengguna jalan, menghabiskan 26 jam hanya untuk melipat jarak sekitar 300 km dari Jakarta ke Tegal, Jawa Tengah. Kemacetan ini membuat Direktur Jenderal Perhubungan Darat mundur.

Walaupun kemacetan sudah menghambat laju kendaraan, tapi kecepatan tetap jadi pencabut nyawa di jalanan. Kasus Lamborghini yang dikemudikan Wiyang Lautner bisa menjadi gambaran. Kepada polisi, WIyang mengaku mengemudikan mobil itu dengan kecepatan 'hanya' 80 km per jam. Saksi mata menyatakan, kecepatannya lebih dari itu. Padahal, kecepatan 80 km per jam hanya diperkenankan di jalan tol.

Dalam catatan polisi, secara nasional, faktor kecepatan masih mendominasi penyebab kecelakaan. Kepala Bidang Manajememen Operasional dan Rekayasa Lalu Lintas Korps Lalu Lintas Polri, Komisaris Besar Polisi Unggul Sedyantoro menghitung, selama Januari-November 2015 ada 95.906 kecelakaan. Korban tewas mencapai 28.297 secara nasional.

"Faktor kecepatan menjadi penyebab kecelakaan paling banyak, mencapai 40 persen," ujarnya seperti dikutip dari Sindonews.com. Penyumbang kecelakaan terbesar itu dari moda sepeda motor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR