GEGER HOAKS

Polisi ciduk penyebar hoaks surat suara 01 tercoblos

Foto ilustrasi. Pekerja melakukan penyortiran surat suara di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Malang, Jawa Timur, Senin (18/3/2019).
Foto ilustrasi. Pekerja melakukan penyortiran surat suara di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Malang, Jawa Timur, Senin (18/3/2019). | Ari Bowo Sucipto /Antara Foto

Polda Sumatra Utara (Sumut) menciduk seorang berinisial UR yang diduga menyebarkan hoaks soal surat suara yang sudah tercoblos. Coblosan itu terdapat pada bagian pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Penangkapan UR terjadi di Jawa Barat, tapi detail wilayahnya tak diutarakan.

Dilansir Antara (h/t Republika), Selasa (19/3/2019), penangkapan UR dilakukan oleh personel Subdit V/Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumut. Lagi-lagi tak ada detail, kapan UR ditangkap.

Ihwal penangkapan oleh unit Cyber Crime, kasus ini memang bermula dari Facebook. UR diduga menyebarkan video bohong soal surat suara yang sudah tercoblos di Medan, Sumut, dan kemudian menjadi viral.

Namun, akun Facebook yang digunakan UR selama ini palsu dan selalu berganti-ganti. Itu sebabnya pengungkapan dan penangkapan kasus seperti ini tak mudah.

Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan, mengungkapkan polisi harus bekerja keras menelusuri jaringan pertemanan UR di Facebook. Dari situ, petugas berusaha menjebaknya.

"Jadi menangkap tersangka yang kasusnya seperti itu, tidak mudah," ucap Nainggolan.

Saat ini UR sudah berada di Medan meski dirinya adalah warga Jabar. Penyidik pun masih memeriksa UR untuk mengetahui motifnya.

Video hoaks pada awalnya diunggah oleh akun Facebook atas nama Muhammad Adrian dan Kusmana. Bahkan dalam statusnya, Adrian menulis keterangan bernada provokatif.

"Memang keparat KPU Sumut, surat suara sudah tercoblos 01 semua," tulisnya. Perlu diketahui, dua nama dalam akun Facebook itu bukan sebenarnya alias palsu.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) pun langsung bergerak setelah video tersebut viral di media sosial. Minggu (3/3), KPU menegaskan bahwa video itu tidak benar, apalagi ketika itu Medan dan semua wilayah di Sumut belum menerima surat suara untuk Pemilu 2019.

Tangkapan layar video yang menuding KPU Medan curang.
Tangkapan layar video yang menuding KPU Medan curang. | Facebook

Sementara Ketua KPU Sumut, Yulhasni, menyatakan video itu benar ada tapi bukan terkait Pemilu 2019. Yulhasni menceritakan bahwa video itu memuat kericuhan saat pemilihan kepala daerah (pilkada) Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Utara 2018.

Saat itu, massa tidak puas dengan hasil rekapitulasi suara di satu tempat pemungutan suara (TPS), di Desa Siborongborong, Tapanuli Utara. Jadi, bukan di Medan.

Di dalam video, massa pun berteriak "01". Namun, teriakan itu tidak merujuk kepada Jokowi-Ma'ruf. Dan kebetulan 01 pada Pilkada Tapanuli Utara itu adalah petahana. Mereka dianggap melakukan kecurangan sehingga masyarakat protes.

"...dianggap melakukan kecurangan dan KPU dianggap terlibat," kata Yulhasni.

Atas dasar itu, KPU Sumut pun melaporkan penyebaran video ini ke polisi. Ketua KPU Medan, Agussyah Damanik, menjelaskan, video itu berisi fitnah karena tak ada kericuhan atau surat suara yang tercoblos untuk pemilu 2019.

"...kondisi logistik surat suara kita tersimpan aman di gudang eks-Bandara Polonia," kata Agussyah, Minggu (3/3), di Medan.

Ketika itu surat suara memang belum didistribusi ke berbagai kantong di kota Medan dan wilayah lain di Sumut. Hingga tanggal 5 Maret, pelipatan kertas suara baru dilakukan untuk DPR RI, DPRD Sumut, dan DPRD Medan.

Sedangkan pelipatan kertas suara untuk DPD RI dilakukan pada 8 Maret dan pemilihan presiden pada 12 Maret. Seluruh pekerjaan dilakukan di Gedung Andromeda, eks-Bandara Polonia di Medan atau mendekatkan dengan gudang KPU Sumut.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR