Pesantren waria Yogya ''dipaksa'' tutup

Sejumlah polisi berjaga di pintu masuk pondok pesantren wanita pria (waria) Al Faatah di Kotagede, Yogyakarta, Jumat (19/2).
Sejumlah polisi berjaga di pintu masuk pondok pesantren wanita pria (waria) Al Faatah di Kotagede, Yogyakarta, Jumat (19/2). | Regina Safri /ANTARA FOTO

Jati Bayubroto, Camat Banguntapan, Bantul Yogyakarta memutuskan menutup pesantren Al-Fatah. Pesantren Al-Fatah selama ini dikenal sebagai pesantren yang dihuni oleh para waria.

BBC Indonesia menulis, penutupan dilakukan setelah pengelola pesantren, perwakilan warga, dan pimpinan Front Jihad Islam (FJI) melakukan pertemuan, Rabu (24/2/2016) malam. Menurut Jati, mayoritas peserta yang hadir menginginkan pesantren itu ditutup. Mereka beralasan, pesantren itu tidak berizin dan meresahkan warga.

Selain itu, kata Jati, pesantren itu juga dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islami. "Pernah didapati ada miras dan itu menjadi salah satu alasan keberatan warga," katanya.

Pesantren Al-Fatah selama ini menempati rumah tinggal dan pimpinan pesantren itu, Shinta Ratri.

Kuasa hukum pesantren, LBH Yogyakarta mempertanyakan alasan penutupan dan tuduhan Camat Jati itu.
Anggota LBH Yogyakarta Aditia Arief Firmanto Aditia menilai pertemuan Rabu malam itu bukan musyawarah melainkan penghakiman terhadap Shinta Ratri. "Kami sendiri tidak diperbolehkan ikut," kata Aditia.

Mantan Lurah Jagalan, Sholehudin yang lengser April 2015 membantah soal soal adanya keberatan warga sekitar. Kata dia, selama ia menjabat, "belum pernah menerima laporan warga yang merasa terganggu atas aktivitas ponpes waria."

Pembina Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Kiai Abdul Muhaimin juga menyesalkan penutupan ini. Portalkbr.com, menulis, seharusnya pemerintah bukan menutup tapi memberi jalan keluar.

"Tidak pada tempatnya kalau mengaku orang Islam malah melakukan represi terhadap orang yang ingin menjadi muslim dengan segala potensinya dan keterbatasan," katanya.

Muhaimin menyayangkan intimidasi yang dilakukan oleh Front Jihad Islam, yang akhirnya berbuntut penutupan tersebut. Menurut dia, selama penjadi pengasuh di ponpes, tidak ada ajaran yang menyimpang dan negatif. "Kalau seperti ini mereka mau belajar di mana?" katanya.

Jumat pekan lalu, sekitar 20 orang yang mengatasnamakan Front Jihad Islam mendatangi pesantren itu. Ketika mereka datang, Shinta dan sejumlah santri pondok itu sudah mengungsi. Akhirnya pendemo itu itu hanya bertemu aparat kepolisian yang berjaga.

Dilansir laman VOA Indonesia, kedatangan FJI ini tak lain untuk menyegel dan menolak keberadaan Al-Fatah. Mereka pun menyatakan penolakan atas pesantren yang dianggap ingin mengembangkan fiqih waria.

Pesantren Al Fatah 'Senin-Kamis' yang awalnya terletak di Kampung Notoyudan, kelurahan Pringgokusuman, Kecamatan Gedongtengen, Yogyakarta. Pendirinya adalah Maryani.

Merdeka.com menulis, pasca Yogyakarta dilanda gempa pada 2006, Maryani menggagas acara doa bersama para waria. Sebanyak 200 waria dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam acara itu. Dari situlah gagasan mendirikan pesantren waria dimulai, namun baru terwujud pada 2008.

Aktivitas pondok pesantren sempat vakum ketika Maryani meninggal dunia pada 21 Maret 2014. pondok tak punya figur. Akhirnya aktivitas pondok vakum selama satu bulan lebih.

Atas dukungan teman-teman waria lainnya, akhirnya Shinta yang waktu itu menjadi salah satu pengurus diminta menghidupkan kembali pondok pesantren itu.

Mereka diberi amanat Shinta pun menyanggupi. Tapi ia memindahkan lokasi pondok pesantrennya ke Banguntapan Bantul ini. Akhirnya pada 18 April 2014 itu pondok ini kembali memiliki aktivitas.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR