TAMBANG LIAR

Pertambangan liar berisiko, tapi menggiurkan warga Desa Bakan

Dua warga Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Sulawesi Utara, tampak sedang menyortir batu untuk mendapatkan emas dengan menggunakan alat tromol.
Dua warga Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Sulawesi Utara, tampak sedang menyortir batu untuk mendapatkan emas dengan menggunakan alat tromol. | Franco Dengo /Beritagar.id

Insiden longsor yang terjadi di pertambangan tanpa izin Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Selasa (26/2/2019), menyisakan duka yang mendalam. Puluhan korban meninggal dunia, tertimbun tanah di dalam lokasi tambang.

Hingga Kamis (28/2), sudah 27 orang dievakuasi di daerah bencana itu. Delapan orang di antaranya meninggal, sedangkan 19 orang lainnya selamat. Namun diduga masih banyak penambang yang terperangkap di dalamnya.

Di balik kejadian memilukan itu, publik pun dibuat penasaran--mengenai apa yang membuat para penambang nekat ambil risiko membuat lubang di dalam tanah--yang mereka tahu kapan saja bisa roboh.

Bagi masyarakat di Desa Bakan dan beberapa desa tetangga di Kecamatan Lolayan, tambang merupakan ladang rezeki. Mayoritas warga di sana adalah penambang, selain berkebun.

Tanah pegunungan di wilayah itu dipercaya mengandung emas yang melimpah. Hal inilah yang membuat warga marak membuat pertambangan, meskipun kebanyakan ilegal, alias pertambangan emas tanpa izin (PETI).

"Kalau sehari naik (masuk tambang), pulang bisa bawa 2 juta sampai 6 juta (rupiah). Soalnya, gunung-gunung di sini emasnya banyak. Di tambang yang terjadi longsor itu, material emasnya lebih besar, dan siapapun bisa masuk," ujar Yusuf Rasid (50), penambang dari Desa Tanoyan Selatan, Kecamatan Lolayan, saat diwawancarai Beritagar.id, Sabtu (2/3/2019).

Lebih lanjut, Yusuf mengatakan bahwa tambang yang pernah longsor tersebut sebelumnya sudah beberapa kali mengalami longsor kecil, tetapi tidak memakan korban.

Sebagai penambang, Yusuf mengaku tidak terlalu memikirkan mengenai risiko, selama bisa mendatangkan uang yang banyak dengan mudah. "Daripada berkebun yang harus menunggu lama untuk panen. Tidak ada pilihan lain selain masuk tambang, untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Semua pekerjaan ada risikonya," ungkap dia.

Yusuf beruntung. Saat longsor terjadi, ia belum masuk lubang karena sehari sebelumnya baru turun dari sana. Banyak rekan-rekannya yang masih terjebak longsor di tambang tersebut.

Sebelum marak pertambangan ilegal di wilayah itu, sebuah perusahaan pertambangan PT. J Resource Bolaang Mongondow sudah terlebih dahulu mengais emas di pegunungan sejak tahun 2012. Anak dari perusahaan PT. J Resource Asia Pasifik. Tbk ini menguasai sebagian besar wilayah pertambangan, termasuk berdekatan dengan lokasi tambang yang terjadi longsor.

Dari kejauhan tampak bukit yang telah dipapas untuk penambangan emas liar di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.
Dari kejauhan tampak bukit yang telah dipapas untuk penambangan emas liar di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. | Franco Dengo /Beritagar.id

Tambang-tambang tanpa izin di Desa Bakan sangat banyak, baik milik kelompok maupun individu. Yosis Dingkol (60), warga setempat, mengatakan bahwa dirinya membuat tambang di kebunnya. Meski diakuinya termasuk ilegal, ia mengklaim tiga lubang tambang miliknya yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi tambang longsor itu, dibuatnya sederhana dan aman.

"Saya gali hanya beberapa meter saja. Tidak ekstrem seperti tambang lain. Hanya untuk ambil sedikit-sedikit. Untuk tambah-tambah pendapatan selain dari hasil kebun saja," ujar pria yang sudah melakoni dunia tambang sejak tahun 1981 ini, saat ditemui Beritagar.id.

Di rumahnya, Yosis juga membuat usaha alat tromol (penghancur material bebatuan sebelum disortir menjadi emas), yang sering disewakan kepada para penambang. Usaha yang dirintis sejak tahun 2012 itu dilakukannya karena melihat banyak warga yang mulai beralih menjadi penambang.

Pemerintah, menurut Kepala Desa Bakan Ahmad Japri, sudah berulang kali melakukan peringatan kepada masyarakat, terkait bahaya tambang yang tidak aman dan tak sesuai prosedur. Namun, tetap masih banyak yang masuk.

Kebanyakan, menurut Ahmad, adalah warga dari luar Kecamatan bahkan dari luar Kota."Bahkan pihak kepolisian berulang kali memberhentikan operasi tambang yang ilegal itu. Tapi, hanya beberapa hari saja, tetap mereka masih naik kesana. Pemerintah selalu melakukan peringatan," tegas Ahmad.

Ini bukanlah kecelakaan pertama terkait PETI yang terjadi di Desa Bakan. Tahun lalu juga terjadi beberapa kecelakaan, termasuk pada Juni 2018 yang mengakibatkan tewasnya lima penambang, disusul tertimbunnya seorang penambang pada November.

Masalah penambangan liar di Indonesia sebenarnya sudah sangat kritis. Para pengambil kebijakan sepertinya abai terhadap persoalan yang membahayakan ini. Bukan hanya mengakibatkan kerusakan lahan yang besar, atau hilangnya pemasukan untuk negara, namun yang lebih fatal lagi dapat meregang nyawa banyak warga.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR