PEMILU 2019

Politik genderuwo ala Jokowi

Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (8/11/2018).
Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebelum memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (8/11/2018). | Wahyu Putro A /Antara Foto

Pembagian sertifikat tanah oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam dua bulan ini memunculkan istilah baru yang memancing polemik. Setelah frasa "politikus sontoloyo", Jokowi kini memunculkan istilah "politik genderuwo".

Istilah politik genderuwo disampaikan Jokowi ketika memberikan sambutan pada penyerahan 3.000 sertifikat tanah untuk warga Tegal dan sekitarnya, di GOR Tri Sanja, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018). Sama ketika Jokowi menyebutkan kata sontoloyo dalam pembagian sertifikat tanah di Kebayoran Lama, Jakarta, 23 Oktober.

Jokowi mengatakan, sekarang ini banyak politikus yang pandai mempengaruhi, tidak menggunakan etika, dan tidak memakai sopan santun dalam berpolitik. Para politikus itu, kata Jokowi, melakukan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, dan mengundang kekhawatiran.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Membuat ketakutan. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti, politik genderuwo," kata Jokowi dilansir laman Sekretariat Kabinet.

Jokowi mengingatkan praktik politik genderuwo sangat berbahaya. Propaganda ketakutan menciptakan suasana ketidakpastian lalu menciptakan munculnya keragu-raguan di kalangan masyarakat.

Jokowi mengingatkan, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Penduduk Indonesia sekarang mencapai 263 juta orang, dengan 714 suku, dan 1.100 lebih bahasa.

Jokowi mengatakan pemilihan umum jangan sampai memunculkan perpecahan hanya karena berbeda pilihan. "Jangan sampai tidak rukun, tidak bersatu, menjadi pecah gara-gara pilihan presiden, pilihan gubernur, pilihan bupati," ujar Jokowi.

Jokowi tak menyebutkan politikus yang mewakili genderuwo itu. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) genderuwo adalah hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat.

Politik genderuwo ala Jokowi itu dijabarkan lagi oleh Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding. Politik genderuwo, kata Karding, biasanya bermain propaganda sehingga perasaan rakyat menjadi tak menentu.

Politikus, kata Karding, semestinya membuat tenang, nyaman, bergembira dan senang. Karding menyebut politikus yang menebar ketakutan dalam berpolitik adalah yang dimaksud dengan politik genderuwo.

Jokowi, menurut Karding, sedang mengajak masyarakat untuk memiliki optimisme. "Jadi kalau, Pak Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang agitator dan propagandis terkait hal-hal yang menakutkan," kata Karding melalui Detikcom. "Mungkin salah satu yang disebut, yang dimaksud salah satunya Pak Prabowo."

Dalam beberapa kesempatan, Prabowo selalu menyisipkan isu kemiskinan dalam pidatonya. Prabowo pernah menyatakan 99 persen warga Indonesia hidup pas-pasan, kekayaan yang bocor seribu triliun, utang mencapai Rp9 ribu triliun, sampai Indonesia bubar 2030.

Pendamping Prabowo, Sandiaga Uno, juga sering menyoroti persoalan ekonomi seperti harga makanan di Jakarta yang lebih mahal dibandingkan dengan Singapura sampai tempe setipis ATM.

"Ada memang politik genderuwo, genderuwo bukannya hantu gitu? Nggak ada bentuk gitu? Atau ada bentuknya tapi gede?" kata Sandiaga dilansir Detikcom, usai menghadiri Deklarasi Nasional Dukung Prabowo-Sandi di GOR Tangerang, Kota Tangerang, Banten, Jumat (9/11/2018).

Sandi mengatakan tidak ingin terbawa narasi-narasi politik seperti ungkapan politik genderuwo. Sandi mengatakan Pemilu 2019 nanti merupakan kesempatan untuk memperbaiki ekonomi.

Sementara juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Faldo Maldini percaya bahwa istilah itu bukan dialamatkan untuk mereka.

Faldo mengatakan istilah politik genderuwo tak cocok dituduhkan ke kubu Prabowo yang mengusung politik kerjo legowo. Faldo mencontohkan slogan Sandiaga "empat as", yakni kerja keras, ikhlas, cerdas, dan tuntas. Faldo menilai ucapan Jokowi ditujukan bagi orang yang suka mencaci maki, dari pendukung Jokowi-Ma’ruf maupun pendukung Prabowo-Sandi.

BACA JUGA