PEREDARAN NARKOBA

Pil ekstasi jenis baru ditemukan di Sumatra

Kepolisian Daerah Riau memamerkan barang bukti kasus narkoba berupa sabu-sabu, pil ekstasi, dan happy five yang diperoleh dari penangkapan pengedar jaringan internasional di perairan Bengkalis dalam jumpa pers di Pekanbaru, Riau, Rabu (16/1/2019).
Kepolisian Daerah Riau memamerkan barang bukti kasus narkoba berupa sabu-sabu, pil ekstasi, dan happy five yang diperoleh dari penangkapan pengedar jaringan internasional di perairan Bengkalis dalam jumpa pers di Pekanbaru, Riau, Rabu (16/1/2019). | Rony Muharrman /Antara Foto

Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan pil ekstasi jenis baru yang sudah beredar di Indonesia. Meski demikian, pil ekstasi tersebut pernah juga ditemui pada 2014.

"Pil ekstasi itu baru dua kali ditemukan di Indonesia. Pertama pada 2014 dan kedua pada 2019 ini," ujar Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Pol Arman Depari, dalam pemaparan kasus narkoba di Medan, Sumatera Utara, Kamis (24/1/2019).

Lebih lanjut dalam lansiran Antaranews, Arman mengatakan bahwa pil ekstasi jenis ini sangat jarang masuk ke Indonesia. Namun begitu, peminatnya diklaim cukup banyak.

"Pil ini berbeda dengan pil-pil ekstasi lainnya yang masuk ke Indonesia," katanya.

Menurut penjelasan Arman, pil ekstasi jenis baru ini memiliki aneka warna. Kemudian dia dicampur dengan bahan khusus dan memiliki cap atau logo produksi.

Pada 2014, pil ekstasi jenis ini pernah diedarkan oleh Fredy Budiman -- gembong narkoba yang sedang mendekam di penjara Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Penemuan pil ekstasi jenis baru ini diperoleh dari operasi penggerebekan Kapal Motor (KM) Karibia di Perairan Lhoksukon, Langsa, Aceh Utara, pada Selasa (15/1) dini hari.

Dari penggerebekan itu, BNN menyita 10 ribu butir berbagai jenis pil ekstasi dan sabu-sabu seberat 72 kilogram. Semua barang haram itu diduga merupakan milik pengedar narkoba jaringan Malaysia.

Empat orang anak buah kapal KM Karibia pun ditangkap. Mereka mengaku sebagai nelayan, tapi tak diemukan alat tangkap atau jaring yang biasa ditemukan di dalam kapal khas nelayan.

BNN pun menggerebek pengedar lain berinisial S di Pasar Gruegok, Bireun, Provinsi Aceh. Dari tersangka, petugas berhasil mengamankan barang bukti sabu-sabu delapan kilogram yang ditemukan di dalam mobil pikap.

Dalam penggeledehan di rumah tersangka di Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, petugas menemukan sabu-sabu seberat 17 kilogram. Dengan begitu, S --yang juga diduga merupakan jaringan pengedar Malaysia-- memiliki total 25 kilogram sabu-sabu.

Penemuan pil ekstasi jenis baru ini, menurut Arman, merupakan indikasi bahwa jaringan lama kembali beroperasi di Indonesia. Sebagai narkoba jenis baru, zat psikoaktif yang digunakan pun termasuk baru.

BNN pun terus mendalami kasus ini, termasuk menganalisis dugaan zat baru. "Pertama tahun 2014 pernah masuk jenis ekstasi ini, dan ini 5 tahun kemudian narkoba yang sama beredar kembali. Kami akan terus mendalami dan update bila sudah ada perkembangan," jelas Arman dilansir Tribun Medan.

Penemuan pil ekstasi jenis baru bukan hanya di Aceh. Di Sumatera Selatan (Sumsel), Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis Domino yang diketahui biasa beredar di Eropa.

Ini pertama kalinya pil ekstasi Domino ada di Sumsel. Polisi mendapatkannya dari S, warga Dusun III, Desa Sungai Kedukan, Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, Palembang, pada Sabtu (19/1).

Diresnarkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Farman, mengatakan S sudah diintai beberapa lama dan digerebek di kediamannya. Polisi menemukan 130 butir pil ekstasi dan paket sabu seberat 43,51 gram.

Menurut Farman, ekstasi Domino adalah salah satu jenis terbaik karena memiliki kandungan metamfetamin (MDMA) unggulan yang lebih kuat dari ekstasi kebanyakan. Di Sumsel, per butir dijual Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.

"Kami masih akan mengembangkan kasus ini untuk memetakan peredaran ekstasi tersebut," katanya dikutip JawaPos.com, Jumat (25/1).

Penggerebekan pabrik pil ekstasi

Sedangkan di Medan, Sumatra Utara (Sumut), BNN dan Polda Sumut menggerebek sebuah rumah yang dijadikan pabrik pembuatan pil ekstasi dengan kualitas terbaik. Penggerebekan dilakukan di Kelurahan Bantam Timur, Kecamatan Medan Tembung, Medan, Kamis (24/1) malam.

Dilaporkan Viva, Jumat (25/1), polisi menangkap tiga tersangka dari rumah tersebut. Masing-masing adalah Gun sebagai peracik dan pencetak ekstasi, IRS sebagai kurir, dan Rob sebagai perantara.

Sedangkan dari dalam rumah; polisi menyita satu unit alat cetak ekstasi, sejumlah bahan kimia cair, dan serbuk warna-warni. Uniknya, bisnis ini dikendalikan oleh seorang narapidana Lapas Kelas !A Tanjung Gusta, Medan, bernama Acun.

Semua bahan baku, menurut Arman, dibeli (diimpor) Acun dari luar negeri. "Acun merupakan penyedia bahan dan pengendali ekstasi tersebut. Sedangkan Rob adalah DPO BNN yang berhasil kabur dari penangkapan pada 2017," kata Arman.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR