Pesan berantai soal tilang elektronik dinyatakan hoax

CCTV terpasang di jembatan penyeberangan orang di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur, Selasa (12/9/2017).
CCTV terpasang di jembatan penyeberangan orang di Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur, Selasa (12/9/2017).
© Galih Pradipta /Antara Foto

Polisi sedang punya gawe. Mereka mulai memasang kamera pengawas (CCTV) di sejumlah ruas jalan untuk memantau para pengguna lalu lintas. Jika pengguna lalu lintas melanggar tanpa disadari, tilang elektronik (e-tilang) menanti.

Namun demikian gawe baru itu justru disambut kabar bohong alias hoax. Polisi memang berniat menerapkan e-tilang, tapi masih dalam tahap ujicoba secara terbatas dan penerapan pasti juga belum jelas waktunya.

Satu kota yang siap melakukan ujicoba adalah Surabaya, Jawa Timur. Ini pun masih dipersiapkan segala kebutuhannya, termasuk Kejaksaan Negeri Surabaya.

Sementara di kota lain belum ada rencana karena masih menunggu kesiapan infrastruktur. Malangnya, pekan lalu, broadcast soal e-tilang membanjiri grup obrolan WhatsApp.

Berbagai broadcast itu antara lain menampilkan informasi ujicoba e-tilang di tiga kota di Jawa Barat (Depok, Bekasi, dan Bandung); Medan (Sumatera Utara); dan Jakarta. Uniknya seluruh isi broadcast itu sama dan hanya berbeda pada nama kota.

Isi broadcast di grup obrolan WhatsApp.
Isi broadcast di grup obrolan WhatsApp.
© Hedi Novianto /Beritagar.id

Menurut Kepala Dinas Perhubungan Depok, Gandara Budiana, Senin (11/9/2017), informasi itu sama sekali tak berdasar. Depok punya sejumlah CCTV sejak lama, tapi bukan karena akan memberlakukan tilang elektronik.

Penegasan bahwa informasi yang beredar itu bohong disampaikan Kasat Lantas Polresta Depok, Komisaris Sutomo. Pihaknya belum punya rencana tilang elektronik.

"Setelah kita koordinasi dengan Dishub, dipastikan belum ada penerapannya seperti itu," ujar Sutomo dilansir Depoktik.

Bantahan juga dikeluarkan Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Rina Sari Ginting. "Kota Medan belum siap menerapkan itu (tilang elektronik)," katanya dalam Tribun Medan, Selasa (12/9).

Adapun Direktur Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Halim Pagarra, menyatakan Jakarta masih jauh dari kesiapan melakukan ujicoba tilang elektronik. Peralatannya saja belum ada," tuturnya dikutip Viva.

Menerapkan tilang elektronik tidaklah mudah. Pengamat Otomotif Yannes Martinus dalam Kabaroto menjelaskan sejumlah prasyarat tilang elektronik, selain CCTV.

Pertama, sistem informasi dan komunikasi Dinas Perhubungan sudah mumpuni. Kedua, manajemen lintas-instansi juga mesti dibenahi. Perlu diingat pula bahwa tilang elektronik masuk dalam ranah Internet of Things (IoT).

Yannes memberi contoh dengan konteks Surabaya. Jika alamat seorang pengguna kendaraan berbeda dengan alamat pemilik kendaraan, polisi akan kebingungan. Itu sebabnya dibutuhkan sebuah sistem yang terintegrasi dalam satu basis data (database).

Jadi dalam sistem itu bakal ada data dinas perhubungan, kepolisian, dinas pendapatan daerah (yang mengutip pajak kendaraan bermotor), dan dana kependudukan (KTP). Bila itu sudah berada dalam satu basis data, masih dibutuhkan sebuah regulasi.

"...regulasi kepemilikan kendaraan bermotor wajib sama dengan nomor SIM & KTP sehingga setiap perpindahan alamat, otomatis database-nya juga ter-update," katanya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.