Perundungan di kampus Gunadarma berbuah kecaman

Aktivis melakukan kampanye anti perundungan di Jakarta, 28 November 2007.
Aktivis melakukan kampanye anti perundungan di Jakarta, 28 November 2007.
© Weda /Epa

Video mahasiswa berkebutuhan khusus yang mengalami perundungan (bully) di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat menjadi perbincangan di media sosial. Video berjudul "lmparan tong sampah maut" menuai kecaman karena terjadi di lingkungan akademik.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Gunadarma Irwan Bastian membenarkan video dengan durasi 15 detik itu adalah mahasiswa Gunadarma. "Korban memang mahasiswa kami. Pelakunya juga mahasiswa dan mereka teman sekelas," kata Irwan.

Korban adalah mahasiswa autistik yang kuliah di Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (FIKTI) Gunadarma angkatan 2016. Kampus ini menerima anak berkebutuhan khusus yang punya kemampuan di bidang akademik

Dalam video itu, mahasiswa bernama F itu sedang berjalan, namun tasnya ditarik-tarik oleh seorang mahasiswa dari belakang. Dua mahasiswa menahan dari depan. Mahasiswa lainnya mendiamkan bahkan menyoraki kejadian itu. F tak menerima perlakuan itu dan berusaha melawan. Pada akhir tayangan, ia melemparkan tong sampah, meski tak kena ke pelakunya.

Irwan menambahkan para pelaku perundungan sudah mendatangi rumah F untuk meminta maaf. Walau sudah menunjukkan itikad baik, Irwan mengatakan tiga pelaku tetap dipanggil untuk menegakkan tata tertib kehidupan kampus.

Irwan menyatakan akan menindak tegas pelaku perundungan mahasiswa berkebutuhan khusus yang terekam dalam video viral. "Kami sangat prihatin dan menyesalkan kenapa bisa terjadi. Kami akan bertindak cepat untuk menindaklanjuti dan menuntaskannya," ujar Irwan.

Perundungan terhadap mahasiswa autistik itu mendapat sorotan berbagai kalangan, termasuk istana. Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki menilai, harusnya perilaku seperti itu tidak terjadi lagi, terutama di lingkungan akademik. "Ya, mestinya pem-bully-an itu tidak terjadi lagi," ujar Teten.

Teten mengatakan, pihak sekolah atau kampus harus mampu membangun kesadaran bersama di kalangan civitas akademika untuk tidak lagi melakukan bully. Teten menilai, perilaku bully tersebut lebih kepada standar etika. Civitas akademika harus memiliki respek terhadap sesama.

Perundungan dan aspek hukumnya

Perundungan atau bullying merupakan perilaku agresif secara fisik atau verbal terhadap seseorang dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Perundungan fisik, misalnya memukul, mendorong, menggigit, menjambak, mencakar, memeras, mengunci dalam ruangan dan lain-lain.

Perundungan verbal, contohnya mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama, sarkasme, merendahkan, mencela, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip, dan lain-lain.

Hasil penelitian yang digelar Interactive Autism Network (IAN) dan Johns Hopkins University menyebutkan anak autistik tiga kali lebih sering mengalami perundungan di lingkungannya. Penelitian menyatakan bahwa pelaku intimidasi cenderung memilih korban yang mereka tahu teman sekelasnya tidak akan membela.

Pelaku perundungan sebenarnya bisa dijerat dengan hukum pidana. Perundungan terhadap anak dapat menggunakan Undang-Undang Perlindungan Anak.

Beberapa pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) juga dapat diterapkan untuk menjerat pelaku perundungan apabila korban melaporkan perundungan itu.

Perundungan fisik dapat dijerat dengan pasal 333 tentang perampasan kemerdekaan, pasal 351 tentang penganiayaan, pasal 170 tentang penyerangan, pasal 368 tentang pemerasan, dan lain-lain. Ancaman hukumannya 1 sampai 12 tahun.

Perundungan verbal pun dapat dijerat dengan pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan, pasal 336 tentang pengancaman di muka umum, dan lain-lain. Pasal-pasal ini ancaman hukumannya 1 sampai 5 tahun.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.