PERUMAHAN

Pertumbuhan jutawan mengancam milenial

Siluet warga dengan latar bangunan hunian apartemen di Jakarta, Rabu (8/11/2017). Pertumbuhan orang kaya membuat generasi milenial makin susah membeli tempat tinggal.
Siluet warga dengan latar bangunan hunian apartemen di Jakarta, Rabu (8/11/2017). Pertumbuhan orang kaya membuat generasi milenial makin susah membeli tempat tinggal. | Galih Pradipta /Antara Foto

Pernyataan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi kerap memancing komentar warganet. Setelah banyak komentarnya menyoal hukum kliennya, kini merembet ke soal pajak.

"Saya suka mewah. Saya sekali keluar negeri itu spend minimum 3 m - 5 m, (miliar)" kata pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi kepada pembawa acara Najwa Shihab. Tas Hermes yang harganya Rp1 miliar, menurut Fredrich, juga tak lepas dari daftar belanjanya.

Akibat menonjolkan diri, Fredrich mulai jadi incaran pajak. Direktorat Pajak bakal memeriksa laporan pajak Fredrich selama ini.

Orang-orang kaya di Indonesia sebenarnya banyak, bukan hanya Fredrich.

Menurut riset terbaru dari Credit Suisse, di Indonesia ada sekitar 111 ribu miliarder. Mereka adalah yang memiliki kekayaan antara US$1 juta-US $50 juta. Ini setara Rp13,5 miliar hingga Rp675 miliar.

Sedangkan kaum superkaya alias (Ultra High Net Worth Individual), ada 868 orang. Kaum superkaya adalah mereka yang memiliki kekayaan lebih dari Rp675 miliar.

Sedangkan Rata-rata kekayaan orang dewasa di Indonesia mencapai US $11 ribu. Ini setara Rp148,5 juta.

Jumlah ini diperkirakan akan bertambah 10 persen tiap tahunnya. Alhasil, dalam lima tahun ke depan diperkirakan akan ada 180 ribu jutawan dan lebih dari 1.400 orang superkaya.

Urs Rohner, Kepala Credit Suisse Research Institute dan Kepala Dewan Direksi Credit Suisse Group menyatakan, secara global pertumbuhan kekayaan juga melebihi pertumbuhan populasi. Rata-rata kekayaan orang dewasa tumbuh 4,9 persen menjadi US $56.540 per orang, atau setara Rp763 juta.

"Sejak awal krisis keuangan global sepuluh tahun lalu, kami melihat adanya peningkatan signifikan dalam kekayaan di semua wilayah di dunia," ujarnya lewat siaran pers, Kamis (23/11/2017).

Pertumbuhan kekayaan ini belum tentu kabar gembira. Sebab, munculnya kekayaan akan menimbulkan persaingan baru.

Salah satunya adalah persaingan tempat tinggal. Saat masyarakat makin banyak orang kaya, maka tempat tinggal akan makin tinggi harganya.

"Generasi ini menghadapi langsung masalah pengangguran yang timbul setelah krisis, meningkatnya ketidaksetaraan pendapatan serta harga properti yang meningkat, peraturan KPR yang lebih ketat," tulisnya.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Rumah123, pada tahun 2020, hanya 5 persen kaum dari milenial yang sanggup membeli rumah di Jakarta dan sekitarnya. Sisanya berdiam tanpa kepemilikan tempat tinggal. Entah mengontrak, kos, atau sewa lainnya.

Milenial yang bekerja, kenaikan gajinya tak sebanding dengan kenaikan harga rumah. Menurut data Rumah123, rata-rata kenaikan harga properti di Indonesia mencapai 17 persen.

"(Harga) Rumah naiknya sangat besar, bahkan pernah sampai 100 persen dalam setahun," kata Country General Manager Rumah123, Ignatius Untung kepada detikFinance, Senin (27/11/2017).

Sedangkan kenaikan upah di Indonesia, rata-rata dibawah 10 persen. Tahun depan, kenaikan upah dipatok minimum 8,71 persen.

Menurut data BPS, generasi milenial semakin banyak yang memilih tinggal bersama orang tua. Salah satu alasannya, karena tingginya harga properti yang tak sebanding dengan kenaikan pendapatan. Di beberapa kota, pemilik rumah di rentang usia 25-39 tahun lebih sedikit dari rentang usia lain. Paling sedikit di Jakarta.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR