BUDAYA DIGITAL

Perubahan perilaku digital konsumen memicu model bisnis baru

Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel A Pangerapan (kanan) bersama Digital Hub Project Leader Sinar Mas Land Irawan Harahap (keempat kanan) dan Founder Binar Academy Alamanda Santika (ketiga kanan) melihat anak didik membuat dan merancang aplikasi digital seusai meresmikan Binar Academy di The Breeze BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (12/12/2018).
Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel A Pangerapan (kanan) bersama Digital Hub Project Leader Sinar Mas Land Irawan Harahap (keempat kanan) dan Founder Binar Academy Alamanda Santika (ketiga kanan) melihat anak didik membuat dan merancang aplikasi digital seusai meresmikan Binar Academy di The Breeze BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (12/12/2018). | Muhammad Iqbal /Antara Foto

Teknologi terus berinovasi, sesuai perkembangan yang berlangsung di masyarakat. Sebentar lagi kita bakal memasuki 2019, membaca tren yang akan terjadi dalam masyarakat sebagai konsumen pun menjadi perlu.

Sri Widowati, Country Director Facebook di Indonesia, mengungkapkan perubahan perilaku sosial masyarakat dalam bersosial media telah membentuk model bisnis baru di platform digital.

Facebook menemukan bahwa 2018 menandakan dimulainya era konsumen multi-screen dengan pemanfaatan perangkat mobile lebih sering ketimbang desktop. Sri mengatakan kecenderungan penggunaan mobile untuk mengakses media sosial akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan pasar daring (online).

"Di Facebook, kami melihat tiga tren konsumen tahun ini yang akan meningkat pada 2019: Video, Stories, dan Messaging," ungkap Sri dalam keterangan resmi yang dikutip Sabtu (15/12/2018).

Agustus lalu, Facebook meluncurkan fitur "Watch" yang memungkinkan pengguna menonton dan melakukan streaming video melalui akun media sosial mereka. Usai peluncuran tersebut, Facebook menemukan tingkat adopsi yang sangat kuat di Asia Pasifik -- terutama di India, Filipina, Indonesia, dan Malaysia.

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu mengungkapkan bahwa Asia Pasifik memimpin dalam jumlah orang yang mengakses konten video di perangkat mobile.

"Perpindahan perangkat mobile ini terlihat jelas di negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia, yang mana orang menghabiskan masing-masing 3.9, 3.7, dan 3.4 jam di perangkat mereka," ujar Sri.

Penemuan lain yang menarik adalah adopsi konsumen terhadap format "stories" yang hanya selintas. Fitur ini memungkinkan pengguna mengunggah beberapa foto dan video yang secara otomatis hilang setelah 24 jam.

"Saat ini orang membagikan lebih dari 1 miliar stories setiap hari melalui Facebook, Instagram, dan Whatsapp. Asia Pasifik berkontribusi dalam jumlah pembuat stories tertinggi yakni mencapai 40 persen," ujarnya.

Laporan terkini dari eMarketer, menyatakan bahwa hal ini mempengaruhi beberapa tren konsumen. Misalnya, konsumen menjadi cenderung lebih senang membagikan video dibandingkan berbagi teks.

Dari segi keamanan, konsumen juga merasa berbagi lewat stories lebih aman karena konten yang diunggah hanya eksis untuk sementara. Preferensi ini juga menjadi pemicu meningkatnya penggunaan messaging atau pesan instan.

Dari semua tren konsumen yang dilihat Facebook, fitur "messaging" membawa dampak yang besar bagi bisnis. Seseorang jadi punya jalur khusus untuk berhubungan dengan pelaku bisnis yang mereka minati untuk melakukan transaksi.

"Orang menggunakan messaging ketika mereka menginginkan panduan sebuah merek atau keahlian tertentu. Ketika mereka mencari pengalaman belanja yang lebih efisien.

"Dan ketika mereka ingin memberikan sinyal bahwa mereka terbuka untuk informasi penting, baik itu notifikasi pengiriman barang dari ritel favorit atau perubahan jadwal dari maskapai penerbangan," ujarnya.

Facebook mencatat, orang dan pelaku bisnis di seluruh dunia saat ini bertukar lebih dari 10 miliar pesan dalam platform Whatsapp setiap bulan. Preferensi untuk messaging bahkan lebih terlihat di Asia Pasifik, dengan 87 persen pemilik ponsel menggunakan aplikasi messaging setiap bulan.

Fitur messaging memainkan peran penting karena mampu menggiring masyarakat dan para pelaku bisnis ke dalam sebuah percakapan yang dapat dibina terus-menerus. Jadi bukan hubungan satu kali saja.

Dalam beberapa kasus, messaging dapat menawarkan pengalaman layaknya asisten pribadi. Setelah menjawab sebuah pertanyaan awal, seseorang dapat terlibat dalam dialog serta menemukan pengalaman yang lebih personal dan bermakna.

Dapat berkomunikasi dengan pelaku bisnis dianggap mampu membuat seseorang merasa lebih terhubung dan lebih percaya diri tentang merek tersebut.

"Ini adalah paradigma baru ketika pelaku bisnis mampu membuat seseorang merasa diperhatikan dan menciptakan hubungan yang awet antara pebisnis dengan pelanggan," jelas Sri.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR