Polisi sita tiga mobil pembunuh Salim Kancil

Sejumlah tersangka diperlihatkan saat gelar perkara kasus pembunuhan dan penganiayaan terkait dengan penambangan pasir ilegal di Lumajang di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Timur, Surabaya, Rabu, 30 September 2015.
Sejumlah tersangka diperlihatkan saat gelar perkara kasus pembunuhan dan penganiayaan terkait dengan penambangan pasir ilegal di Lumajang di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Jawa Timur, Surabaya, Rabu, 30 September 2015. | Fully Syafi /TEMPO

Kepolisian Daerah Jawa Timur menyita tiga mobil milik Kepala Desa Selok Awar Awar, Hariyono. Tiga mobil yang disitu itu Nissan Evalia, Toyota Fortuner, dan Toyota Rush. Selain itu, polisi juga memblokir rekening milik tersangka penyiksa Tosan dan pembunuh Salim Kancil ini.

Polisi menduga Hariyono melakukan tindak pidana pencucian uang.

"Semuanya akan dijadikan barang bukti," kata Kepala Bidang Humas Polda Jatim, Kombes Polisi RP Argo Yuwono seperti dilansir Jpnn. Penyidik, kata Argo, menduga mobil tersebut dibeli dengan uang yang diperoleh dari pungutan praktik tambang pasir liar.

Seorang polisi yang menolak namanya disebutkan mengungkapkan, mobil Toyota Fortuner warna putih keluaran terbaru itu dibeli bukan atas nama Hariyono.

Namun ia tak menyebut atas nama siapa mobil itu. Yang jelas Fortuner itu dititipkan ke teman Hariyono. Saat polisi akan menyita, sang teman yang dititipi mengakui mobil itu milik Hariyono.

Polres Lumajang menetapkan Hariyono sebagai tersangka pada 1 Oktober lalu. Hariyono, menurut Kapolres Lumajang Ajun Komisaris Besar Fadly Munzir Ismail, terbukti terlibat dalam penganiyaan dan penyiksaan yang menyebabkan Salim Kancil tewas dan Tosan menderita luka berat.

Tak hanya menjadi tersangka pembunuh Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan, Hariyono juga menjadi tersangka penambang pasir liar.

Dari hasil penambangan liar yang dilakukan sejak 2014 ini Hariyono dapat menghimpun pendapatan miliaran rupiah dari pasir ilegal di Pantai Watu Pecak. Pendapatan ini diperoleh dari adanya tambang seluas 10 hektare di desa di Kecamatan Pasirian, Lumajang itu.

Uang itu diduga digunakan Hariyono untuk membangun rumah di desanya dan juga membeli sejumlah mobil.

Tak hanya untuk kepentingan pribadi, uang itu juga diberikan ke

kepada anggota Kepolisian Sektor Pasirian, Koramil Pasirian, Perhutani, Camat, Tim 12, serta orang yang datang ke kantor kepala desa dan mengaku wartawan.

"Kami memberikan insentif, karena merasa kepala desa adalah mitra polisi, mitra muspika," kata Hariyono saat memberikan kesaksiannya di sidang disiplin ketiga anggota Polsek Pasirian seperti dilansir Detik.com.

Hariyono mengatakan, Kapolsek Pasirian mendapatkan Rp1 juta per bulan. Kanit Reskrim, Babhinkamtibmas, dan Babinsa masing-masing mendapat Rp 500 ribu perbulan. Sedangkan Danramil dan Camat Pasirian mendapatkan Rp 1 juta setiap bulan.

Kades juga memberikan uang sebesar Rp 2,5 juta per bulan ke pegawai Perhutani sebagai pendamping LMDH.

"Ada anggota dewan bernama Sugiantoko, pinjam uang Rp3 juta sampai sekarang belum dikembalikan. Selain itu juga ada uang sangu dewan," kata Hariyono di hadapan majelis sidang Propam dipimpin Kompol Iswahab, Wakapolres Lumajang seperti dikutip Vivanews.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR