Permintaan kontroversial Said Aqil kepada kader PBNU

Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sekaligus Ketum PBNU, Said Aqil Siradj (tengah), bersama Tenaga Ahli Deputi IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin (kiri) tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/1/2019). LPOI mengapresiasi kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Ketua Umum Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sekaligus Ketum PBNU, Said Aqil Siradj (tengah), bersama Tenaga Ahli Deputi IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin (kiri) tiba di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/1/2019). LPOI mengapresiasi kinerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Sebuah kalimat kontroversial terlontar dari mulut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, dalam Harlah Muslimat NU ke-73 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (27/1/2019).

Lelaki yang telah menduduki posisi pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia sejak 2010 itu mengatakan; "Imam masjid, khatib, KUA (kantor urusan agama), harus dari NU. Kalau dipegang selain NU, salah semua."

Sontak pernyataan tersebut menjadi polemik di masyarakat. Sebagian mengatakan bahwa pernyataan tersebut tak mencerminkan akal sehat dan bisa merusak persatuan nasional. Lainnya mengatakan ucapan Said Aqil lucu tapi menyedihkan.

Untuk sikap pertama diungkapkan oleh Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI) sekaligus tokoh Muhammadiyah, Anwar Abbas. Ia menyesalkan perkataan Said tersebut.

"Pernyataan ini jelas tidak mencerminkan akal sehat. Saya yakin pernyataan ini adalah pernyataan dan sikap pribadi dari Said Aqil dan bukanlah sikap dari PBNU," kata Abbas dalam keterangan tertulisnya (h/t CNN Indonesia).

Menurut Abbas, pernyataan dirinya adalah pendapat pribadi, bukan sebagai tokoh Muhammadiyah maupun Sekjen MUI. Dalam Warta Ekonomi, ia menambahkan, "Kalau ini juga menjadi sikap NU, maka negeri ini ada dalam bahaya."

Untuk itu, Abbas meminta Said menarik kembali kata-katanya agar tak menjadi polemik di tengah masyarakat. "Saya meminta Said Aqil untuk menarik ucapannya agar negeri ini tidak rusuh. Sebab, ucapannya jelas-jelas sangat mengancam persatuan dan kesatuan umat," ucapnya.

Sedangkan menurut Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI), Imam Addaruquthni, ucapan suksesor KH. Hasyim Muzadi tersebut tak ubahnya sebagai lelucon. Pasalnya, dalam sepengetahuan Imam, Said merupakan orang yang lucu sedari dulu.

"Memang lucu itu Pak Said Aqil, sudah lucu dari dulu. Jadi pernyataannya memang lucu," ucap Imam.

Masalahnya, lelucon itu menurut Imam sebagai sesuatu yang menyedihkan. Sebab, KH Hasyim Asy'ari, pendiri PBNU, tak pernah berucap demikian.

"Pernyataan itu kami anggap lucu, tapi cukup menyedihkan. Namun, kami di DMI tak menghiraukan pernyataan itu," kata dia.

Imam menjelaskan, terkait penunjukan imam dalam sebuah masjid, semuanya ditentukan berdasarkan metode dan penilaian dari Perguruan Tinggi Ilmu Quran (PTIQ). Begitu juga dengan standar seorang khatib dalam sebuah masjid.

"Jadi baik NU atau Muhammadiyah, kita tidak mempersoalkan itu," ucapnya.

Namun, apa yang disampaikan oleh Said ini, menurut Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini, adalah hal yang biasa. Toh, kata mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut, ucapan Said diperuntukkan bagi internal PBNU.

"Yang disampaikan Pak Said itu kan di internal acara NU. Jadi kepada para kader NU, kalian semua harus menguasai urusan-urusan agama," kata Helmy kepada detikcom.

Menurut Helmy, pernyataan Said tersebut untuk memompa semangat kader MU untuk lebih terlibat di dalam sosialitas masyarakat. Helmy pun mengatakan, jika ada ketua ormas agama lainnya mengatakan hal serupa, bukanlah masalah.

"Pokoknya urusan-urusan itu harus diserahkan kepada ahlinya. Sering sekali beliau sampaikan, ada orang yang nggak ngerti Alquran malah ngajari Alquran," kata Helmy.

Ia pun mencontohkan kasus ustaz muda asal Bandung, Jawa Barat, Evie Effendi, yang sempat menyebut "(Nabi) Muhammad sesat". Menurut Helmy, hal tersebut bisa terjadi apabila seseorang belum memahami konteks Alquran seperti apa.

"Misalnya kayak Ustaz Evie yang mengatakan Nabi sesat. Itu kan dia tidak memahami konteks Alquran," ujar Helmy. Atau, menurut Helmy, contoh lain adalah banyaknya pengkhotbah yang memanas-manasi masyarakat dalam ceramahnya.

"Apa yang disampaikan pak Said adalah respons atas fenomena di media sosial," ucap Helmy.

Sebelumnya, dalam kata sambutannya pada acara Harlah PBNU kemarin, Said meminta para kader PBNU untuk lebih berperan di tengah masyarakat. Peran apa?

"Peran ekonomi, kesejahteraan, kesehatan, sosial, dan masyarakat, muslimat sudah berperan. Yang belum satu, syuhudan syiayah, peran politik. Maka tahun 2019 harus menang. Supaya NU berperan syuhudan syiayah," ucap Said.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR