PILPRES 2019

Polisi tangkap tiga perempuan terduga pelaku kampanye hitam

Foto Ilustrasi. Warga mengangkat poster bertulis penolakan terhadap hoaks menjelang Pemilu 2019 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/2/2019). Aksi tolak hoaks tersebut digelar untuk mewujudkan pesta demokrasi yang aman dan damai.
Foto Ilustrasi. Warga mengangkat poster bertulis penolakan terhadap hoaks menjelang Pemilu 2019 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/2/2019). Aksi tolak hoaks tersebut digelar untuk mewujudkan pesta demokrasi yang aman dan damai. | Hafidz Mubarak /Antara Foto

Kepolisian Resor (Polres) Karawang dan Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat (Jabar) menangkap tiga orang perempuan. Mereka ditangkap terkait peredaran video yang diduga berisi kampanye hitam terhadap calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Minggu (24/2/2019), sekitar pukul 23.30 WIB.

Mereka yang diringkus adalah ES (39) warga Babakanmaja; IP (36) warga Kalioyod, Karawang; dan CW (38), warga Perumnas Bumi Telukjambe, Karawang, Jabar.

Ketiganya ditangkap di rumah masing-masing oleh personel Kriminal Khusus Polres Karawang. Saat dikonfirmasi, Kapolres Karawang AKBP Nur Edi Irwansyah Putra mengatakan ketiganya ditangkap sebagai tindakan preventif kepolisian.

Polisi langsung membawanya ke Polda Jawa Barat untuk penyelidikan lebih lanjut. "Ada tiga (ibu-ibu) diamankan oleh Polres Karawang bersama Polda Jabar," ungkap Kapolres Karawang Ajun Komisaris Besar Nuredy Irwansyah Putra kepada CNNIndonesia.com, Senin (25/2).

Penangkapan tiga ibu-ibu itu dilakukan menyusul peredaran sebuah video berdurasi 53 detik yang viral di media sosial. Mereka berbicara dalam bahasa Sunda saat kampanye door to door.

Videonya tersebar di berbagai platform. Namun konten dalam video dianggap sebagai kampanye hitam terhadap Jokowi.

Dalam video terlihat dua ibu mengimbau seorang lelaki tua untuk tidak memilih Jokowi. "Moal aya deui sora azan, moal aya deui nu make tieung. Awewe jeung awene meunang kawin, lalaki jeung lalaki meunang kawin," kata perempuan di video termaksud.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia: "Suara azan di masjid akan dilarang, tidak akan ada lagi yang memakai hijab. Perempuan sama perempuan boleh kawin, laki-laki sama laki-laki boleh kawin."

Berdasarkan pantauan di Twitter, video tersebut pertama kali diunggah oleh akun xena the warior princess @citrawida5 pada 13 Februari 2019 seperti terlihat dalam tangkapan layar akun el diablo @MemeTanpaHurufK, Minggu (24/2). El diablo juga mengunggah foto perempuan yang disebut-sebut Citra Wida. Dari akun Facebook Citra Wida tertera alamat sebuah rumah di Karawang.

Terpisah, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyatakan sejumlah emak-emak di Karawang yang berkampanye tentang "azan dilarang dan diperbolehkannya nikah sejenis jika Jokowi menang" merupakan relawan Prabowo-Sandi.

Juru bicara BPN, Ferdinand Hutahaean, mengatakan para emak-emak itu tergabung dalam relawan Pepes. "Mereka itu dari relawan Pepes. Saya tidak tahu kepanjangannya apa. Tapi mereka memang dari Pepes. Mereka sudah dapat sertifikasi dari BPN," kata Ferdinand, Senin (25/2).

Pepes adalah akronim dari Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi. Namun Ferdinand mengaku tidak tahu siapa dalam tubuh BPN yang mensertifikasi Pepes sebagai bagian dari relawan Prabowo-Sandi.

"Prabowo tidak menandatangani langsung. Relawan itu disertifikasi bisa oleh Ketua (BPN), Wakil Ketua, Direktur Relawan," ujar Ferdinand.

Lebih lanjut Ferdinand menegaskan BPN tidak mengarahkan isu kepada para relawan termasuk Pepes. Isu yang diangkat para relawan di berbagai daerah, menurut Ferdinand, dibahas secara mandiri oleh relawan itu sendiri. Meski demikian Ferdinand menolak jika kampanye emak-emak di Karawang itu dikategorikan sebagai kampanye hitam.

Sementara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin telah melaporkan kampanye hitam tersebut. Tim sukses pasangan peserta Pilpres 2019 nomor 01 itu menduga, cara ini dilakukan secara sistematis.

"Kami menduga kampanye hitam seperti ini tidak terjadi di satu-dua tempat. Kami akan melaporkan kepada pihak kepolisian dan pihak yang terkait lainnya cara-cara dan materi kampanye seperti ini," ujar Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily.

Selain melaporkan ke polisi, TKN Jokowi-Ma'ruf Amin juga berencana mencari tahu asal-usul hoaks tersebut. "Kami akan menelusuri siapa yang melakukan kampanye hitam tersebut. Dari mana ibu-ibu ini mendapatkan informasi dengan mengampanyekan hoaks dan fitnah keji seperti ini," tukas Ace.

Alamat palsu pemilik akun

Video yang diunggah akun Twitter @Citrawida5 mencantumkan alamat di Perumahan Gading Kelurahan Karawang Wetan, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang.

Setelah ditelusuri Merdeka.com bersama Ketua RW dan RT setempat, alamat yang tertulis di akun Twitter @Citrawida memang ada. Namun pemiliknya bukan seperti perempuan di Twitter itu karena bernama Aswandhi (40).

Ketua RW 29, Dikdik, mengatakan alamat yang dicari benar adanya. Namun pemilik rumah bukan seperti foto yang ada di media sosial, tapi milik Aswandhi dan dia tidak merasa punya akun media sosial facebook atas nama Citra Wida.

"Nama pemilik akun tidak ada dan tidak tinggal di wilayah RW 29," kata Dikdik, Minggu (24/2).

Dikdik menjelaskan telah ditelusuri dan ditanyakan kepada ibu-ibu lingkungan RT 04, tapi tidak ada yang mengenalnya sama sekali. Pemilik rumah yang alamatnya dicatut juga tidak mengenal orang seperti di akun Twitter tersebut.

"Sudah dicek ke lapangan, namun tidak sesuai dengan pemilik akun tersebut," jelasnya.

Ketua RT 04, Amarta, mengatakan kenal baik dengan pemilik rumah yang alamatnya dicatut. Dia sama sekali tidak terlibat politik apalagi menyebarkan video yang menyesatkan umat Islam.

"Dia sibuk urus usaha laundry, tidak ikut-ikutan politik," pungkasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR