SAMPAH PLASTIK

Plastik di laut ancam bakteri pembuat oksigen di bumi

Tumpukan sampah di bibir pantai utara Brondong, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (26/3/2019).
Tumpukan sampah di bibir pantai utara Brondong, Lamongan, Jawa Timur, Selasa (26/3/2019). | Syaiful Arif /ANTARA FOTO

Setop buang sampah di laut. Ternyata, polusi plastik di laut tidak hanya memengaruhi makhluk laut tetapi ekosistem global secara keseluruhan, termasuk kita manusia.

Begitu banyaknya limbah plastik di laut, sampai-sampai ini mengancam eksistensi bakteri yang dibutuhkan untuk membantu kita bernapas.

Sepersepuluh oksigen yang kita hirup berasal dari satu jenis bakteri laut, melalui proses fotosintesis. Namun, penelitian menemukan bahan kimia yang larut dari limbah plastik dapat mencegah bakteri yang memproduksi oksigen dan merusak pertumbuhannya.

Sebelum mengetahui fakta ini, para ilmuwan mengambil serpihan tas dari kantung plastik tipis dan anyaman PVC yang dibiarkan dalam air laut buatan selama lima hari.

Ketika bahan kimia di dalamnya telah larut, bakteri yang disebut Prochlorococcus terpapar pada 'air laut'. Ini mengubah pola pertumbuhan bakteri dan memicu gen yang terkait dengan stres.

Temuan ini menimbulkan keprihatinan besar. Pasalnya, jumlah sampah plastik di lautan diprediksi akan lebih banyak daripada ikan pada tahun 2050. Padahal, bakteri yang terpengaruh kondisi ini sangat penting bagi udara yang kita butuhkan untuk bertahan hidup.

"Mikro-organisme kecil ini sangat penting untuk jaring makanan laut, berkontribusi pada siklus karbon, dan dianggap bertanggung jawab atas 10 persen dari total produksi oksigen global," jelas Dr. Lisa Moore, rekan penulis studi dari Macquarie University di Australia.

Lanjut Moore, "Jadi satu dari setiap 10 napas oksigen yang Anda hirup adalah berkat para bakteri ini. Namun, hampir tidak ada yang diketahui tentang bagaimana bakteri laut, seperti Prochlorococcus, merespons polutan manusia."

Menurut penulis utama riset, Dr. Sasha Tetu, data mereka menunjukkan polusi plastik mungkin memiliki dampak ekosistem yang luas. Di luar efek yang diketahui pada makro-organisme, seperti burung laut dan kura-kura.

Banyak penelitian tentang polusi laut berfokus pada ikan dan kehidupan laut lainnya, saat mereka menelan atau terbelit plastik. Namun, materi berbahaya ini juga mengancam penghuni terkecil samudera.

Adalah cyanobacteria seperti Prochlorococcus, yang diyakini membuat Bumi layak huni bagi manusia dan hewan. Caranya dengan menggunakan fotosintesis, mengubah energi dari matahari dan air menjadi oksigen untuk bernapas.

Sekarang ada sekitar tiga oktiliun bakteri Prochlorococcus hijau kecil yang hidup di lautan dunia. Satu oktiliun memiliki 27 nol.

Untuk melihat apakah plastik bisa memengaruhi bakteri, para peneliti mengekspos sel-sel dari dua strain yang ditemukan di kedalaman laut berbeda, dengan bahan kimia yang terlepas dari kantong plastik dan PVC.

PVC memiliki efek terburuk. Materi ini sepenuhnya menghentikan produksi oksigen di salah satu strain setelah 24 jam.

Bahan kimia dari kantong belanja plastik abu-abu mulai mengurangi produksi oksigen di kedua strain setelah 24 jam.

Kedua bahan kimia menghentikan pertumbuhan bakteri dengan baik. Artinya mereka tidak berfotosintesis, proses ini pun mengubah aktivitas gen mereka.

Studi yang dirilis dalam jurnal Communications Biology ini menunjukkan, PVC mungkin paling berbahaya. Sebab mengandung 'plasticizer' untuk membuat bahan lebih fleksibel, serta bahan kimia keras untuk menjaga kebersihan dan mengatur suhunya.

"Sekarang kami ingin mengeksplorasi apakah polusi plastik memiliki dampak yang sama pada mikroba di lautan." terang Dr. Tetu.

Persoalan sampah plastik tak bisa dianggap enteng. Ketika dibuang, sampah tidak serta-merta langsung terurai.

Data National Oceanic and Atmospheric Administration, badan ilmiah di Departemen Perdagangan Amerika Serikat yang berfokus pada kondisi samudera dan atmosfer, mengungkap, waktu dekomposisi sampah berbeda-beda menurut jenisnya.

Selain punya dampak terhadap lingkungan dan biologis, perekonomian nasional pun dirugikan lantaran hal ini.

Menurut Co-founder Making Ocean's Plastik Free (MOPF), Roger Spranz, kerugian ekonomi tanah air akibat pencemaran sampah plastik mencapai Rp39 triliun per tahun.

"Polusi plastik laut tidak hanya disayangkan untuk kehidupan laut, tapi juga mengurangi pendapatan beberapa sektor ekonomi utama di Indonesia, khususnya pariwisata dan perikanan," terang Roger.

Perlahan, pemerintah Indonesia mulai membenahi masalah sampah plastik. Termasuk dengan rencana menghentikan impor limbah plastik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR