KISRUH LAPAS

Perlunya penyidikan independen telisik tewasnya napi Lapas Banceuy

Petugas kebakaran memadamkan api yang membakar bangunan Lapas Klas II A Banceuy Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/4/2016).
Petugas kebakaran memadamkan api yang membakar bangunan Lapas Klas II A Banceuy Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/4/2016). | Agus Bebeng /Antara Foto

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mendesak adanya penyelidikan independen di luar Kementerian Hukum dan HAM dalam kasus kematian terpidana Undang Kasim di Lembaga Pemasyarakatan Banceuy Bandung. Penyelidikan independen ini penting guna menjamin objektivitas dan independensi dari kematian terpidana itu.

Koordinator Badan Pekerja KontraS, Haris Azhar, mengatakan Menteri Hukum dan HAM RI serta pejabat terkait lainnya harus membuka semua akses, fakta dan peristiwa yang mendasari terjadinya kerusuhan dan pembakaran Lapas Banceuy.

"Untuk menjamin akuntabilitas penegakan hukum, perlindungan hak-hak narapidana dan perbaikan sistem lembaga pemasyarakatan ke depan," kata Haris melalui keterangan pers, Selasa (26/4/2016).

Ketidakpastian informasi mengenai kematian terpidana Undang Kasim dan dugaan luka memar hingga bekas sundutan rokok bisa dijadikan alat ukur untuk menilai ketidakprofesionalan petugas Lapas dalam menangani persoalan yang muncul di dalam Lapas. Haris menambahkan tindakan indispliner harus tetap memperhatikan aturan hukum dan perlindungan HAM yang berlaku.

Undang yang beralamat di Jalan Jenderal Sudirman Gang Kebon Sirih Kecamatan Andir Kota Bandung ini merupakan narapidana narkoba yang divonis 4 tahun. Undang telah menjalani hukumannya lebih dari tiga tahun. Undang tengah menjalani masa asimilasi menjelang berakhirnya masa hukumannya.

Undang diketahui tewas pada Sabtu (23/4/2016) sekitar pukul 00.15. Sehari sebelumnya, Undang mendapat tindakan disiplin berupa dimasukkan ke sel isolasi karena diduga menyelundupkan narkoba ke Lapas

Kabar tewasnya Undang cepat menyebar ke seluruh penghuni lapas Banceuy. Sekitar 300 hingga 400 orang menyerang petugas dengan batu dan balok. Tak hanya itu mereka juga menjebol pintu dan membakar gedung, kantor, dan mobil.

"Ketiadaan informasi yang jelas perihal penyebab kematian narapidana memicu terjadinya kerusuhan dan kebakaran di Lapas Banceuy, Bandung," kata Haris.

Rusuh di lapas, kata Haris, sebenarnya dapat dicegah kalau kepala lapas memberikan informasi yang jelas dan terbuka mengenai sebab kematian Undang. Minimnya pengawasan dan keteledoran yang dilakukan oleh Petugas Lapas juga menjadi salah satu penyebab bagaimana peristiwa bunuh diri tidak dapat diketahui oleh siapapun.

Kasus kematian Undang Kasim, kata Haris, merupakan peristiwa yang tidak bisa dipandang sepele dan disederhanakan dengan analogi bunuh diri. Terlepas dari aktivitas ilegal yang korban lakukan, namun mekanisme pusat penahanan di Indonesia masih memiliki kecacatan hukum sehingga sebenarnya memudahkan atau bahkan membiarkan praktik terlarang terjadi.

Dalam kasus Bancuey, polisi menetapkan empat petugas lapas sebagai tersangka yang diduga melakukan penganiayaan terhadap Undang. Petugas yang jadi tersangka adalah R, G, dan L serta seorang Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan K.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tujuh orang, tiga orang petugas dan satu warga binaan sudah dikembalikan. Sementara yang Empat petugas kami proses dan sudah kami naikan statusnya jadi tersangka," ujar Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol dikutip Tribunnews.

Yoyol mengatakan Undang tewas karena bunuh diri dengan cara gantung diri dengan kain. Kain itu, lanjut Yoyol, didapat dari merobekan celana yang ia kenakan saat berada di ruang isolasi. Tali yang ditemukan di lokasi gantung diri berasal dari kain celana yang dibagikan oleh petugas lapas. Celana dirobek oleh korban dan itu yang digunakan untuk gantung diri

Peristiwa kerusuhan di Lapas maupun rumah tahanan bukan hal baru di Indonesia. Dalam pantauan KontraS, sepanjang tahun 2016 telah terjadi 24 peristiwa kekerasan di Lapas dengan tujuh kasus bentrokan maupun kerusuhan di Lapas di Indonesia. Total korban tewas sebanyak delapan orang.

Dalam temuan KontraS, bentrokan maupun kerusuhan dilatarbelakangi oleh perkelahian antar narapidana, penggunaan handphone di dalam Lapas oleh narapidana, dan razia narkoba yang dilakukan oleh Tim Gabungan yang terdiri dari BNN, Polri dan TNI.

Hingga April 2016, menurut catatan KontraS, tercatat sudah ada tujuh bentrokan di Lapas di Indonesia. DKI Jakarta merupakan provinsi dengan kasus terbanyak, dua insiden. Sementara di Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Bali, dan Aceh, masing-masing menyumbang satu bentrokan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR