BURUH MIGRAN

Polisi tahan 3 perekrut Adelina, TKI yang tewas di Malaysia

Ibunda Adelina Sau saat melihat peti yang berisi jasad Adelina itu tiba di bandara El Tari Kupang, NTT, Sabtu (17/2/2018).
Ibunda Adelina Sau saat melihat peti yang berisi jasad Adelina itu tiba di bandara El Tari Kupang, NTT, Sabtu (17/2/2018). | Kornelis Kaha /AntaraFoto

Adelina Jemira Sau (tertulis Adelina Lisao pada paspornya), tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tewas di Malaysia pada 10 Februari lalu, diduga merupakan korban sindikat perdagangan manusia.

Terkait dengan kasus tersebut, polisi telah menangkap dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka yang merekrut Adelina untuk menjadi tenaga kerja ilegal di negeri jiran.

"Kami akan mulai dengan mengejar kasus TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang)-nya. Lebih dari satu orang telah kita amankan. (Status kewarganegaraan para tersangka) WNI sementara ini," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (27/2/2018), seperti dilansir detikcom.

Ada tiga orang yang ditangkap. Mereka terdiri dari satu perempuan dan dua lelaki berinisial OB, FL, dan HP. Ketiganya adalah warga lokal Timor Tengah Selatan (TTS) yang diduga kerap mendatangi dan memberikan uang kepada sejumlah keluarga untuk ditawari pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda NTT, Kombes Jules Abraham Abast mengatakan kepada Kompas.com (26/2), bahwa FL ditangkap di indekosnya di Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, lalu HP ditangkap di rumahnya di Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang. Keduanya ditangkap pada Rabu (14/2).

Sedangkan OB ditangkap di rumahnya di Desa Abi, Kecamatan Oenino, Kabupaten TTS pada Minggu (18/2).

Tersangka FL diketahui sebagai ibu rumah tangga, sedangkan HP adalah kepala Cabang PT Asfiz Langgeng Abadi yang bergerak di bidang ketenagakerjaan, dan OB adalah petani di Desa Abi.

Saat ini ketiganya masih ditahan di Rutan Polres TTS guna penyelidikan lebih lanjut.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres TTS, Inspektur Satu Yohanes Suhardi juga menambahkan, bahwa saat ini polisi juga telah mengantongi bukti transaksi elektronik sebesar Rp5 juta kepada tiga tersangka tersebut. Uang itu kemudian dibagi di antara para tersangka dan untuk membayar keluarga Adelina.

Polisi menduga uang tersebut berasal dari kelompok orang atau perusahaan yang kemudian menjadi penyalur Adelina ke Malaysia. Kelompok ini juga yang diduga membuatkan paspor bagi Adelina untuk masuk ke negeri jiran sebagai pekerja ilegal.

"Masih ada beberapa orang yang sedang dikejar. Di sini (NTT) memang hanya perekrut. Yang lainnya di Jakarta dan Jawa," kata Yohanes seperti dikutip Tempo.co (28/2).

Dari hasil penyidikan, Kantor Imigrasi Kelas II Blitar, Jawa Timur, pun diketahui telah menerbitkan paspor atas nama Adelina Lisao.

Temuan ini juga menggerakkan polisi untuk terus mengumpulkan data terkait dugaan pemalsuan data. Sebab, menurut Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Blitar Muhammad Akram, saat mendaftar dokumen Adelina seperti kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), dan akta kelahiran lengkap dilampirkan.

"Sekarang kami lagi mengumpulkan data terkait dengan ini. Adelina memang mengajukan permohonan jasa pengurusan paspor sebelum 2013 di pelayanan keimigrasian melalui biro jasa," ucap Akram pada Selasa (27/2).

Dugaan adanya perdagangan manusia diperkuat oleh keterangan sang ibu Yohana Banunaek dalam wawancaranya dengan Tempo.co, Senin (26/2). Perempuan Desa Abi, Kecamatan Oenino, Timor Tengah Selatan, itu selalu menolak ajakan calo yang mendesak agar Adelina bekerja di Malaysia.

"Saya tidak setuju," tegasnya.

Namun, para calo itu membawanya secara diam-diam saat sang ibu tengah bekerja di ladang. Sebagai imbalannya, calo memberikan uang sebesar Rp200 ribu kepada Yohana.

"Kami diberi Rp200 ribu, padahal kami sudah menolak Adelina dibawa ke Malaysia," kata sang ibu.

Yohana juga menceritakan bahwa puterinya pernah bekerja di Malaysia pada 2014-2015, dan sempat pulang kampung. Meski begitu, dia tidak tahu berapa gaji yang diterima Adelina selama bekerja di Malaysia. Adelina tak pernah memberitahunya.

Adelina Sau diduga meninggal akibat siksaan sang majikan di Penang, Malaysia, pada Minggu (10/2). Tiga majikannya kini sudah ditangkap dan terancam hukuman mati jika terbukti melakukan pembunuhan, sesuai dengan Pasal 302 Hukum Pidana Malaysia tentang pembunuhan.

Jenazah Adelina telah diterima oleh keluarga dan dimakamkan di kampung halamannya, Desa Abi, Timor Tengah Selatan, pada 17 Februari.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR