KASUS NOVEL BASWEDAN

Pesan Novel Baswedan untuk penyerangnya

Sejumlah pegawai KPK menggelar doa bersama untuk Novel Baswedan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/7/2017).
Sejumlah pegawai KPK menggelar doa bersama untuk Novel Baswedan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/7/2017). | Reno Esnir /ANTARAFOTO

Dengan mengenakan peci putih dan kaos hitam, Novel Baswedan muncul dalam video pendek berdurasi dua menit lebih lima detik.

Video pertama kali diunggah oleh akun Twitter milik Dahnil Azar Simanjuntak (@Dahnilazar), Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, pada Senin (24/7/2017) malam.

Dalam video yang diyakini direkam Dahnil bersama koordinator KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) Haris Azhar, Novel terlihat bugar, mampu berdiri, meski kerusakan pada mata kirinya terlihat begitu jelas.

Suara Novel juga terdengar stabil dan tenang saat menyampaikan beberapa hal perihal kondisi terakhirnya dan juga pesan khusus untuk penyerangnya. Novel membuka video dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan mendoakannya dalam proses penyembuhan, baik di Singapura maupun Indonesia.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini turut menjelaskan kondisi terakhir kedua matanya,

"Mengenai mata saya, sekarang memang sedang dalam proses penyembuhan, terutama mata kiri yang memang butuh waktu dan ada perlu tahapan operasi, agar fungsi penglihatannya kembali," ucap Novel.

Video ini sepertinya memang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa apa yang telah menimpa Novel, tak akan membuatnya gentar dalam melakukan upaya pemberantasan korupsi.

Novel bahkan menyebut upaya penjegalan melalui teror-teror yang dialamatkan padanya adalah sebuah kesia-siaan.

"Saya ingin menyampaikan semangat kepada teman-teman semua. Kejadian ini tentunya tidak akan mengurangi semangat pemberantasan korupsi dan hal-hal lain yang merupakan tugas dan tanggung jawab kita semua," lanjutnya.

Novel pun mengirimkan pesan, khususnya untuk pemuda pemudi Indonesia untuk semakin peduli terhadap kepentingan nusa, bangsa serta orang banyak.

Mantan polisi dengan pangkat terakhir komisaris itu diserang dengan air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 usai melaksanakan salat Subuh di masjid dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Penyerang berhasil mengenai wajah Novel yang berakibat pada kerusakan pada mata kirinya.

Sudah lebih dari 100 hari setelah kejadian tersebut, polisi urung juga menetapkan satu pun tersangka. Pelaku penyerangan, seperti keterangan awal Novel dan beberapa saksi lainnya, terdiri dari dua orang yang berboncengan mengendarai sepeda motor.

Polisi sudah beberapa kali memeriksa sejumlah orang, namun selalu dilepaskan kembali dengan alasan alibi yang tak sesuai. Terakhir, polisi kembali memeriksa satu orang terduga berinisial AL, berdasarkan sketsa wajah dan keterangan tetangga Novel.

Namun, kelanjutan status AL juga masih sumir hingga saat ini. Kepada Time, Novel sempat menduga bahwa ada orang kuat dalam tubuh kepolisian yang terlibat dalam peristiwa ini, sehingga penyelesaian kasus menjadi sangat lambat.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono beralasan menemukan beberapa kendala untuk penyidik dalam penyelidikan kasus ini, salah satunya adalah belum adanya izin dokter di Singapura untuk memeriksa Novel.

Jika izin itu sudah di tangan, Argo mengaku penyidik kepolisian dan pihak KPK akan segera ke Singapura untuk meminta keterangan langsung dari Novel soal penyerangan itu.

"Kami masih menunggu dari KPK kapan berangkatnya," ucap Argo, dalam Republika, Senin (24/7/2017).

Selain itu, Argo juga mengaku kesulitan dengan minimnya saksi mata. Sebab, dari rekaman CCTV yang ada di sekitar lokasi kejadian, polisi juga mengaku tak menemukan tanda-tanda khusus pelakunya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR