Polisi Ponorogo perkarakan pembuat meme dengan UU ITE

Polisi Lalu Lintas (Polantas) mengatur arus lalu lintas di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta (Jumat, 13 Maret 2009).
Polisi Lalu Lintas (Polantas) mengatur arus lalu lintas di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta (Jumat, 13 Maret 2009). | Arnold Simanjuntak /Tempo

Gara-gara membuat meme yang dinilai menghina polisi, seorang office boy bank swasta di Ponorogo, Jawa Timur, Imelda Syahrul (24) harus berurusan dengan kepolisian.

Senin (1/11/2015), Kepolisian Resor Ponorogo menahan Imelda, setelah mendapat laporan dari Brigadir Dua (Bripda) Aris Kurniawan. Anggota Polantas Polres Ponorogo itu merasa direndahkan martabatnya dalam meme yang dibuat dan dipublikasikan Imelda.

Meme itu semula dimasukkan Imelda dalam sebuah grup tertutup, Info Cegatan Polisi Wilayah Ponorogo, pada 30 Oktober 2015. Riuh percakapan pun terjadi di grup yang punya lebih dari 30 ribu anggota itu.

Gambar itu memuat sosok Bripda Aris, yang tengah memegang radio seluler (handie talkie). Untuk menambahkan unsur parodi dibuatlah balon percakapan, yang menggambarkan komunikasi antara sang polisi dengan istrinya seputar "duit hasil tilang".

"Saya tidak terima dengan perbuatan seperti itu," kata Bripda Aris, dilansir OkeZone (3/11).

Adapun foto asli Bripda Aris semula dipublikasikan di akun Facebook Satlantas Ponorogo. Foto itu dibagikan pada 29 Oktober 2015. Dalam teksnya terjelaskan bahwa foto itu diambil saat operasi Zebra Semeru 2015 yang dilakukan Polres Ponorogo.

Meme yang dibagikan Imelda.
Meme yang dibagikan Imelda. | Info Cegatan Polisi Wilayah Ponorogo /Facebook.com

Keterangan seputar kasus ini datang dari Kasubag Humas Polres Ponorogo AKP Harjadi.

"Di dalam Facebook itu tertuliskan bahwa dia (Bripda Aris) melakukan tindak pidana pungli. Dengan hasil pungli itu diberikan kepada istrinya melalui transfer. Intinya arahnya bahwa petugas melakukan tindak kejahatan pungli untuk menghidupi keluarganya," demikian keterangan Harjadi, dilansir RRI.co.id (2/11).

Meski begitu, Harjadi menjelaskan bahwa pihaknya tidak gegabah menetapkan Imelda sebagai tersangka. Menurutnya, kasus ini masih dalam taraf penyidikan dan pengumpulan bukti-bukti.

Dikutip Surya Online, Harjadi menjelaskan hasil gelar perkara pada kasus ini. Ia mengatakan, pelaku patut diduga melanggar ketentuan pasal 32 ayat (1) UU No 11/2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

"Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik," demikian bunyi pasal 32 ayat (1) UU RI No 11/2008.

Sekadar catatan, penggunaan pasal tersebut di luar kebiasaan. Biasanya kasus serupa akan mengacu pada pasal 27 ayat 3 UU No.11/2008, yang mengatur soal pencemaran nama baik. Misalnya dalam kasus Adlun Fiqri, yang mengunggah video dugaan polisi terima pungutan liar di Ternate, Maluku Utara.

Beberapa pemberitaan juga mengaitkan kasus ini dengan Surat Edaran Kapolri seputar ujaran kebencian. Namun, pasal yang diduga telah dilanggar Imelda tidak termuat dalam SE Kapolri itu. Dengan kata lain, sejauh ini tak ada indikasi kasus Imelda menyangkut ujaran kebencian.

Di media sosial, muncul reaksi seputar kasus ini. Salah satunya datang dari laman Facebook perajin meme, Dewan Kesepian Jakarta. "Jomblo atau tidak, mari kita bersolidaritas untuk Imelda Syahrul!" tulis laman Facebook Dewan Kesepian Jakarta.

Catatan redaksi: Artikel ini telah diperbarui, dengan menambahkan informasi seputar sumber foto Bripda Aris yang diambil dan dimodifikasi oleh Imelda (5/11/2015, pukul 11.41 WIB).
BACA JUGA