EKSPLORASI MIGAS

Pertamina andalkan teknologi mutakhir di Blok Mahakam

Anjungan eksploitasi migas lepas pantai milik Pertamina di Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jumat (6/9/2019).
Anjungan eksploitasi migas lepas pantai milik Pertamina di Blok Mahakam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Jumat (6/9/2019). | Sri Gunawan Wibisono /Beritagar.id

Pertamina berupaya menjaga produksi sumur minyak gas Blok Mahakam dengan memaksimalkan teknologi mutakhir. Sejumlah sumur tua wilayah kerja (WK) migas di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), ini memang membutuhkan penanganan khusus untuk menjaga produksi migasnya.

"Semua inovasi teknologi dalam hal pengeboran sumur itu dilakukan tanpa sedikit pun mengorbankan faktor keselamatan," kata Manager Umum PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) John Anis, Sabtu (7/8/2019).

Realisasi produksi Blok Mahakam sudah tidak sebagus dulu. Lifting gas pada kurun Januari-Mei 2019 meleset menjadi 664 MMscfd. Sementara lifting minyak, menurut Data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Kalimantan dan Sulawesi, pada periode senada berkisar 39.695 BOPD.

Artinya hasil lifting di bawah target pemerintah. Blok Mahakam kini ditangani PHM, cucu perusahaan Pertamina, sejak operator lawas Total E&P Indonesie (TEPI) habis kontrak pada 2017.

Persoalannya, pemerintah membebani target produksi 48.271 BOPD kondensat dan 1.110 MMscfd gas. Padahal Blok Mahakam diisi sejumlah sumur tua dan minim sumur baru. Tidak heran dalam setahun belakangan, produksinya turun terus.

Itu sebabnya, John mengaku mengelola blok yang unik. Karakter reservoir persis di dalam kawasan delta Sungai Mahakam. Akibatnya, reservoir migas Blok Mahakam berbentuk kantong kecil tersebar di area seluas 3 ribu km2. "Kedalamannya di rawa rawa bisa mencapai 5.000 meter," ungkapnya.

Ini pula menjadi alasan, kenapa produksi PHM bergantung pada temuan sumur-sumur baru. Masing-masing reservoirnya tidak terkoneksi antara satu dengan lainnya.

Sehubungan itu, John pun memutuskan pengembangan sumur di zona dangkal (shallow zone). Namun, metode eksploitasi migas di zona dangkal memiliki risiko tinggi.

Alhasil para teknisi PHM harus terus mengembangkan metode baru eksploitasi zona ini. "Zona-zona dangkal yang dinamakan shallow gas development," ungkapnya.

Pengeboran di zona dangkal

Upaya pengembangan sumur zona dangkal sejauh ini sudah membuahkan hasil positif. PHM berhasil mengebor 200 sumur baru tanpa insiden. "Pengembangan pengeboran di rawa-rawa nantinya dikembangkan di area lepas pantai (offshore)," papar John.

Selain itu, PHM juga merencanakan sistem pengeboran high pressure high temperature (HPHT) di lapangan Tunu. Mereka merancang arsitektur pengeboran menghadapi tantangan tekanan tinggi reservoir (>13.000 Psia) dan panas suhu gas (>160 oC).

Soal satu ini, John menyatakan PHM harus mengintegrasikan fasilitas produksi sesuai rencana pengeboran. Permasalahannya, fasilitas pengeboran PHM tidak dirancang dalam sistem pengeboran ini.

Meski begitu, PHM berhasil mengembangkan sumur sederhana percepatan pengeboran (light architecture). Saat bersamaan menciptakan desain platform tepat guna (ultra minimalist platform) menggunakan struktur zeepod atau braced monopod.

Sejauh ini, John mengklaim mampu menyelesaikan pengeboran lapangan Handil, masing-masing sumur gas (3,4 hari), dan minyak (4,98 hari). Teknologi barunya pun mempersingkat aktivitas pengeboran menjadi lebih dari 1,5 hari.

"Inovasi tersebut telah berhasil memangkas biaya operasi pengeboran," tuturnya.

Sehubungan itu, PHM sudah mengantongi lampu hijau dari SKK Migas untuk melaksanakan program optimalisasi pengembangan lapangan. Perusahaan menargetkan pengeboran 257 sumur baru selama program kerja 2020 hingga 2023.

"PHM memprogramkan pengeboran 118 sumur, 78 di antaranya sudah selesai dibor pada bulan Agustus," ungkap John.

Programnya mencakup pemasangan booster compressor di anjungan Lapangan Peciko. Selain itu juga menyambung anjungan Jempang Metulang di lapangan South Mahakam ke anjungan Sepinggan P milik PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur, cucu Pertamina lainnya. "Untuk memasok gas ke kilang Refinery Unit (RU) V di Balikpapan," tutur John.

Sehingga secara bertahap, menurut John, PHM pun berkontribusi memasok gas untuk pengembangan kilang proyek refinery development master plan (RDMP) Balikpapan.

Tingkat produksi PHM rata rata bertahan di angka 700 MMscfd hingga bulan Juli lalu. Pertamina mampu menahan laju penurunan produksi Blok Mahakam sebesar 686 MMscfd atau lebih tinggi 2 persen dibanding tahun sebelumnya.

John menyatakan, pengembangan teknologi baru merupakan kunci utama pengembangan Blok Mahakam. Teknologinya terbukti memangkas biaya produksi di tengah masalah penurunan produksi sumur tua.

PHM berjuang menahan laju penurunan produksi lewat pengembangan operasi surface dan subsurface. PHM mengoptimalkan lapangan tuanya seperti Handil, Tunu, Bekapai, Tambora, Peciko, Sisi dan Nubi.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR