TERORISME

Polisi cokok tiga terduga teroris di Palu

Foto ilustrasi. Prajurit Batalyon Infanteri Para Raider 501/Bajra Yudha Madiun melakukan simulasi penyelamatan sandera yang dilakukan teroris di sebuah hotel di Kota Madiun, Jawa Timur, Jumat (2/8/2019).
Foto ilustrasi. Prajurit Batalyon Infanteri Para Raider 501/Bajra Yudha Madiun melakukan simulasi penyelamatan sandera yang dilakukan teroris di sebuah hotel di Kota Madiun, Jawa Timur, Jumat (2/8/2019). | Siswowidodo /ANTARA FOTO

Densus 88 Polri menangkap tiga terduga teroris di Palu pada Selasa (3/9/2019). Polisi mengamankan bahan peledak saat penangkapan. Satu dari mereka diduga merencanakan aksi pemboman dengan pipa.

Ketiganya yakni ZA alias Enal berasal dari Sulawesi Tenggara, A alias Angga berasal dari Sulawesi Selatan, dan AS alias Putra alias Siregar berasal dari Medan. Mereka diduga ingin bergabung dengan jaringan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora.

"Yang paling berbahaya AS karena (ada) potongan besi, rangkaian kabel, pipa, bubuk-bubuk yang ini masih diuji laboratorium forensik. Bubuk bisa untuk low explosive atau high explosive," ujar Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo, merujuk laporan cnnindonesia.com.

Dari orang yang sama, polisi menyita alat komunikasi, bearang elektronik yang dirakit sendiri, parang, panah, paku dalam botol, dan motor.

Polisi juga mengamankan 14 barang bukti lainnya dari terduga ZA berupa sepeda motor, kunci T, uang Rp 1,8 juta, parang, buku-buku, dan perlengkapan pribadi lainnya.

Aparat juga menyita buku perakitan bom, buku tabungan, jaket, senapan dan peluru angin, busur panah (17 buah), peredam senapan angin, teleksop, dan lainnya dari terduga A.

Ketiga orang ini ditangkap di lokasi berbeda. ZA diringkus di Jalan Trans Sulawesi, sekitar pukul 13.40 WITA; A ditangkap di Jalan Benteng, Palu; dan AS dicokok di Jalan Malaya, Palu, malam harinya.

Target serangan teror atas nama agama di Indonesia.
Target serangan teror atas nama agama di Indonesia. | /Beritagar.id

Bersiap amaliah

Ketiga orang ini diduga sudah siap melakukan amal dan bertempur. Mereka juga telah mengikuti pelatihan militer untuk menembak.

"Setiap keluar rumah selalu persiapkan diri bawa parang dan golok. Beberapa kali mengikuti pelatihan militer atau idad, antara lain latihan menembak dengan gunakan senjata angin dan latihan fisik lainnya," katanya.

Mereka diduga terlibat jaringan kelompok teror yang berkiblat ke Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS. Dalam perspektif terorisme, ISIS menerapkan prinsip near enemy. Artinya, musuh bersama para kelompok ini adalah polisi yang dianggap sebagai pembantu pemerintah yang kafir, thagut ansar.

Paham ISIS mulai bergaung di Indonesia sejak Jamaah Islamiyah mulai meredup tahun 2007 dan bersabda tak akan melakukan aksi kekerasan. Sejak tahun tersebut, mulai bermunculan kelompok-kelompok militan yang berasosiasi dengan ISIS, seperti Jamaah Ansarut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansarut Tauhid.

MIT yang berpusat di Poso, Sulawesi Tengah berdiri pada 2010, saat teroris Santoso melatih kadernya, termasuk Ali Kalora. MIT menasbihkan dirinya setia terhadap ISIS pada Juli 2014.

Bahrun Naim, pentolan JAD sekaligus otak dibalik serangan aksi teror di Sarinah, Jakarta pada awal tahun 2016 lalu, disebut sebagai penghubung antara MIT dengan ISIS.

Merujuk data Global Terorrism Databese dan data yang dikumpulkan tim Beritagar.id, sejak 1977 hingga 5 Juli 2018, terdapat 750 aksi terorisme di Indonesia. Seperempatnya adalah aksi sentimen agama. Aksi tersebut paling banyak terjadi pada 2000 (49 peristiwa), 1996 (37), 2012 (20), dan 2015 (17).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR