BUDAYA KEKERASAN

Plonco bernada penganiayaan terjadi di jurusan seni tari Universitas Negeri Gorontalo

Seorang mahasiswi berjalan di dekat penanda Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Jumat (25/1/2019).
Seorang mahasiswi berjalan di dekat penanda Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, Jumat (25/1/2019). | Franco Dengo /Beritagar.id

Tindak kekerasan kembali terjadi di lembaga perguruan tinggi. Kali ini, tindakan tidak terpuji ala senioritas terjadi pada jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik), Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG).

Sebenarnya ini insiden lama, terjadi pada 26 Maret 2018. Tetapi muncul ke permukaan belakangan ini setelah salah satu korban beserta orangtuanya melapor kepada pihak kampus yang disusul hasil investigasi tim pencari fakta fakultas.

Jumat (25/1/2019), Beritagar.id berusaha menghubungi salah satu korban berinisial NB yang berani bersuara dan melaporkan kejadian itu ke kampus. Namun, NB enggan memberi keterangan dan meminta tantenya sebagai juru bicara.

"NB, untuk sekarang ini, mungkin agak berlebihan kalo saya bilang dia tertekan. Dia mengalami efek psikologi. Hal itu lumrah bagi korban, hanya dia sendiri dari sekian banyak yang berani melapor. Saya yang sering mendampinginya dan tempat ia bercerita," ujar Nuning Abdullah, tante NB, dalam percakapan seluler.

Semenjak kasus ini terungkap, lanjut Nuning, NB sering merasa terkucilkan dan terasingkan di kampus. Tapi, meski begitu, dia tetap melakukan aktivitas perkuliahan sebagaimana biasa walau kini cenderung diam dan tertutup.

Nuning yang juga seorang dosen di Universitas Muhammadiyyah Gorontalo pun menceritakan insiden kekerasan terhadap keponakannya pada 26 Maret 2018 sekitar pukul 18.30 WITA. NB menceritakan kisah ini kepadanya.

Saat itu, NB disuruh berdiri dalam posisi kuda-kuda, istilahnya "Kumoto", sambil menunduk. Namun, tiba-tiba datang tamparan keras ke bagian pipi secara bergantian kiri dan kanan lebih dari satu kali dan bukan hanya oleh satu orang.

NB sempat jatuh tersungkur dan berteriak minta ampun. Namun para mahasiswa seniornya itu tak berhenti dan justru menganggap NB hanya akting.

"NB dianggap sebagai saingan oleh senior-seniornya, karena dekat dan disayang oleh dosen," ujar Nuning.

Ia berharap pihak fakultas memberi pendampingan kepada NB untuk menyembuhkan kondisi psikologisnya yang kini sedang "turun". Pendampingan dibutuhkan ketika NB datang ke kampus untuk kuliah.

Muharmin Doke, sang ibunda, menjelaskan baru tahu peristiwa yang menimpa NB karena selama ini selalu ditutupi. Bahkan NB hanya mengatakan sedang sakit rahang akibat terbentur saat keluarga melihat wajahnya memar.

"Saya berpikir dia mungkin lelah, karena full time latihan untuk ujian," kata Muharmin.

Namun, karena NB mengaku rahangnya makin lama makin sakit, ia baru mulai cerita kepada sang ibu. Tentu saja Muharmin kaget dann tidak percaya.

Warga Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Gorontalo, ini pun langsung mengajak anak semata wayangnya itu ke dokter spesialis. Hasil rontgen menunjukkan rahang NB patah.

"Rahang anak saya bergeser. Ternyata ia sering mengeluh sakit dari dulu sampai akhir-akhir ini karena hal itu. Sampai sekarang, anak saya itu tidak bisa buka mulut lebar. Untuk bicara mungkin bisa. Tapi untuk makan, kasihan dia dangat sulit," ucap Muharmin, sambil memperlihatkan dua hasil rontgen dari dokter.

Geram dengan perlakuan yang dialami sang putri, Muharmin pun mengajak NB ke Kampuns Universitas Negeri Gorontalo, Kamis (24/1). Ia menuntut keadilan dari Fakultas Sastra dan Budaya atas perbuatan keji para mahasiswa senior kepada putrinya di dalam area kampus.

"Saya juga sudah mendatangi Polda Gorontalo. Tapi pihak Polda mengarahkan saya melapor ke Polres Kota Gorontalo. Intinya, sebagai orangtua, saya tidak terima dengan kejadian ini. Kalau cuma diskors, dicabut beasiswa, atau sanksi akademik, saya tidak mau. Perbuatan mereka sudah kelewat batas," kata Muharmin.

Ia masih menunggu mediasi dari pihak kampus. Jika tak ada titik temu sampai Senin (28/1), Muharmin akan resmi menempuh jalur hukum. "Anak saya sudah mengalami cacat permanen," katanya.

Selain NB, total ada 32 korban yang terdiri dari mahasiswa angkatan 2016 dan 2017. Sementara terduga pelaku yang merupakan senior sebanyak 19 orang, ditambah dua orang alumni.

Hal itu terungkap setelah tim pencari fakta (TPF) fakultas melakukan penyelidikan. Menurut Wakil Dekan III Fakultas Sastra dan Budaya, Dr. Muslimin, TPF yang dipimpinnya bekerja sejak November 2018.

TPF menemukan ada tindak kekerasan yang terjadi di luar jam perkuliahan di ruangan studio teater Jurusan Sendratasik itu. "Dari investigasi, selain ada yang rahangnya patah. ada juga korban yang mengalami gangguan pendengaran dan trauma," kata Muslimin.

Sedangkan dari keterangan para terduga pelaku, mereka hanya melakukan hal yang pernah dialami. Jadi ini adalah semacam tradisi turun temurun yang tidak positif.

Saat ini pihak kampus belum memberi sanksi apapun terhadap terduga pelaku. Namun, Muslimin mengatakan ada dua orang terduga pelaku yang mendapat penundaan ujian akhir sebagai sanksi dari pihak jurusan.

"Hasil penelusuran TPF sudah kami teruskan ke Wakil Rektor III Universitas Gorontalo, untuk ditindaklanjuti. Kabarnya pihak universitas juga akan membentuk tim pencari fakta untuk menyempurnakan temuan-temuan sebelumnya. Agar nanti bisa diparipurnakan," kata Muslimin.

Peritiswa penganiayaan sejenis perploncoan ini pun sampai ke telinga Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir. Di sela meresmikan gedung baru Universitas Negeri Gorontalo di Kabupaten Bone Bolango, Kamis (24/1), Nasir mendorong pihak UNG menyelesaikan persoalan tersebut.

"Rektor harus menindak. Ini urusan kekerasan, apalagi urusan kriminal. Sama sekali tidak boleh. Nanti rektor harus menindak sesuai prosedurnya," tegasnya kepada para wartawan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR