TERORISME

Polisi Malaysia tangkap 3 WNI tersangka teroris

Polisi melakukan penjagaan saat penangkapan terduga teroris di Jl. Kaliurang, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (14/7/2018).
Polisi melakukan penjagaan saat penangkapan terduga teroris di Jl. Kaliurang, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (14/7/2018). | Andreas Fitri Atmoko /Antara Foto

Kepolisian Malaysia menangkap tujuh tersangka teror, tiga di antaranya warga negara Indonesia. Semua tersangka ditangkap dalam operasi yang digelar antara 12-17 Juli lalu di Terengganu, Selangor, Perak dan Johor.

Ketua Polisi Negara Malaysia, Inspektur Jenderal Polisi Mohd Fuzi Harun, dilansir melalui TheStarOnline, Kamis (19/7/2018), mengatakan tangkapan pertama adalah pria Indonesia berusia 26 tahun pada 12 Juli lalu.

Tersangka merupakan anggota kelompok Negara Islam Indonesia (NII) dan pernah menerima pelatihan senjata di Bandung antara tahun 2015-2018. Fuzi mengatakan WNI 26 tahun itu memiliki istri warga negara Malaysia dan telah menyatakan sumpah setia pada NII di Bandung.

"Tersangka dan istrinya berencana membawa keluarganya ke Suriah bergabung dengan IS (Negara Islam Irak dan Syam/ISIS)," kata Fuzi.

Tangkapan polisi kedua pun warga Indonesia berusia 27 tahun di Petailing Jaya pada 12 Juli. Dia disebut anggota IS/ISIS. Polisi menemukan 100 video dan 90 foto kelompok teror itu di telepon genggamnya.

Polisi meyakini tersangka teroris itu mempromosikan ISIS secara aktif via media sosial dan berencana bergabung di Suriah.

WNI ketiga ditangkap di Ipoh, Perak pada 14 Juli. Pria berusia 42 tahun yang bekerja sebagai buruh pabrik itu diduga memiliki keterkaitan dengan Jemaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS.

JAD diyakini sebagai dalang dalam beberapa teror di Indonesia, seperti teror bom di Surabaya, dan terkini di Polres Indramayu.

Penangkapan selanjutnya dilakukan terhadap seorang pria Malaysia berusia 42 tahun dan seorang wanita Malaysia berusia 24 tahun di Johor pada 16 Juli.

Pria Malaysia itu diketahui sempat berkomunikasi dengan pemimpin militan Muhammad Wanndy Mohamed Jedi asal Malaysia yang tewas di Suriah. Dia juga disebut sempat melontarkan ancaman serangan bom di Malaysia, Indonesia dan Filipina usai Idul Fitri.

Sedangkan si wanita Malaysia diketahui mengirimkan 42 ribu Ringgit kepada militan Muhammad Nasrullah Latif alias Abu Gomez asal Malaysia yang juga telah tewas di Suriah awal tahun ini.

Satu pria Malaysia lainnya yang ditangkap merupakan pria pengangguran berusia 34 tahun yang mengancam akan membunuh Yang di-Pertuan Agong, PM Mahathir dan Menteri pada Departemen Perdana Menteri Dr Mujahid Yusof Rawa. Dia menulis ancaman di Facebook karena memandang Raja dan pemimpin Malaysia sebagai thogut.

Terakhir, penangkapan dilakukan terhadap seorang pria Malaysia berusia 21 tahun di Masai Johor. "Dia berencana pergi ke Suriah untuk bertempur bersama militan IS lainnya," ucap Mohd Fuzi.

ISIS kian lemah kekuatannya di Suriah dan Irak sejak 2017 lalu. Prajurit ISIS dari berbagai negara kocar-kacir sehingga banyak yang pulang kampung, balik ke negeri asal, termasuk Malaysia, Filipina dan Indonesia.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dikutip CNNIndonesia, mengatakan berdasar data intelijen pihaknya terdapat 800 orang yang bergabung dengan ISIS berasal dari Asia Tenggara. Sebanyak 400 di antaranya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).

Ryamizard mengatakan telah menggandeng Malaysia dan Filipina untuk melakukan kerja sama trilateral berpatroli di Laut Sulu. Kerja sama tiga negara itu bertujuan agar eks kombatan ISIS yang ingin memasuki ketiga negara tidak itu bisa leluasa mengembangkan jaringannya.

Ryamizard melihat kelompok terorisme di Indonesia telah masuk kelompok generasi ketiga. Generasi pertama adalah kelompok Al-qaeda dan kedua ISIS.

Generasi ketiga terorisme itu muncul dari "sel tidur" anggota ISIS yang pulang kampung. Mereka cenderung melakukan teror sendiri lewat bom bunuh diri.

Ryamizard mengatakan Indonesia selalu berada di bawah ancaman terorisme. Berbagai kejadian teror dengan beragam sasaran terjadi setiap tahunnya.

Data dari National Consortium for the Study of Terrorism and Responses to Terrorism yang diolah Lokadata Beritagar.id mencatat 751 aksi terorisme di Indonesia selama 1997 sampai Juli 2018. Seperempatnya adalah aksi sentimen agama.

BACA JUGA