Perseteruan Fahri Hamzah dan PKS berlanjut ke polisi

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah usai memberikan keterangan kepada wartawan tentang pemecatannya dari PKS di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/4/2016).
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah usai memberikan keterangan kepada wartawan tentang pemecatannya dari PKS di Gedung DPR, Jakarta, Senin (4/4/2016). | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Perseteruan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah dengan partainya sendiri, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus berlanjut. Fahri melaporkan Presiden PKS, Sohibul Iman ke polisi pada Kamis (8/3/2018).

Fahri melaporkan Sohibul atas dugaan pelanggaran pasal 310, 311 KUHP dan terkait pula pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Fahri menuding Sohibul telah memfitnah dan mencemarkan nama baiknya, termasuk soal statusnya sebagai pimpinan DPR.

"Tentunya ada hubungan dengan saya yang dituduh berbohong dan membangkang," kata Fahri melalui Antaranews.

Perseteruan Fahri dengan partainya bermula dari pemecatan di partai berlogo padi dan bulan sabit. Pada 4 April 2016, PKS merilis alasan mengeluarkan Fahri dari keanggotaan partai karena dianggap melanggar disiplin.

Fahri dianggap sering membuat pernyataan kontroversial, kontraproduktif dan tidak sejalan dengan arahan partai, misalnya pernyataannya tentang KPK. Fahri disidangkan oleh majelis partai dan dianggap terbukti melakukan pelanggaran disiplin organisasi dengan kategori berat pada 29 Januari 2016.

Putusan pemecatan itu berimplikasi terhadap posisi Fahri sebagai anggota dan Wakil Ketua DPR. Fraksi PKS sempat mengirimkan surat pemecatan Fahri ke pimpinan DPR dan mengajukan Ledia Hanifa Amaliah pada 6 April 2016.

Fahri tak tinggal diam dan menempuh jalur hukum atas pemecatannya. Fahri memenangkan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pada 14 Desember 2016, putusan hakim berpihak untuk Fahri yang menyatakan pemecatan tidak sah.

Fahri tetap unggul pada sidang banding di Pengadilan Tinggi Jakarta yang diajukan kubu Sohibul pada 14 Desember 2017. Ia pun bertahan sampai sekarang di kursi pimpinan DPR, meski dianggap tak lagi berpartai.

Perseteruan kini berlanjut lagi ke kepolisian, dengan laporan Fahri terhadap Sohibul. "Pengadilan meminta saya dipulihkan. Memang kita menunggu kasasi tetapi gangguan dilontarkan silih berganti," tulis Fahri, melalui akun @Fahrihamzah yang terverifikasi di Twitter.

Gangguan itu, kata Fahri, telah melampaui batas ketika Sohibul menuduhnya berbohong dan membangkang. Fahri mengatakan reputasinya sedang dirusak dan dihilangkan meski pengadilan memenangkan gugatannya.

Fahri membuka peluang untuk mencabut laporannya atas Sohibul Iman. Laporan itu akan dicabut jika Sohibul mundur dari jabatannya sebagai Presiden PKS.

"Saya ingin melapor, tapi kalau dia mau mundur bagi partai itu bagus sekali, ya saya akan cabut laporan saya. Tapi kalau tidak ya dia harus hadapi ini," kata Fahri.

Sohibul tak menanggapi laporan ke polisi oleh Fahri dan langkah hukumnya. Di ranah maya, akun @msi_sohibuliman (diyakini sebagai akun Sohibul), menuliskan status di Twitter setelah Fahri membuat laporan ke polisi perihal api.

Akun itu menulis bahwa api sulit eksis tanpa medium benda lain. Api juga selalu membakar benda lain yang membuatnya eksis itu menjadi abu. Padahal dengan medium benda lain itu jadi abu maka api pun hilang.

Jadi api itu tidak independen (parasit) dan sudak merusak (tiji tibeh/mati satu mati semua). "Maka hati-hatilah dengan api," tulis akun @msi_sohibuliman seraya menautkan tagar #KembaraJiwa.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR