KECELAKAAN TRANSPORTASI

Polisi ringkus dua tersangka kapal tenggelam di Selat Malaka

 
Petugas SAR mengangkat kantong jenazah berisi korban kapal tenggelam setelah dievakuasi melalui jalur laut di Pelabuhan Vokala Pelindo I Dumai, di Dumai, Riau, Rabu (5/12/2018).
Petugas SAR mengangkat kantong jenazah berisi korban kapal tenggelam setelah dievakuasi melalui jalur laut di Pelabuhan Vokala Pelindo I Dumai, di Dumai, Riau, Rabu (5/12/2018). | Aswaddy Hamid /AntaraFoto

Penemuan 11 jenazah mengapung di perairan Bengkalis, Selat Malaka, Riau, akhir November 2018, tak lagi menjadi misteri.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Riau Kombes (Pol) Sunarto mengonfirmasi belasan mayat tersebut sebagai korban dari kapal tenggelam.

Mengacu pada dugaan awal, 11 korban ini merupakan buruh migran asal Indonesia yang berencana pulang dari Malaysia menuju Rupat, Riau, dengan menggunakan kapal kayu yang biasa digunakan nelayan.

Fakta terungkap melalui pengakuan dua orang yang selamat dari kapal yang karam akibat dihantam gelombang itu. Dua orang yang dimaksud adalah Hamid alias Boboi (31) dan Jamal (48). Keduanya adalah kru beserta awak dari kapal yang terguling ini.

Saat kapal terguling, Jamal dan Hamid berhasil menyelamatkan diri berkat bantuan KMV Indomal 5 yang berlayar dari Dumai menuju Malaka. Sementara, sebagian besar korban sudah terpencar dan tenggelam.

Namun, sambung Sunarto dalam KOMPAS.com, Jamal dan Hamid tidak memberi tahu kepada awak kapal Indomal bahwa mereka turut membawa penumpang lainnya. Mereka hanya mengaku sebagai nelayan yang kapalnya tenggelam karena cuaca buruk.

Begitu sampai di Riau, Jamal dan Hamid langsung menghilang. Kepolisian Resor (Polres) Bengkalis sempat mencari keberadaan keduanya. Hingga akhirnya Senin (10/12/2018), Jamal dan Hamid menyerahkan diri ke Polres Bengkalis.

"Keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka," sebut Sunarto.

Sunarto menambahkan, kedua tersangka bisa dijerat dengan Pasal 359 KUHP dan Pasal 120 Ayat 1 UU Nomor 6 Tahun 2011 dengan ancaman 15 tahun penjara.

Kendati tersangka sudah berhasil diringkus, kepolisian masih mencari kebenaran jumlah korban yang tenggelam. Dari pengakuan dua tersangka, ada 11 TKI yang diangkut dalam kapal tersebut. Namun, dari keterangan keluarga korban yang dihimpun Gatra.com, terdapat 20 TKI yang menumpangi kapal.

Ada dua versi jumlah penemuan korban. Detikcom misalnya, mewartakan jumlah yang sudah ditemukan sampai saat ini mencapai 11 jenazah.

Sementara iNews, mengacu pada keterangan Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau Jim Gafur, menyebut hingga Rabu (12/12/2018), jumlah yang ditemukan sudah mencapai 17 jenazah.

Dua jenazah terakhir ditemukan pada Senin (10/12/2018) di Perairan Desa Pambang Pesisir, Desa Papal, dan Desa Perapat Tunggal, Kecamatan Bantan, Riau. Tidak ada identitas pada dua jenazah.

Jenazah langsung dibawa menuju Pelabuhan Bengkalis untuk kemudian diotopsi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bengkalis.

Dari 11 mayat yang sudah ditemukan, baru empat yang berhasil teridentifikasi. Mereka adalah Mimi Dewi (32) asal Sumatra Barat, Ujang Chaniago (48) asal Sumatra Barat, Marian Suhadi (24) asal Sumatra Utara, dan Paisal Ardianto (24) asal Sumatra Utara.

Petugas medis mengaku kesulitan mengidentifikasi jenazah lantaran jasad yang ditemukan kebanyakan sudah rusak dan membusuk.

Adapun barang bukti yang sudah diamankan bersamaan dengan penemuan jenazah antara lain 1 lembar visa, 1 KTP milik korban bernama Maya Karia, 1 lembar fotokopi KTP Ujang Chaniago, 1 buah jeriken, 1 buah baju pelampung, pakaian 11 korban, 1 buah USB drive berisi foto dan video saat penyelamatan tersangka oleh Kapal Indomal 5, serta hasil visum korban.

Polda Riau telah membuka pos pengaduan di RS Bhayangkara di Kota Pekanbaru untuk masyarakat yang merasa anggota keluarganya menjadi korban kapal tenggelam dari Malaysia tersebut.

Penemuan jenazah berawal pada 24 November 2018. Ketika itu, satuan patroli laut menemukan satu jenazah mengapung di lokasi perairan serupa.

Tidak ada identitas yang menyertai dalam penemuan jenazah tersebut. Jasad kemudian dievakuasi dan dilakukan otopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai. Hasilvisum et revertum menyimpulkan tidak ada tanda kekerasan pada jenazah.

Petugas kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kota Dumai, lantaran empat hari sejak ditemukan, jenazah itu tak kunjung dijemput oleh pihak keluarga.

Akhirnya jenazah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Dumai.

Berselang satu hari setelah pemakaman, atau tepatnya pada 29 November 2018, Kepolisian Resor (Polres) Bengkalis mendapatkan laporan dari masyarakat terkait penemuan tiga jenazah oleh para nelayan di perairan Bantan, masih di wilayah Selat Malaka.

Penemuan jenazah kembali terjadi pada Jumat (30/11/2018) siang. Ketika itu satu mayat berjenis kelamin perempuan ditemukan oleh nelayan.

Rangkaian penemuan jenazah di perairan Selat Malaka membuat pihak kepolisian dan Basarnas memutuskan untuk melakukan pencarian lebih lanjut. Hasilnya, pada Sabtu (1/12/2018), ditemukan kembali empat mayat lainnya dengan perincian tiga laki-laki dan satu perempuan.

Pada jasad perempuan turut ditemukan KTP dan paspor dengan nama Maya Karina (37), warga Mentikan, Kecamatan Prajurit Kulon, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Kendati menemukan kartu identitas, polisi tidak ingin berspekulasi bahwa jenazah itu benar milik Maya. Sebab, setelah dilakukan pengecekan, ternyata alamat yang tertera pada kartu tersebut adalah salah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR