Polisi tetapkan tersangka kasus sumur minyak ilegal di Aceh

Petugas Pertamina mendeteksi gas dengan menggunakan Gas Detector di titik ledakan semburan api sumur minyak ilegal di Desa Pasir Putih, Ranto Panjang Peureulak, Aceh Timur, Kamis (26/4/2018).
Petugas Pertamina mendeteksi gas dengan menggunakan Gas Detector di titik ledakan semburan api sumur minyak ilegal di Desa Pasir Putih, Ranto Panjang Peureulak, Aceh Timur, Kamis (26/4/2018). | Rahmad /Antara Foto

Hampir sepekan setelah meledaknya sumur pengeboran minyak di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, kepolisian setempat telah menetapkan tersangka pada kasus tersebut. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) juga terus berupaya menghentikan semburan dan membersihkan lingkungan.

Kapolres Aceh Timur, AKBP Wahyu Kuncoro, Minggu (29/4/2018), mengumumkan lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka kegiatan ilegal tersebut. Mereka adalah B (51), F (34), Z (39), J (45), dan A alias D (35).

Dari lima tersangka tersebut empat telah ditahan, sementara satu orang meninggal dunia di tempat kejadian, yaitu A alias D.

Dituturkan Antaranews, B adalah keuchik (kepala desa) Pasir Putih yang memberi izin pengeboran tersebut. Ia meminta imbalan uang Rp5.000 dari setiap drum minyak yang dihasilkan. Sementara F adalah ketua pemuda setempat yang tugasnya mendata dan mengumpulkan hasil setoran dari penambangan ilegal tersebut.

J adalah pemilik lahan, sementara Z berperan sebagai penyandang dana pembangunan situs pengeboran minyak ilegal yang ledakannya pada Rabu (25/4) memakan korban jiwa 21 orang, 39 orang cedera, dan lima rumah terbakar.

Beberapa barang bukti terkait kasus tersebut juga telah diamankan, termasuk alat pengebor dan sembilan sepeda motor.

"Selain menetapkan 5 tersangka, kita juga mengamankan 30 item barang bukti dalam kasus ini, termasuk 4.000 liter minyak mentah," ungkap Kapolres.

Semua barang bukti tersebut saat ini dititipkan pada tempat penampungan milik PT Aceh Timur Kawai Energi di Kecamatan Ranto Peureulak.

Para tersangka tersebut dijerat dengan pasal 23 juncto pasal 53 huruf (a) Undang-Undang No 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, serta pasal 55 KUHP.

Pasal 23 UU 22/2001 mengatur tentang badan usaha kegiatan hilir, termasuk minyak dan gas bumi, yang harus mendapat izin usaha dari pemerintah, termasuk izin pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, dan niaga.

Sementara pasal 53 huruf (a) menyatakan pengolahan tanpa izin diancam pidana dengan hukuman maksimal lima tahun penjara atau denda Rp50 miliar.

Pasal 55 KUHP berisi tentang penyertaan dalam pidana dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

"Keempat tersangka yang diamankan terus dilakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan, sementara minyak mentah yang terus keluar dari sumur diminta pada pihak Pertamina menyedot dan menyimpannya sebagai barang bukti," kata Wahyu.

Menanggapi penetapan tersangka tersebut, Ketua LSM GeMPAR (Gerakan Masyarakat Partisipatif Aceh), Auzir Fahlevi, meminta agar proses penegakan hukum tersebut tetap memperhatikan prinsip humanisme.

Dikutip AcehTrend (30/4), Auzir meminta agar polisi juga menindak seluruh orang yang terlibat dalam pengeboran minyak ilegal tersebut, bukan hanya keuchik dan warga desa.

"Jangan kepala desa yang dikorbankan atau beberapa orang saja, sedangkan aktor utama dari oknum-oknum tertentu yang juga ikut menikmati hasil atas usaha yang diklaim ilegal itu justeru bebas berkeliaran," tegasnya.

Selain itu, GeMPAR juga menginginkan agar Pemerintah Aceh membuat aturan yang lebih mengakomodasi kepentingan masyarakat dalam hal penambangan minyak tersebut sehingga statusnya tak lagi ilegal dan dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keamanan.

"Di satu sisi secara hukum kasus pengeboran minyak di Ranto Peureulak, Aceh Timur, melanggar UU Migas alias ilegal, tapi di sisi lain kasihan dengan keadaan masyarakat setempat yang selama ini sudah menggantungkan sumber pendapatan dan ekonominya pada bidang itu," jelas Auzir.

Gubernur Aceh Irwandi Yusuf juga mengakui bahwa dia kesulitan untuk menertibkan pengeboran minyak ilegal. Karena pengeboran menjadi sumber pencarian masyarakat setempat.

"Kalau kita mau tutup, untuk sementara mungkin ditutup. Sampai kita menemukan formula yang tepat," kata Irwandi Yusuf, dikutip Liputan6.

Upaya pembersihan

Petugas Pertamina mengawasi saluran pembuangan cairan minyak (Lesser) yang dialirkan dari lubang ledakan sumur minyak illegal warga di Desa Pasir Putih, Ranto Panjang Peureulak, Aceh Timur, Kamis (26/4/2018). Pembuangan cairan minyak mentah dengan sistem lokalissasi bendungan dan penyedotan dengan mobil tangki itu dilakukan agar minyak tidak menggenangi permukiman, lahan pertanian, dan memicu kobaran api.
Petugas Pertamina mengawasi saluran pembuangan cairan minyak (Lesser) yang dialirkan dari lubang ledakan sumur minyak illegal warga di Desa Pasir Putih, Ranto Panjang Peureulak, Aceh Timur, Kamis (26/4/2018). Pembuangan cairan minyak mentah dengan sistem lokalissasi bendungan dan penyedotan dengan mobil tangki itu dilakukan agar minyak tidak menggenangi permukiman, lahan pertanian, dan memicu kobaran api. | Rahmad /Antara Foto

Kepala BPBA Teuku Ahmad Dadek, menyatakan sejak Jumat (27/4), Pertamina mulai menyedot minyak bercampur air yang keluar dari sumur tersebut. Komposisi cairan yang ke luar adalah 85 persen air, sisanya minyak. Selain itu, aroma gas juga masih terasa di seputar situs tersebut.

Cairan yang disedot itu, kata Dadek kepada Tribunnews, dibawa ke tempat penampungan milik Pertamina agar tidak meluber mencemari area persawahan Desa Pasir Putih.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, Syahrizal Fauzi, saat ini ada tiga mobil tangki yang digunakan untuk mengangkut tumpahan minyak mentah tersebut. Dua unit milik PT Pertamina EP Rantau, sementara sebuah lagi milik PT Medco EP Malaka.

Syahrizal menjelaskan, hingga Senin (30/4), semburan masih terjadi dengan ketinggian antara 10-15 meter dari permukaan tanah.

BPBA dan BPBD saat ini tengah memetakan kawasan untuk mengurangi kemungkinan pencemaran dan memulai langkah untuk menutup sumur tersebut secara permanen.

Warga yang tinggal di sekitar sumur tersebut pun telah diungsikan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR