KINERJA PLN

PLN terima pinjaman Rp14 triliun dari 8 bank asing

Petugas PLN Unit Induk Pusat Pengaturan Beban (UIP2B) Gandul melakukan inspeksi harian berupa thermovisi atau pengukuran suhu panas pada paralatan kelistrikan yang ada di UIP2B Gandul Depok, Jawa Barat, Kamis (23/5/2019).
Petugas PLN Unit Induk Pusat Pengaturan Beban (UIP2B) Gandul melakukan inspeksi harian berupa thermovisi atau pengukuran suhu panas pada paralatan kelistrikan yang ada di UIP2B Gandul Depok, Jawa Barat, Kamis (23/5/2019). | Muhammad Iqbal /Antara Foto

Perusahaan listrik pelat merah PT PLN (Persero) kembali mendapatkan suntikan dana lewat pinjaman sindikasi senilai AS $1 miliar (Rp14 triliun) untuk menyelesaikan proyek 35.000 megawatt.

Adapun pinjaman sindikasi diperoleh dari delapan bank asing, yaitu DBS Group, Korea Development Bank, MUFG Financial Group, Oversea-Chinese banking Corp, Sumitomo Mitsui Financial, United Overseas Bank, Bank of China dan Cathay United Bank. Masing-masing menyalurkan kredit AS $ 125 juta

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN, Sripeni Intan Cahyani, mengatakan utang senilai Rp14 triliun tersebut, tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan proyek 35.000 megawatt, namun juga untuk membangun transmisi-transmisi baru.

Sripeni mengatakan, berdasarkan rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) PLN akan juga membangun memang jaringan transmisi baru di wilayah interkoneksi Jawa-Bali.

"Pada 2020 kami fokus untuk yang pinjaman baru ini adalah untuk transmisi. Karena yang pembangkit sudah [terbangun] tinggal melanjutkan. Transmisi ini kami fokus supaya bisa menyambung karena pembangkit sudah ada yang jadi," kata Sripeni di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

PLN memang didorong membangun jaringan transmisi baru di wilayah interkoneksi Jawa-Bali, hal ini dilakukan guna mencegah kembali terulangnya padam listrik massal se-Jawa Bali.

Di luar tugas itu, PLN juga harus menjalankan mandat dari pemerintah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi hingga 100 persen, artinya sampai tidak ada lagi daerah di Indonesia yang tidak mendapat aliran listrik.

Oleh sebab itu, PLN banyak membutuhkan banyak suntikan dana, termasuk salah satunya dari penerbitan surat utang (obligasi). Hal ini harus ditempuh PLN mengingat sumber dana dari dalam negeri tidak mencukupi dan terbatas. PLN pun gencar menerbitkan obligasi berdenominasi valuta asing (valas) di pasar uang luar negeri.

Pada September lalu, PLN mampu meraup pinjaman senilai 23,2 miliar yen atau setara Rp3 triliun setelah menerbitkan surat utang berdenominasi yen Jepang, Samurai Bond. Penerbitan Samurai Bond ini merupakan yang pertama bagi PLN. Perseroan menunjuk empat bank sebagai join lead, yakni Mizuho Bank Ltd, Morgan Stanley, Nomura, dan SMBC Nikko.

Lalu pada akhir Oktober lalu, PLN kembali berhasil mengamankan kebutuhan pendanaan investasi 2019 dengan menerbitkan global bond senilai AS $ 1,5 miliar atau sekitar Rp21 triliun.

Global Bond tersebut ditentukan harganya pada 30 Oktober 2019 dalam 3 tranche yaitu AS $ 500 juta dengan tenor 10 tahun 3 bulan berkupon 3,375 persen, kemudian AS $ 500 juta dengan tenor 30 tahun 3 bulan berkupon 4,375 persen dan 500 juta Euro dengan tenor 12 tahun berkupon 1,875 persen.

PLN merupakan BUMN Indonesia pertama yang mampu mengakses pasar Euro dengan tenor 12 tahun.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR