Polisi sebar sketsa wajah empat terduga penyerang Novel

(KALEIDOSKOP 2017) Penyidik KPK Novel Baswedan tiba untuk menjalani perawatan di RS Jakarta Eye Center, Jakarta, Selasa (11/4/2017).
(KALEIDOSKOP 2017) Penyidik KPK Novel Baswedan tiba untuk menjalani perawatan di RS Jakarta Eye Center, Jakarta, Selasa (11/4/2017).
© Akbar Nugroho Gumay /ANTARAFOTO

Setelah berkali-kali direvisi, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) akhirnya menyebarkan sketsa wajah terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

Melalui akun Instagram yang dipercaya dikelola Divisi Humas Mabes Polri (@divisihumaspolri), sketsa wajah terduga pelaku yang terdiri dari empat orang pria dengan rentang usia 35 sampai 40 tahun itu, resmi dirilis, Jumat (5/1/2018).

Polda Metro Jaya telah mengambil sketsa wajah terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan. Berdasarkan keterangan para saksi, hasil sketsa membuahkan empat wajah pria yang diduga sebagai pelakunya. . Keempat pria yang belum diketahui identitasnya itu kini masuk dalam daftar pencarian orang. Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz mengatakan sketsa wajah keempat terduga pelaku itu telah disebar ke polda-polda. . Dengan sketsa tersebut di sebarkan, agar masyarakat bisa mengetahui identitas terduga pelaku dan bisa memberikan informasi kepada polisi. . Secara terpisah, Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta mengatakan sketsa itu telah disebar sejak diumumkan di KPK beberapa waktu lalu. Bagi sobat Humas yang mengenali seketsa wajah tersebut harap menghubungi pihak berwajib. #TheBestPol #PolisiIndonesia #Polripromoter #DPO . . @polisi_indonesia @polisirepublikindonesia @berita_polisi_terkini @halo_polisi @humaspoldametrojaya @tmcpoldametro

A post shared by DIVISI HUMAS POLRI (@divisihumaspolri) on

Tak ada keterangan nama dan alamat dari keempat terduga yang kini telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Polri itu. Dari sketsa yang dirilis, polisi hanya menyertakan perkiraan ciri-ciri pelaku yang terdiri dari tinggi badan, warna kulit, bentuk muka, dagu, hidung, serta postur tubuh.

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto, mengatakan keempat sketsa itu juga disebarkan melalui Pensatwil (Penerangan Satuan Wilayah) di seluruh kepolisian daerah (polda) di Indonesia. Harapannya, masyarakat juga bisa turut membantu menginformasikan keberadaan orang-orang yang mirip dengan sketsa yang disebarkan.

"Siapa tahu ngumpet di kampung dan sekarang sudah pakai jenggot.. Kan nggak tahu," ucap Setyo dalam Jawapos.

Mulai 2018, Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz mengaku akan memprioritaskan perkara Novel Baswedan.

"Kita kejar, kita upayakan semuanya bisa selesai. Kan banyak tunggakan," sebut Idham dalam Detikcom.

Polda Metro Jaya sebenarnya sudah membuka layanan pengaduan dan pelaporan (hotline) 24 jam untuk menerima informasi dari masyarakat terkait keberadaan pelaku penyerangan.

Saat itu, polisi baru merilis dua sketsa terduga pelaku penyerangan. Adapun nomor layanan pengaduan tersebut adalah 0813-9884-4474 (nomor yang masih diberlakukan dalam pencarian sketsa yang baru dirilis ini).

Sepanjang layanan pengaduan itu dibuka, Polda Metro Jaya mengaku telah mendapatkan 1.058 laporan yang terdiri dari sekitar 700 berupa telepon, dan sisanya berupa pesan singkat (SMS).

Meski begitu, sebagian laporan yang masuk itu belum memberikan keterangan yang signifikan dalam pencarian kepolisian. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, umumnya yang menghubungi hanya menanyakan apakah nomor layanan ini benar milik polisi.

Bahkan menurut Argo, ada juga masyarakat yang menawarkan jasa paranormal untuk mencari terduga pelaku.

"Enggak-lah (tawaran paranormal), polisi kan sesuai dengan bukti-bukti di lapangan saja," ucap Argo dalam VIVA, Rabu (3/1/2018).

Di sisi lain, Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Azhar Simanjuntak, mendesak polisi untuk bekerja lebih serius lagi mengungkap kasus yang sudah terjadi sejak April 2017.

Dahnil, dalam Tirto.id, menilai polisi seharusnya tak sulit mengungkap pelaku, mengingat banyak kesaksian yang menunjukkan kehadiran orang mencurigakan sebelum kejadian. Salah satunya adalah M. Hasan Hunusalela.

Menurut Dahnil, Hasan adalah seorang "mata elang" dan cepu (pemberi informasi) polisi.

Dari lansiran putusan Mahkamah Agung, Hasan alias Untek pada tahun 2011 pernah dipidana melakukan penganiayaan di Ambon, Maluku, dan harus mendekam selama lima bulan penjara.

Nama Hasan sebenarnya sudah pernah dibuka saat Polda Metro Jaya masih di bawah kepemimpinan Irjen Mochammad Iriawan. Saat itu Iriawan menerangkan tentang motor milik Brigadir Kepala Muhammad Yusmin Ohorella yang digunakan Hasan dan Mukhlis Ohorella untuk mengamati rumah Novel.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, polisi tidak menemukan kecocokan antara alibi dan kasus Novel.

"Semua clear, tidak ada kaitannya dengan kasus Novel," ujar Iriawan (Tempo.co, 6 Juni 2017).

Operasi mata tahap dua

Di Singapura, Novel tengah menunggu operasi tahap dua untuk matanya. Operasi masih akan dilakukan di salah satu rumah sakit di Singapura yang juga menjadi tempat Novel menjalani operasi pertamanya.

Kepada detikcom, Novel mengatakan rencana operasi tahap dua itu akan dilakukan tim dokter pada akhir Januari 2018.

"(Operasi tahap dua) Menunggu selaput kiri yang sudah dioperasi kemarin tumbuh secara keseluruhan," sebut Novel, Senin (1/1/2018).

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan pertumbuhan mata kiri Novel belum maksimal, terutama di bagian putihnya. Padahal, bagian ini berfungsi memasok makanan pada bagian hitam.

Sementara, operasi bagian hitam mata baru dapat dilakukan setelah pertumbuhan bagian putih mata kiri maksimal.

Operasi tahap pertama Novel berlangsung pada 6 Desember 2017. Operasi dilakukan dengan menempelkan jaringan gusi pada mata kirinya.

MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.