LGBT

Polisi jangan ketahuan kalau gay

Seorang polisi Jateng dipecat karena homoseksual. Lalu dia menggugat ke PTUN Semarang.
Seorang polisi Jateng dipecat karena homoseksual. Lalu dia menggugat ke PTUN Semarang. | Salni Setyadi /Beritagar.id

ORIENTASI | Maka TT, seorang eks-anggota Polri asal Blora, Jawa Tengah, pun menggugat bekas korpsnya. Polri memberhentikan dia dengan tidak hormat karena TT seorang gay. Orientasi seksual TT dianggap melanggar etika dan norma Polri.

Menurut Pasal 11 Kode Etik Profesi Kepolisian Perkap 14 Tahun 2011, polisi harus menaati, menghormati norma kesusilaan, norma agama, nilai-nilai kearifan lokal dan norma hukum.

TT, yang sudah sepuluh tahun menjadi warga bhayangkara negara, dipecat Desember 2018. Lalu dia menggugat pemecatan oleh Polda Jateng ke Pengadilan Tata Usaha Negara Semarang pada Maret lalu. Namun baru pekan lalu kasus ini mengemuka karena sudah memasuki tahap replik. Dalam menggugat TT didampingi Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat.

Menurut Kepala Biro Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo, Jumat lalu (17/5/2019), "Pada norma agama dan kesopanan jelas bahwa LGBT masih menjadi hal yang tabu oleh agama dan tidak diakui secara yuridis oleh negara."

Maka Dedi menyimpulkan, "Anggota Polri tidak boleh LGBT dan memiliki kelainan atau disorientasi seksual." (→ detikcom).

Alasan lain pemecatan adalah TT melakukan pelecehan seksual dan membolos kerja (desersi) pergi ke Singapura tahun lalu. Kedua korban pelecahan seksual itu seorang dokter dan orang tua angkat TT.

Akan tetapi TT mempertanyakan alasan atasan bahwa dirinya merusak citra Polri. Selama ini dia menyembunyikan orientasi seksualnya.

Maka dia pun berujar ,"Kok tiba-tiba mereka mengomong-omongkan saya menurunkan citra Polri, padahal selama ini enggak ada yang tahu kondisi saya seperti ini." (→ BBC Indonesia).

Tiga tahun lalu, Oktober 2016, Presiden Joko Widodo dalam wawancara khusus dengan BBC meminta Polri untuk melindungi LGBT dan minoritas lain.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR